2

Smaradhana 2


Aku tergagap bangun saat merasakan cairan yang cukup deras menampar wajahku, cairan yang sengaja diguyurkan oleh seseorang ke tubuhku secara sekaligus dan kasar

Seseorang itu aku yakin seorang pria usianya kukira sepantar denganku, aku tak dapat melihat wajahnya dengan jelas karena ia membelakangi cahaya dan menggunakan topi aku hanya melihat siluet hidung dan mulutnya saja dan aku melihat bibir si pria itu seperti tertutup darah kering, entahlah sepertinya bekas sariawan yang parah. Pria itu berjongkok mendekatiku dan mengatakan sesuatu penuh emosi dekat sekali dengan wajahku, namun aku tak mendengar jelas apa yang ia katakan, telingaku berdengung akibat kemasukkan cairan tadi.

Aku tak mengerti mengapa tanganku terikat kebelakang dan mengapa tubuhku basah begini? aku berusaha mengingat hal terakhir sebelum aku berada disini namun sia-sia aku tidak dapat mengingat apa-apa dikarenakan kondisi tubuhku yang teramat sangat letih, antara lapar, haus dan ketakutan semua bercampur menjadi satu, dan diantara sadar dan tidak aku bertanya pada pria yang menyiram tubuhku tadi;

“siapa kau?”

“dimana ini?”

“apa salahku?”

Alih-alih mendapat jawaban, pria itu mengambil lagi seember cairan dan menyiramkan ke tubuhku dan ke sekeliling ruangan, kali ini aku menyadari cairan apa yang sedari tadi mebasahi tubuhku ini, aroma cairan ini yang sangat khas jika kita sedang berada di stasiun pengisian bahan bakar kendaraan. Ya! Cairan ini cairan bensin!

Sesaat aku melihat ke arah si pria itu, dia sedang sibuk merogoh kantong jaket dan saku celananya aku yakin betul dia sedang mencari korek api. Sial! dia akan membakarku hidup-hidup!

*

Hari ini adalah tepat 3 bulan lamanya aku tinggal di kota metropolitan ini, kota yang konon katanya tidak pernah tidur, kota yang selalu semarak dengan hingar bingar kehidupan dan kemacetan yang tidak dapat dihindari baik itu di jam pulang kantor maupun diluar jam kantor, kota yang juga memiliki tingkat kriminalitas paling tinggi, kriminalitas yang disebabkan oleh jurang kesenjangan yang cukup dalam antara si miskin dan si kaya. Ya, itulah Jakarta, selalu ramai dan penuh dinamika disetiap detiknya.

Kekasihku sudah 3 bulan lebih dulu menginjakkan kaki di Jakarta ini, saat ini dia bekerja sebagai perawat di Rumah sakit di daerah Jakarta Selatan. Seharusnya kami pergi bersama-sama ketika hijrah ke Jakarta ini,  pada awalnyanya aku mengajak kekasihku untuk pindah bekerja ke Jakarta, ajakanku ini karena aku diterima bekerja sebagai Surveyor Sipil di perusahaan kontruksi di daerah Cilandak, namun seminggu menjelang keberangkatan kami ibuku meninggal dunia, karena hal tersebut kekasihku berangkat lebih dulu dan aku berangkat menyusul setelah selesai mengurusi pemakaman ibuku bersama ayahku.

Di kampungku ayahku seorang penghulu agama Syiwa, sehingga ketika mendiang sang istri meninggal ayah menginginkan ritual kremasi untuk pemakaman istrinya. Kebetulan beberapa bulan sebelummnya ada beberapa warga yang juga meninggal dunia, keluarga yang ditinggalkan tersebut berdiskusi bersama ayah serta tetua lainnya dan sepakat melangsungkan upacara Ngaben secara massal, jenazah ibu yang sudah dikubur selama 12 hari kemudian dilaksanakan upacara Ngaben bersama jenazah-jenazah lainnya, selesai prosesi upacara adat Ngaben dan segala macam ritual adat lainnya barulah aku pamit kepada ayah dan adik-adikku untuk berangkat ke Jakarta.

Hal pertama yang aku lakukan ketika menginjakkan kaki di Jakarta hanya dua yaitu; membeli kipas angin baik kipas angin standar berdiri maupun kipas angin elektrik yang dapat kubawa kemana pun aku pergi dan jika mati aku hanya perlu mengganti baterainya tipe AA sebanyak 2 biji, hal lainnya adalah mengunjungi kekasihku, bagaimanapun aku merasa tidak enak kepadanya, aku yang mengajak hijrah tapi ia yang tiba duluan dan mengurus segala keperluannya sendirian.

Aku merasa lega setelah bertemu dengan kekasihku dia baik-baik saja, maksudku dia betul-betul tidak kesal sedikitpun terhadapku, darimana aku yakin akan hal itu? aku mengetahui dari senyumnya, senyum yang aku kenal sejak kami SMA, dia memiliki senyum yang tulus dan sikapnya yang penyabar, maka ketika hari wisudaku tiba aku meminta dia untuk menjadi PW (pendamping wisuda)-ku dan saat itu pula lah aku memberanikan diri menyatakan cintaku, kami pun berpacaran hingga sekarang sudah 2 tahun lamanya.

Sepulang makan bersama kekasihku, dia menunjukkan tempat dia bekerja dan kost-an nya selama di Jakarta ini, setelah tiba di depan kosannya, dia menunjuk jendela paling kiri  yang dia sebut sebagai kamarnya, dia pun mengenalkanku kepada pemilik kost bahwa aku adalah kekasihnya sedari kuliah. Pemilik kostan mengingatkan kepada kami bahwa tidak boleh membawa masuk laki-laki kedalam kamar juga tidak boleh membawa hewan peliharaan berupa anjing. Meskipun baru kali ini aku menginjakkan kaki diluar pulau Dewata, namun aku cukup memahami peraturan umat muslim akan najisnya air liur anjing dan wanita yang tidak boleh menunjukkan rambut atau auratnya dihadapan lelaki yang bukan suaminya. Pak Haji Dadang pun pamit masuk kedalam dan meninggalkan kami yang tengah duduk di teras kostan. Aku pun merasa lega untuk kedua kalinya saat mengetahui kostan kekasihku berada dalam lingkungan yang baik, hari sudah sore sang surya mulai terbenam dan menyisakan lembayung indah dengan semburat keemasaanya di ufuk barat aku pun pamit kepada kekasihku untuk kembali ke mess-ku.

Ternyata tindakanku untuk langsung menemui kekasihku di awal aku tiba disini ada benarnya, karena meskipun kami berada di kota yang sama, kami berdua sama-sama sibuk oleh kerjaan masing-masing, di akhir pekan kekasihku tidak libur, justru dia mendapat 2 shift sekaligus menggantikan temannya yang sedang hamil tua. Aku sendiri memiliki kesibukan proyek-proyek dengan deadline yang memaksaku sering lembur. Dua minggu setelah aku bergabung di perusahaan konstruksi tempatku bekerja, aku mendapatkan tugas untuk keluar kota di ujung Indonesia paling timur, disana kami akan membuat tank bola di dalam laut perkiraan waktu untuk mengerjakan proyek tersebut adalah 2 bulan. Dalam hal ini aku perlu menemui kekasihku untuk pamitan sekaligus mengajak sembahyang bersama, kekasihku mengajak muspa di Wira Dharma Samudra, katanya Pura ini dekat tempat kerjanya di daerah Fatmawati yaitu di komplek marinir di daerah cilandak juga dan benar saja kami hanya perlu berjalan kaki menuju Pura ini dari Rumah Sakit tempatnya ia bekerja.

Saat kami memulai muspa, aku memusatkan pikiran kepada Dewata Agung dan harum asap dupa menenangkan bathinku semakin khusyu‘ aku melantunkan doa-doa pujian hingga aku merasakan adnjana sandhi, aku menghaturkan doa-doa kepada Hyang Widhi, sayup-sayup aku mendengar kekasihku menyanyikan sebuah Kidung Warga Sari;

Purwakaning angripta rumning wana ukir.
Kahadang labuh. Kartika penedenging sari.
Angayon tangguli ketur. Angringring jangga mure.

Sukania harja winangun winarne sari.
Rumrumning puspa priyaka, ingoling tangi.
Sampun ing riris sumar. Umungguing srengganing rejeng

“Tadi indah sekali” kataku memulai obrolan

“Hah? maksud bli’ pura di komplek marinir tadi?” jawab kekasihku polos

“Haha… bukan pura nya, tapi kidungmu tadi, itu indah sekali” kataku sambil menggandeng tangannya untuk menyebrang bersama

“Ah, bli’ bisa saja, aku jadi malu. Tapi terimakasih pujiannya bli’ “ ujarnya sambil malu-malu

“Sama-sama… Kamu nanti jangan rindu aku terus ya, bagiku kamu sudah menggenggam separuh hatiku, biarkan aku yang selalu merindumu” godaku lagi sambil tertawa

“Bli ini bicara apa sih? Malah membuatku tambah malu” katanya sambil menunduk

“Yasudah, aku pamit pulang ya, terimakasih untuk hari ini, aku usahakan selama aku di proyek aku akan selalu menghubungimu, semoga disana ada sinyal untuk menghubungi mu”

Om Swatiyastuu… Rahajeng wengi” kataku sambil dadah-dadah 

Om Swatiyastuu… ” jawab kekasihku lembut

**

“Teliliitt… teliliitt… teliliitt…teliliitt” aku langsung menyambar hapeku , di layar hape muncul nama kekasihku dan emoticon bunga mawar “Puspa Sukma @–>—“

“Hallo Pus?” aku menjawab telepon singkat

“Hallo bli? Bli bagaimana keadaanmu disana? Apakah semuanya baik-baik saja?” dengan suara agak terputus-putus

“Iya, kamu jangan khawatir aku dan tim ku baik-baik saja disini, bagimana denganmu? Apakah kamu baik-baik saja” kataku sambil berjalan menacari tempat yang lebih tinggi agar mendapat sinyal lebih bagus

 “Umm…. Bli, kukira aku merasa tidak enak hati bli” katanya dengan nada ragu-ragu

“Tenang Pus, aku tidak mungkin kepincut dengan gadis-gadis disini, lagipula kau sudah membawa separuh hatiku, kau ingat?” kataku mencoba menenangkannya

“Bukan seperti itu maksudku bli, tapi aku merasa ada seseorang yang sedang mengawasiku” kata Puspa dengan suara agak terputus-putus

“Biar saja kamu diawasi Pus, mungkin kamu akan dijadikan kepala Perawat oleh supervisor-mu” kataku enteng

“Bukan begitu bliiii’, bukan pengawasan di tempat kerjaku, tapi diluar seperti ketika aku hendak berangkat kerja begitu pula dengan pulangnyaa” kata Puspa dengan suara agak meninggi,

Seketika dudukku menegang, aku merasakan kepanikan dalam suara Puspa, lalu obrolan kami menjadi lebih serius;

Aku : Maksudmu seseorang sedang membututimu?

Puspa : Iya bli, aku seperti sedang diikuti seseorang

Aku : Apakah seseorang itu laki-laki?

Puspa : Entahlah bli, aku hanya merasa sedang diikuti, namun ketika aku menoleh aku tidak melihat ada orang mencurigakan, tapi aku betulan merasa sedang diawasi

Aku : Pus, kamu tenangkan diri oke? proyekku disini hampir selesai, 5 hari lagi aku segera pulang.

Puspa : Oke bli, maaf membuatmu khawatir, bli jaga kesehatan yaa, jangan lupa sembahyang.

Aku : Iya Pus, kamu juga jaga diri baik-baik. Doaku selalu menyertaimu.

Piip! telepon dimatikan, meskipun Puspa bilang untuk tidak khawatir tentu saja aku khawatir setengah mati, sebab Itu JAKARTA! kejahatan apapun dapat terjadi disana dan yang membuatku sebal adalah itu BUKAN BALI! aku tidak dapat meminta tolong siapa-siapa untuk menjaga Puspa yang sedang ketakutan disana. AARGGHH!! aku semakin kesal ketika pikiran negatif membayangiku aku takut hal yang tidak-tidak terjadi pada Puspaku. Aku pun segera sembahyang, memohon ampun melantunkan puja-puja kepada Dewata Agung untuk memberikan keselamatan untuk Puspa.

Perkiraanku untuk kembali ke Jakarta, meleset maju satu hari, aku lebih cepat sampai 4 hari dari dugaanku, sore tiba di Bandara aku bergegas ke mess untuk makan dan membersihkan badan secepat kilat dan langsung menuju ke tempat kerja Puspa, malam ini aku akan menjemputnya dan mengantarnya pulang ke kostan.

Puspa reflek memelukku ketika kami bertemu, suara Puspa sedikit bergetar ketika dia bilang dia sedang ketakutan, aku merasa kasihan untuknya, aku pun menawarkan untuk menjemputnya setiap ia pulang kerja, aku merasa itu sebagai bentuk tanggung jawab yang bisa aku lakukan karena aku sudah mengajak Puspa bekerja di Jakarta ini.

Seperti biasa sampai teras kost-an nya aku pamit pulang dan kami dadah-dadah sampai aku tidak terlihat di belokan ujung jalan kost-an khusus Putri itu. Entah hanya perasaanku yang sedang tidak enak atau memang aku kecapekan, aku merasa sangat tidak enak badan dan naluriku menyampaikan energi yang negatif, aku berusaha menghalau naluri negatif itu dan berfikir sepertinya aku akan flu atau masuk angin, entah mengapa pula aku masih menoleh kebelakang meskipun kost-an Puspa sudah tidak terlihat. Saat menoleh untuk kedua kalinya barulah aku membenarkan naluriku namun terlambat… sebuah tongkat bisbol menghantam pelipisku seketika akupun ambruk tanpa sempat membela diri.

***

Akhirnya setelah berusaha mengingat-ngingat kejadian terakhir, aku mengerti mengapa aku bisa sampai disini, aku pun mengerti siapa pria bajingan yang telah menyekap dan mengikatku ini, rupanya bajingan ini yang telah membuat gelisah Puspa selama 2 bulan terakhir ini.

Kondisiku saat ini sangat menyedihkan, sekujur tubuh dan bajuku basah tersiram bensin, aku berusaha mencari jalan keluar dari situasi yang membuatku tak berdaya ini, ketika aku berusaha mengambil potongan beling untuk membuka tali yang mengikat kedua tangan di belakang punggungku, tiba-tiba si pria itu mengumpat dan berbicara tidak jelas, aku refleks pura-pura memejamkan mata seolah pingsan.

” BRENGSEK! KOREKKU TERTINGGAL DI DALAM MOBIL” umpat si pria sambil memukul-mukul kepalanya sendiri

Pria itu berjalan melewatiku, sepatu boot-nya menginjak kakiku, aku kesakitan dan ingin menjeris namun aku tahan, karena aku tahu pria ini akan membatalkan niatnya mengambil korek begitu tahu aku sudah sadar.

Saat pria itu kelaur dari ruangan ini, aku bergegas mengambil potongan beling yang ada dekat kakiku, tanpa melihat aku berusaha mengiris tali yang mengikat kencang pergelangan tanganku.

Aku mendengar derap langkah kaki pria itu untuk masuk ke ruang gelap ini, sial! sial! aku tak cukup cepat membuka tali di tanganku ini. Akupun kembali terkulai bukan untuk pura-pura pingsan tapi aku merasa aku kalah mental dengan situasi yang aku hadapi  saat ini, bagaikan bebek yang siap disembelih aku hanya bisa pasrah, dalam hati aku hanya melantunkan doa-doa kepada Ida Sanghyang Widhi

Om Apasyam gopam anipadyamanam a ca para ca prthibhih carantam sa sadhricih sa visucir vasana” (Ya Tuhan! hamba memandang Engkau Maha Pelindung, yang terus bergerak tanpa berhenti, maju dan mundur di atas bumi. Ia yang mengenakan hiasan yang serba meriah, muncul dan mengembara terus bersama bumi ini),

Dan lagi aku membaca doa untuk segala marabahaya yang terjadi;

Om om asta maha bayaya, om sarwa dewa, sarwa sanjata, sarwa warna ya namah, OM atma raksaya, sarwa satru winsaya namah swaha”  (Oh SangHyang Widhi Wasa penakluk segala macam bahaya  dari segala penjuru, hamba memujamu dalam wujud sinar suci dengan beraneka warna dan senjata yang ampuh, oh SangHyang Widhi Wasa lindungilah jiwa kami, semoga semua musuh binasa)

Sambil tetap berusaha melepaskan tali di tanganku yang terikat kebelakang, namun semakin aku berusaha melepaskan tali yang terikat kuat di tanganku semakin sia-sia usahaku, tanganku bagaikan seekor tikus yang dimangsa ular, semakin meronta tikus itu semakin kuat belitan ular mencrengkramnya. Usaha melepaskan tali ini hanya membuat tanganku semakin terluka, beling yang aku gunakan itu malah  mengiris-ngiris tanganku .

Pria itu kini jongkok dihadapanku di tangannya tergenggam korek api, pria itu dengan kasar mencengkram kepalaku sambil berkata;

“gadis itu milikku! kamu sebaiknya pergi saja ke neraka!” dengan nada meremehkan dan menghempaskan kepalaku dengan kasar,

Dengan sisa-sisa tenaga yang ada aku hanya berkata lirih “Semoga Tuhan mengampunimu”

Mendengar perkataanku pria itu malah tertawa sangat keras membahana di ruangan yang hanya sekecil itu, ia pun bangkit berdiri dan bersiap-siap menyalakan korek, namun korek api itu sulit sekali untuk dinyalakan karena ia menggunakan sarung tangan, dia pun melepas sarung tanganya dan betapa mengerikannya beberapa kuku jemarinya terlepas meninggalkan jari-jemari yang buruk dan darah yang juga mengering.

“BRUAAAKK” tiba-tiba sebuah suara datang dari arah pintu, saat aku memicingkan mata dan berusaha melihat sosok di ambang pintu itu, mataku seakan tak percaya, sosok itu Pupsa!

Puspa kekasihku,dibelakangnya banyak orang menodongkan pistol dan senapan, rupanya dia datang dia datang bersama serombongan polisi. Gadis pintar, polisi mnyeruak masuk dan menodongkan senjata mereka dari berbagai sudut ke arah pria di hadapanku ini, seorang polisi melumpuhkannya dan pria itu kini berlutut dengan tangan dibelakang kepala, menyaksikan kejadian itu membuatku berlinang air mata, aku semakin lelah dan aku kehilangan banyak darah baik dari lengan dan kakiku, dalam keadaan seperti itu aku berterimakasih kepada Dewata Agung yang sudah mendengar doa-doaku lalu kepada Puspa sang belahan jiwaku aku sungguh mencintaimu Puspa Sukmaku, Puspa menghampiriku dia menyandarkanku dipelukannya, dia berulang kali memanggil-manggil namaku dengan wajahnya yang bercucuran air mata namun tetap terlihat cantik, akupun tersenyum saat memandang wajahnya,

“Bli Sapta… bangun bli ini aku”

“Bli Sapta kumohon sadarlah, kamu akan naik-baik saja sekarang, kau bersamaku sekarang bli”

suara itu seolah berdengung di kepalaku aku tak sanggup untuk menjawabnya tubuhku terlalu letih untuk tetap tersadar tubuhku merosot dan aku tak sadarkan diri di pangkuan Puspa, aku percaya perkataan Pusapa bahawa segala sesuatunya akan baik-baik saja, hanya saja tubuhku tak sanggup menahan rasa sakit dan beban kejadian ini, aku terlalu lemah namun atas segala rasa yang campur aduk itu aku merasakan kelegaan yang luar biasa lalu segalanya menggelap dan aku tak ingat apa-apa lagi.

*SELESAI*

 

10

SUPERNOVA


 

 

Perlahan aku menghampiri sesosok makhluk yang terkapar disemak-semak, sosok itu begitu aneh memiliki kepala yang lonjong dengan 2 tanduk mencuat serta matanya tidak memiliki pupil, namun yang lebih aneh aku merasa mengenali makhluk itu;

“Adek… ” aku memanggil diluar kesadarannku

Entah keyakinan dari mana, namun perasaan dan hatiku merasa sangat mengenali sosok makhluk yang kini berada di pangkuanku ini.

” Adek, apakah selama ini ayah bersamamu? ”

” Adek, kumohon bawa aku bersamamu, ajak aku bertemu ayah! ”

Aku terisak dan mengguncang tubuh “adek” dia lalu mengeluarkan suara namun terdengar seperti gelombang radio rusak ” Bzzz…. bbzzzz…. bzzzz”

Air mataku bercucuran sehingga membuat pandanganku kabur dan sekejap “sang adek” lenyap.

*

Zarah… Zarah… sadarlah kawan, seseorang memanggil-manggil namaku namun aku tak mengenalinya. Aku merasakan energi yang ditransfer oleh cewe mungil berwajah oriental ini, tiba-tiba mulutku bersuara “terimakasih Elektra”

Pandanganku beralih ke pria sebelah Elektra, aku tidak mengenalinya namun aku mampu memanggil namanya “Bodhi… ?”

Lalu sebuah suara berkata “ayo Zarah, kamu pemegang kunci itu sebaiknya kita bergegas”.

Alfa, maafkan aku kehilangan kamera pemberianmu, aku menginggalkannya di Apartemen pacarku Storm di London, uhmm… maksudku mantan pertamaku.

Tidak usah difikirkan, Dhimas sudah mengambilkannya untukmu. Ayo! Supernova lainnya sedang menanti kita di Bukit Jambul, bintang jatuh tidak akan menunggu kita selama itu.

**

 

 

 

 

 

14

Gadis Penjual Strawberry


“7 Mei 2015” dengan hati-hati aku menempelkan label tanggal tersebut pada sebuah toples bening di rak yang tersimpan pada sebuah gudang tua dekat perkebunan strawberry yang aku sulap menjadi ruangan serupa laboratorium.

Ruang laboratorium ku berisi alat-alat yang cukup lengkap seperti peralatan laboratorium Biologi selayaknya di kampus-kampus serta beberapa gelas kimia yang semuanya bersih mengkilap dan tertata sangat rapih. Aku menyimpan toples itu di rak bersama 5 toples lainnya sambil menempelkan 3 jari  untuk memberi jarak dengan toples sebelumnya agar semuanya berjarak dengan presisi, aku pun merapihkan toples ke-enam itu agar labelnya menghadap depan persis seperti toples-toples lainnya, setelah selesai menata aku memandang kesemua toples lalu tersenyum puas.

Waktu menunjukkan pukul 6.20 wib seperti biasa aku harus segera berangkat menuju pasar Rebo tempat aku menjual hasil panen strawberry selama setahun kebelakang ini, aku menjual strawberry yang aku tanam dengan cekatan dan penuh ketekunan.

Memang terlalu siang bagi pedagang yang berjualan di pasar jika baru keluar rumah pukul 6.20 pagi ketika pedagang lainnya berbondong-bondong membuka lapaknya pada pukul 4 subuh, bukannya aku tak perduli jika rezeki dipatok ayam, hanya saja situasi yang membuatku  untuk tetap berjualan pukul 7 pagi sedari awal aku berjualan di pasar.

Almarhum ibu mendidik ku sedari kecil untuk bangun lebih awal dari ayam yang berkokok,

“permalukan ayam-ayam itu dengan bangun lebih dulu, nak…”

selalu begitu nasehat ibu, aku memang menuruti nasehat ibuku dengan baik dan sudah menjadi kebiasaanku hingga kini di usiaku yang menginjak 24 tahun.

Aku berfikir orang tidak akan sepagi itu untuk membeli daganganku, lagipula strawberry yang ku jual dipasar ini adalah sisa dari panen yang telah aku titipkan ke beberapa supermarket dan toko khusus buah yang sudah menjadi pelanggan tetap selama 4 tahun ini, biasanya supermarket dan toko buah itu cermat sekali dalam memilih strawberry yang aku pasok setiap 3 hari sekali, bentuk yang tidak ideal dan warna merah yang agak pucat atau terlalu merah tidak akan diambil begitu pula dengan kelopak daun yang menempel di buahnya harus bagus dan berwarna hijau segar tidak boleh kehitaman, itulah sebab mengapa aku berjualan dipasar sesiang itu dan hanya membawa satu keranjang saja yang beratnya tak lebih dari 10 kilo.

Di setiap pasar pasti ada premannya, terlebih di pasar Rebo tempatku berjualan ini premannya terkenal garang dan sering main celurit jika berselisih paham, konon katanya bukan hanya preman saja tapi banyak pesakitan entah itu bandar narkoba, maling hingga tukang judi togel yang sering nongkrong di pasar itu tak heran jika polisi sering menyatroni pasar Rebo untuk menciduk pelaku kriminal yang meresahkan warga maupun para pedagang disitu.
Namun demikian aku tak gentar berjualan strawberry di pasar Rebo itu, aku fikir toh aku berjualan sebentar saja hanya dari pukul 7 pagi hingga pukul 12 siang, aku hanya merasa cemas jika digoda oleh lelaki yang sedang mabuk,

“Kusuma!”

Baru saja memikirkannya kecemasan itu terbukti, seorang pemuda dengan tubuh kurus kering kerontang yang tampaknya habis oleh berbagai jenis narkoba dan matanya yang merah tanda habis mabuk memanggilku yang sedang berjualan.

Ke arah laki-laki yang memanggilku itu aku hanya melemparkan senyum ramah ku,

“nanti pulangnya abang antar ya…”

“jangan mau Kusuma, dia tidak punya motor untuk mengantarmu, sama aku saja aku bisa mengantarmu tanpa kepanasan atau kehujanan, keranjangmu simpan saja di bak belakang mobilku bersama keranjang dan tong-tong ikanku kau tinggal duduk manis disebelahku” ujar penjual ikan yang berjarak 4 lapak dari tempat ku berjualan.

“Hahaha…” keduanya malah tertawa berbarengan

Aku pun kembali tersenyum dan menunduk malu. Tiba-tiba si lelaki yang mabuk itu memalingkan mukanya dan bergegas pergi, tak lama seorang ibu-ibu menghampiri daganganku,

“nona manis, strawberry ini sekilo nya berapa?”

“tiga puluh ribu bu…” jawabku sambil menyodorkan sebuah strawberry untuk dicicipi

“manis sekali strawberry ini, seperti yang jualnya…” ujar si ibu sambil memandangku

“terimakasih bu, saya sendiri yang menanam strawberry ini” aku berkata sambil agak menunduk malu

“Kalo ibu mau, silahkan berkunjung ke kebun strawberry saya, disana cukup membayar 25 ribu ibu bisa memetik sepuasnya” tambahku lagi

“25 ribu sepuasnya? boleh…boleh… saya mau, siang ini bisa?” ujar si ibu penuh semangat

Aku pun segera membereskan daganganku kebetulan jam menunjukkan waktu pukul 11.45 kami pun mulai berjalan bersama menuju lokasi kebun strawberryku.

*

Susah payah aku membaringkan tubuh si ibu di ruang laboratoriumku, ‘koleksi’ ku kali ini membuatku bekerja keras dari biasanya aku kwalahan dibuatnya tak diduga dia memliki tenaga yang cukup besar untuk ukuran tubuh sekurus itu dan dia juga membuat sodium thiopental cairan super mahalku berserakan di lantai, namun demikian berati pilihan ‘koleksi’ ku kali ini akan sempurna, aku tak sabar untuk melihat harta karunku.

Sebelum membedah harta karunku, aku menyiapkan serangkaian perlengkapan dimulai dari mengenakan kacamata lalu menjajarkan alat-alat operasi seperti bermacam-macam jenis pisau dan gunting selayaknya seorang dokter bedah ketika hendak membedah pasiennya dan tak lupa memakai sarung tangan lateks agar tetap steril saat menyentuh semuanya, ketika pisauku hendak menyentuh kulit yang berada tepat diantara tulang belikat aku merasakan gugup luar biasa yang memacu adrenalinku sehingga membuat tanganku gemetar tak terkendali, namun situasi seperti ini sudah dapat kuatasi dengan baik aku pun menuju radio kesayangan ibuku yang kini menjadi miliku setelah ibu meninggal, aku memainkan lagu kesukaanku yang juga menjadi lagu ritualku.

Sesaat aku menekan tombol ‘play’  sebuah suara milik penyanyi Hozier mengalun dan mengiringku “bekerja” aku pun kembali pada tubuh ‘koleksi’ ku lalu dengan satu sayatan tegas aku membuat garis vertikal sambil mulutku turut bernyanyi :

I was born sick

But I love it

Command me to be well

Amen, amen, amen, amen

Take me to church

I’ll worship like a dog at the shrine of your lies

I’ll tell you my sins and you can sharpen your knife

Offer me that deathless death

Good God, let me give you my life

Keesokannya aku membuat lagi label namun kali ini bertuliskan “6 Juni 2015 a masterpiece” sebuah jantung yang sehat dengan bentuk se ideal strawberryku dan warna merah indah seperti strawberry ku. Koleksi toples berisikan jantung-jantung ku kini berjumlah 7, tidak semuanya jantung manusia, 5 koleksi pertamaku berisi jantung-jantung dari hewan.

Tiga minggu setelah aku menemukan masterpiece-ku barulah aku berjualan kembali di pasar, tidak seperti biasanya kali ini aku sedikit berdandan aku berani menguncir rambutku, aku menata rambut dengan membuat kuncir ekor kuda dan poniku aku biarkan tergerai di dahiku seperti biasanya, entah bagaimana namun hari ini aku merasa sangat pede jalanku pun hampir melompat-lomat seolah sedang menari, pokoknya hari ini aku senang sekali.

Tiba di pasar aku menata strawberry-strawberry-ku dan sengaja aku membuat bentuk hati dari strawberry ku dan memajang di keranjang agar menarik minat pembeli. Suasana pasar saat itu aku sadari cukup tenang, aku celingak celinguk mencari pemuda kurus kering yang biasa menggodaku, tumben dia tidak terlihat batang hidungnya kataku dalam hati.

Aku pun kembali pada strawberry ku dan mengambil pisau untuk memotong tangkai lalu aku mengelap bagian-bagian yang kotor, tiba-tiba dari berbagai arah segerombolan orang menyergapku lalu salah satu dari mereka mendorongku hingga aku tersungkur ke tanah dan membuat bibirku berdarah, rasa asin kurasakan saat aku menjilat bibirku yang terasa perih, dari pandangankuu aku hanya mampu melihat sepatu-sepatu dari orang yang menyergapku rupanya mereka polisi.

Salah satu polisi menindihku dengan menduduki punggungku aku merasakan bagian belakang kepalaku ditekan oleh benda keras yang aku yakin itu pistol milik si polisi aku semakin tidak berkutik, lalu dengan sigap polisi-polisi lain menginjak kaki ku dan polisi lainnya lagi menendang tanganku yang masih menggenggam pisau sehingga membuat pisau ku terpental jauh, polisi-polisi itu meneriaki ku, membuatku sulit untuk menjawabnya satu persatu

“TIARAAAP!!”

“JANGAN BERGERAK!”

“JANGAN MELAWAN!!”

“DIMANA KAU MENYEMBUNYIKAN IBU ITU?!!”

Posisiku kini berlutut dengan tangan terborgol di belakang kepala lalu aku dipaksa untuk berdiri, bajuku kotor rambut ku beberapa terlepas dari kuncirannya, seorang polisi bergegas maju mendekatiku menggeledah tubuhku kali-kali ada senjata lain yang kusembunyikan namun nihil, polisi itu tidak menemukan apa-apa kecuali beberapa lembar uang dan receh logam pada saku celana jeans-ku.

Saat aku digiring dan berjalan diseret-seret kasar oleh polisi menuju mobil tahanan aku mendengar orang-orang di pasar saling meneriaki ku;

“MANUSIA KEJI!!!”

“PEMBUNUH!!!!”

“TAMPANG LUGU MU HANYA KEDOK!! BIADAB!!”

Dalam kawalan dan genggaman kuat polisi, ternyata ada celah yang membuat seseorang melayangkan celurit ke arahku, aku refleks melindungi kepalaku dan tangan yang menjadi tamengku terkena sabetan celurit itu seketika darah segar langsung mengucur dari lenganku dan menetes mengenai pipiku, polisi semakin menyeretku untuk berjalan lebih cepat kemudian polisi lain bergegas menahan orang yang melayangkan sabetan celurit kepadaku namun si pria celurit itu berusaha melepaskan diri dari cengkraman polisi sambil berteriak;

“Itu ibuku yang kau ajak kemarin!! kau apakan ibuku?!!”

aku menatapnya dari balik rambut-rambutku yang tergerai

“maaf, aku tak sengaja membunuh ibumu” jawabku sambil tersenyum tipis

“DASAR IBLISSSS!!!”

“MENGAPA TAK KAU BUNUH SAJA AKU!! DASAR KAU WANITA BINATANG!!!!”

“Jantungmu buruk” aku menjawab dengan santai dan tetap tersenyum

Si lelaki itu menangis meraung-raung melolong pilu dan aku makin tertawa mendengarnya.

Polisi berhasil memasukanku kedalam mobil tahanan sebelum masyarakat geram dan merebutku untuk main hakim sendiri.

Didalam mobil aku hanya tertunduk dengan tangan masih dibrogol kebelakang, dalam hati aku hanya berbisik yang hanya dapat aku dengar sendiri

“Bu, aku menemukan jantung yang sehat, ajak aku bersamamu sekarang “

Aku hanya bisa menitikan air mata dengan sambil tersenyum penuh makna yang tersirat yang bahkan aku pun tak dapat menyimpulkan apa-apa dari semua itu, dengan lirih aku berucap;

“Tuhan, maafkan aku…”

Pikiranku melayang aku merasa sangat letih lalu semuanya menggelap.

**

8

Menangis Dalam Hujan


Usiaku 16 tahun orang bilang aku masih bau kencur, aku sendiri baru mengetahui arti bau kencur ketika usiaku 10 tahun, saat itu aku sedang menemani nenekku di dapur, nenek memberiku 2 ruas serupa jahe untuk aku bersihkan, aku pun mengamatinya lekat-lekat.

“Cikur!” Suara nenek tiba-tiba
“Hah?” Kataku
“Kencur” kata nenek lagi
“Haahh??” Kataku semakin menganga
“Itu yang ditanganmu namanya kencur cu’, atau cikur kalau kata orang sunda”
“Kelas rhizoma ya nek?” Kataku lagi
“Hah?” Gantian nenek yang menganga
“Gunanya apa nek?” Kataku mengalihkan pertanyaan
“Yaa sebagai bumbu, membuat masakan harum dan citarasa”
“Iya nek, harumnya khas” kataku seraya memberikan kencur yang sudah dicuci kepada nenek, kemudian nenek langsung mengulek bersama bawang putih, garam dan ketumbar.

Itulah pengenalanku tentang ‘bau kencur’ yang betul-betul secara harafiah sekaligus kenangan terakhir bersama nenekku.
Sejak nenek meninggal saat aku berusia 12 tahun aku tinggal sebatang kara, ayahku lebih dulu meninggal ketika ibu sedang mengandungku dan ibuku sendiri meninggalkanku ketika aku berusia 12 bulan lalu menitipkan kepada nenekku.

Umumnya orang dewasa dikampungku bekerja sebagai TKI sedangkan anak perempuan mereka dibawa ke kota untuk ‘diajari’ cara mendapatkan uang yang banyak dan kembali ke kampung dengan wajah penuh pulasan make-up dan baju yang serba kecil seperti milik adik mereka, semua itu dilakukan untuk menghilangkan kepolosan dan keluguan para gadis ketika awal mereka berangkat ke kota.

Kami menyebutnya dengan ‘orang kota’ yang datang ke kampung kami untuk menjemput para gadis dan dibawa ke kota sebagai gantinya orang kota memberikan modal berupa uang jika anak gadis mereka sebagai tulang punggung keluarga, orang kota menjanjikan bahwa anak gadis mereka akan bekerja di kantoran  atau paling tidak jika hanya tamatan SD akan dijadikan baby sitter pokonya jenis pekerjaan yang halal. Biasanya setahun kemudian para gadis pulang kampung mendadak bermobil dan membawa banyak tas belanjaan serta oleh-oleh, ada juga yang tidak pulang namun mereka mengirimi keluarganya uang, lalu Koh’ Budi satu-satunya pedagang bahan bangunan di kampung kami mendadak laris, uang hasil jerih payah anak gadis mereka dipakai untuk merenovasi rumah. Ketika aku masih kecil aku ingin sekali lekas besar agar bisa merenovasi rumahku yang sudah 3 turunan ini menjadi bagus seperti warga lain dan bisa membeli kendaraan.

Dan disinilah aku anak gadis kampung yang dijemput oleh orang kota tanpa memberikan uang pengganti karena aku sebatang kara. Aku berusaha mewujudkan mimpi di kota ini dimana uang berputar sangat cepat, berbisnis apapun disini pasti laku bahkan angin pun dijual! Bayangkan saja setiap 25meter terdapat tukang tambal ban dan isi angin! semua orang kota memiliki mobil paling tidak motor. Aku memang belum menghasilkan, aku belum berkarya apa-apa di kota ini, kota yang gadis-gadis dikampungku dapat menghasilkan uang banyak tanpa harus bekerja keras bagai kuda.
Nyonya adalah wanita separuh baya yang menampungku ketika aku tiba di kota ini, aku dirawat dengan baik oleh Nyonya diberi makan dan diajari cara memake-up agar terlihat memukau, Nyonya bilang aku spesial oleh karena itu aku akan dipekerjakan di sebuah kantor perusahaan besar dan hebat. Sudah hampir setahun aku tinggal gratis di rumah Nyonya, aku merasa tidak enak oleh karena itu aku membantu pekerjaan rumah tangga Nyonya, dan setiap kali aku selesai membantunya aku meminta nyonya hal lain apa yang bisa kukerjakan? Tapi Nyonya jarang sekali menyuruhku, aku terlalu disayang olehnya. Nyonya bilang 2 bulan lagi aku diperbolehkan bekerja, aku pun tidak sabar aku sangat ingin segera bekerja dan menghasilkan banyak uang, aku ingin membangun rumah dan membeli seekor anjing Golden Retriver untuk menemaniku. Bahkan aku punya cita-cita untuk membuat rumah penampungan bagi anjing-anjing yang terlantar atau cacat. Aku punya rekaman buruk mengenai anjing-anjing cacat, suatu hari sepulang dari sekolah aku melewati kebun dan mendapati banyak laki-laki sedang berkerumun, aku pikir mereka sedang berjudi sabung ayam tapi tenyata tidak, aku mendengar dengkingan anjing, salah satu dari kelompok laki-laki itu memegang balok kayu dan menghantam bagian apapun di dalam karung itu. Karung itu bergerak-gerak lalu mendengking lagi, aku bertanya ke salah satu laki-laki disitu,
– “Apa itu didalam karung?”

– “Anjing”

– “Salah apa anjing itu hingga dipukuli seperti itu?”

– “Anjing itu cacat, matanya buta dan tidak berguna”

-“Kenapa harus dipukuli?!” Kataku mulai emosional

-“Daging anjing akan semakin lezat, jika dibunuh tanpa mengeluarkan darah”

-“Kalian akan memakannya?!!” Aku mulai menangis

-“Oh, tentu saja”

Aku tak sanggup membayangkannya, aku merasa sangat marah, emosiku tercabik-cabik aku pun berlari pulang menuju rumah, aku menangis sejadi-jadinya aku melolong bagai kesakitan MANUSIA BIADAABB!! MEREKALAH YANG BINATANG!!!. Dan rekaman pemandangan itu terus terngiang hingga kini dan menjadi obsesiku untuk membuat rumah penampungan bagi anjing yang cacat, terlantar dan tidak diinginkan oleh majikannya, aku berjanji akan merawat sepenuh hati dan menyayangi mereka.

7 Pebruari ini usiaku genap 17tahun, dan di hari ini pula akan menjadi hari pertama aku bekerja, sore nanti aku akan diantar ke sebuah villa di daerah puncak oleh sebab itu aku bersiap diri semenjak tadi pagi dan aku sangat bersemangat akan hal ini. Aku mengetuk pintu rumah nomor 210 sebanyak 3x dengan jeda 3 ketukan, sengaja aku buat demikian agar terkesan terdengar elegan dan tidak terburu-buru. Mungkin yang didalam rumah tidak peduli dengan cara mengetukku dan mungkin tidak akan menilai apa-apa dari caraku mengetuk pintu. Tapi menurutku cara mengetuk sudah aku pikirkan karena bagaimanapun ini proyek pertamaku dan aku ingin berjalan lancar.

Seorang pria membukakan pintu untukku, dia berbadan tegap agak gempal, kulitnya kecoklatan dan tinggiku hanya sekuping dia, menurutku dia tidak terlalu tinggi untuk ukuran pria. Aku menyodorkan tanganku untuk bersalaman dan hendak memberitahu namaku namun tanganku menggantung cukup lama karena si pria tidak membalas jabatan tanganku, aku pun menarik tanganku lalu mulai berbicara macam-macam, perusahaan di bidang apakah yang akan menjadi tempatku bekerja? Tugasku apa saja? Apakah aku bekerja dengan komputer? Untuk microsoft office aku lumayan menguasai, aku bintang kelas semenjak aku SD hingga SMP, kataku sedikit pamer, Aku juga bilang jalan menuju rumah ini sepi sekali, tidak ada warung satupun dan mengapa setiap rumah begitu tertutup? Seperti tidak ada kehidupan, akupun menanyakan bagaimana jika laper tengah malam apakah ada tukang nasi goreng yang lewat? Tanpa menjawab satu pun pertanyaanku si pria meraih hape di rak buku dekat kami berdiri,

” Kenapa aku diberi yang seperti ini? ” Ujarnya kepada seseorang diujung telepon.
” Ya memang aku minta perawan cantik dan aku sudah membayar mahal untuk itu bukan?! ” Ujar si pria dengan nada meninggi
” Dia terlalu banyak bicara!!” Ujar si pria dengan nada lebih tinggi dari yang barusan lalu mematikan hapenya dan melemparkannya ke meja lalu mendarat jatuh mengenai kakiku.
” Aaww ” sakit tau! Kataku seraya membungkuk mengambil hape dan meletakannya ke meja.
Tanpa diduga si pria menubrukku ke arah dinding
“apa yang…” Belum selesai aku menyelesaikan kalimatku tangan si pria membungkam mulutku dan dia mulai mencumbuiku dan aku tidak dapat berontak, aku mengerahkan seluruh tenagaku untuk mendorong si pria, diapun sedikit mundur kebelakang, setelah itu dia malah meraih pinggangku dan menghempaskanku ke sofabed di ruangan itu, kini posisiku terkunci aku sama sekali tidak dapat bergerak aku bahkan kesulitan untuk bernafas, pria itu menindihku dan semakin bernafsu mencumbuiku seolah dia hendak memakan wajahku, ada sedikit sensasi merinding ketika ia mencium leherku lalu turun ke dadaku, disaat itulah aku berusaha untuk berbicara
“Kumohon jangan lakukan ini” kataku nanar dengan suara bergetar
“Selamatkan aku” kataku lagi
Entah karena apa tiba-tiba pria itu berhenti menciumiku, si pria menatapku sambil terengah-engah
“Aku yakin kau pria baik, tolong selamatkan aku” kataku mengiba
Si pria menundukkan wajahnya tidak berani menatapku, diapun lalu berguling kesebelahku tapi aku terlalu shock untuk bangun, jadi kami berbaring berdampingan.
“Siapa namamu?” akhirnya si pria bersuara untuk pertama kalinya,
“Ni-nid-nidar” jawabku sedikit gagap
“Orang-orang biasa memanggilku dengan itu, nama lengkapku Nidurinah” kataku sambil menyodorkan tangan ke arah kiriku, dan tanganku terlihat begetar hebat.
Dan kali ini si pria menjabat tanganku namun tanpa menyebutkan namanya. “Tadi adalah Nyonya” ucapnya tiba-tiba
“Maaf?” Kataku sambil menoleh kearahnya
“Yang tadi aku telepon, itu Nyonya mu” “Nyonya menjualmu kepadaku”
Aku tidak dapat berkata-kata, mengapa aku begitu bodoh? Mengapa aku begitu percaya terhadap omongan Nyonya? Yang bagaimanapun dia adalah seorang mucikari, tugas dia hanya menjual gadis-gadis kepada pria hidung belang, mana mungkin Nyonya punya perasaan. Air mataku seketika meleleh mengalir di pelipisku.
“Silahkan jika kau mau pergi, aku tidak akan menahanmu”
Aku pun bangkit dan membenahi pakaian dan rambutku yang kusut.
“Ini sisanya…” Si pria melemparkan amplop putih dengan tulisan “Rp.3.500.000″
” Ambillah ”
” Uang muka sudah aku bayar ke Nyonya, jadi uang ini akan menjadi urusanmu dengan Nyonya, aku tidak ikut-ikut”.
“Terserah kau mau menilaiku dengan pria mesum, bejat atau apapun”
“Yang pasti aku bukan penipu, aku sepakat membayarmu 7juta kepada Nyonya”

Aku berjalan dalam gulita, aku terus berjalan entah menuju kemana, aku hanya ingin kembali ke kampung halamanku. Aku tak peduli jika aku harus kembali dengan keadaan lusuh dan tidak membawa banyak tas belanjaan dan oleh-oleh, aku tak perduli jika tidak bermake-up biarlah aku kembali ke kampung tanpa kesuksessan, aku tak perlu itu! Aku tak mau itu semua!! Aku benci kota! Aku benci dengan perempuan yang bergaya dengan “topeng” mereka yang hanya dipakai untuk menyembunyikan kesedihan mereka, aku merasa jijik atas ini semua terlebih lagi aku merasa jijik atas diriku sendiri, aku merasa sangat kotor.
Aku merasa sangat letih, kakiku menjadi berat dan aku tak mampu memaksa kedua kakiku untuk berjalan lebih jauh, bahkan kakiku merasa tak mampu menahan tubuhku. Aku pun ambruk ditrotoar, aku menangis tersedu-sedu, tubuhku kedinginan oleh hujan yang sedari tadi menemaniku berjalan. Hanya pipiku yang terasa hangat, hangat oleh tangisku yang terus mengalir di pipiku. Aku teringat obsesiku, bagaimana aku bisa menolong anjing-anjing cacat jika aku tidak mampu menolong diriku sendiri?. Aku memaksakan diri untuk berdiri, namun aku hanya mampu mengangkat tubuhku hingga berlutut, aku memandang langit memandang bulir hujan yang terus turun membasahi bumi.

Dalam berlututku aku menangkupkan tangangku dan berdoa,
Tuhan, kumohon hentikan sedu sedanku, beri aku kekuatan, lindungilah aku, aku hanya ingin pulang…

Posted from WordPress for BlackBerry.

4

91 Hari 72 Jam Dan Entahlah


Aku mengedarkan pandangan di sekelilingku ternyata tempat ini cukup luas, lalu aku berjalan ke sudut lapangan bulutangkis yang fungsinya sudah tidak sesuai dengan namanya dan ternyata aku salah menilai ternyata tempat ini sangat luaaaaaass, tempat ini seperti komplek perumahan dengan berisi 5 cluster, setiap cluster terdiri dari 2 rumah besar dan 1 lapangan. Bedanya rumah disini tidak mewah hanya besar, ya besar dan sederhana. Tidak ada mobil terparkir tidak ada taman dengan landscape yang menawan hanya ada beberapa Xansivierra yang dibuat seperti pagar dan beberapa tumbuhan lainnya yang berfungsi sebagai anti polusi serta pohon kecil dengan diameter 2 meter dan tinggi 5 meter, pohon ini kecil dibandingan dengan pohon Trembesi yang berada di gerbang depan dengan dimensi diameter 5 meter dan tinggi menjulang hingga 11 meter. Pohon ini pasti sudah tua pikirku, satu-satunya alasan mengapa pohon itu tidak ditebang mungkin karena tidak membahayakan apapun tidak ada kabel listrik yang saling melintang dan tidak ada rumah di sekitar pohon itu hanya ada bangunan pos kecil yang kalau kalau suatu saat pohon itu tumbang akan menimpa pos itu, tidak ada ruginya kukira.

“Priiiiiiiittt” suara peluit mengagetkanku yang sedari tadi asyik melihat pemandangan dan memisahkanku dari kelompokku, reflek aku memasukan telunjukku kelubang kupingku, si petugas memandangku seolah berkata ‘kembali kedalam barisan!’ Aku pun melangkah dan masuk kedalam barisanku ‘aku tidak tuli, bodoh!’ Aku mengumpat dalam hati. ‘Priiit priit’ kali ini bunyi pluitnya tidak senyaring tadi yang bisa membuat gendang telingamu rusak, bunyi pluit ini menandakan bubarnya barisan. Begitulah komunikasi disini kebanyakan menggunakan komunikasi nonverbal, mungkin komunikasi secara verbal akan percuma bagi orang-orang disini agak sulit untuk dipahami.

Aku sudah mulai muak berada disini, aku harus pergi dari sini di ruang makan berukuran 6×8 meter seperti biasa aku mengambil tempat paling pojok di meja makan favoritku yang sudah aku tempati selama 85 hari ini dan meja inilah satu-satunya yang memiliki 2 kursi saling berhadapan, yang lainya meja makan panjang dengan kursi berbanjar muat untuk 6 orang,hanya diruang makan ini aku bisa berkonsentrasi memikirkan strategi untuk bisa keluar dari sini.

Setiap hari Rabu kegiatan PKK (Program Karya Kelompok) tidak jadi sebagai penggantinya kami diizinkan untuk bersantai-santai dan kebanyakan teman-temanku mengobrol dengan keluarga mereka yang datang membesuk. Aku? Aku sendiri hanya duduk di ranjangku dan asyik mengisi buku Sudoku sambil terkadang pikirannku mengawang-ngawang. Bukannya aku tidak mau mengobrol dengan keluargaku seperti halnya teman-temanku, hanya saja tidak ada keluarga yang datang mereka semua sibuk.
Aku anak kedua dari 2 bersaudara, kakakku sudah berkeluarga dan memiliki anak kembar usia mereka sekarang 7 tahun terakhir aku bertemu dengan keponakan kesayanganku itu setahun yang lalu aku sangat rindu pada mereka, setiap bertemu mereka pasti berteriak ‘Oooomm Jaann cuu…akep’ kakakku sudah berkali-kali menasehati anaknya untuk tidak menyingkat dan memanggil namaku menjadi Om Jan Cakep.

Panggil Om Nizan aja kata kakakku kepada anak kembarnya,

Tapi kan benar yah’ Om Jan lebih cakep daripada ayah,

NI-ZAN ulang kakakku,

OM-JAN-CUU..AKEP! sambil mengacungkan jempol kearahku kata si kembar keukeuh sambil cekikikan.

Aku rasa hanya si kembar ini yang menyayangiku dengan tulus, entah karena mereka sangat suka jika aku belikan eskrim sehingga tidak peduli dengan segala keanomalian padaku, malah aku merasa nyambung jika ngobrol dengan mereka. Dan ketika ayah mereka mulai menegur kami ‘Kalian ini ngobrol apa? Gak nyambung begitu’ maka kami akan semakin berisik dan seru membicarakan apapun. Ibu si kembar melarang mereka untuk dekat denganku, aku tahu karena si kembar bertanya dengan polosnya “Om Jan kenapa sih kita gak boleh deket ama Om Jan? Kata bunda Om Jan gini” si kembar membuat isyarat dengan menempelkan telunjuknya depan dahi “artinya apa om?” Aku pun menjawab mereka “artinya bunda kalian gak suka kalau kalian kebanyakan makan es krim”, “Ooohh, bunda sirik” ujar si kembar berbarengan, aku tak mungkin mengatakan bahwa isyarat yang tadi adalah ‘gila’ si kembar pasti akan menjauhiku entah tetap sayang, entahlah hanya saja aku tak ingin si kembar mendengar makna konotasi yang tidak perlu di usia mereka.

Tiba-tiba beberapa temanku mulai menempelkan diri mereka pada tembok kaca di barak tidur kami, ruang tidur kami berupa barak dengan hanya 2 kamar mandi, ranjang pun seadanya busa yang kempis tanpa guling hanya ada 1 bantal dan satu selimut tipis, ranjang diruang ini ditata berbanjar 6 sebanyak 5 baris, masing masing ranjang hanya berjarak 2 langkah memang bukan ruang yang leluasa dan jauh dari kata privasi namun begitulah adanya, berharap apa di tempat seperti ini. Rupanya ada makhluk manis diluar ruangan sedang mengisi buku tamu di meja depan, seorang cewek berjilbab dengan wajah manis dan pakaian yang santun, aku tetap diranjangku memandangi cewek manis tersebut tidak seperti teman-temanku yang norak menempel dikaca sambil dadah-dadah. Aku merasa cewek itu memandang ke arahku aku pun mencoba bersikap sopan dengan menangkupkan kedua telapak tanganku ‘Assalamualaykum’ aku bersuara tanpa berbunyi dan betapa girangnya hatiku ketika cewek berjilbab itu pun menjawab ‘wa’alaykumsalam’jua tanpa bunyi, sambil memberikan sekilas senyuman yang sangat manis. Ingin rasanya mengenal dia, namun rasanya itu hanyalah mimpi bagiku. Mimpi yang harus aku wujudkan.

Hari Kamis ada Dokter yang mengecek kesehatan kami, tapi tidak semua hanya random beberapa dari kami, sungguh perbandingan yang tidak adil pikirku satu dokter untuk kami yang satu barak ini, jangan-jangan satu dokter itu untuk keseluruhan tempat ini aku mulai membayangkan betapa sibuknya dokter itu. Lalu tanpa diduga namaku dipanggil ‘Arkandaru Nizan’ seorang perawat memanggil namaku, aku pun bergegas turun dari ranjangku dan memasuki ruang kesehatan, didalam dokter sedang membaca rekam medisku, “saya dok?” Si dokter pun menyilahkan aku duduk sambil menyiapkan alat tensi dan memasangkan pada lenganku,
“saya sudah 92 hari lho disini”
“oh yaa?” Si dokter berkata singkat
“tensi kamu rendah banget”
“saya kapan bisa pulang dok?” ucapku tanpa peduli pertanyaan si dokter
“kamu obatnya diminum kan?” Jawab si dokter yang juga tidak peduli dengan pertanyaanku
“Saya tidak betah disini dok” ucapku semakin tidak peduli dengan pertanyaan si dokter
“Betah-betahin dong, kamu nanti juga pulang kok” yes! Akhirnya si dokter yang kalah dan dia menjawab pertanyaan-pertanyaanku. “Obatnya harus diminum ya” ucap si dokter yang sepertinya dia tahu aku beberapa kali tidak minum obat-obat tersebut.
Aku pun bersiap keluar ruangan si dokter menegaskan lagi “janji ya obatnya diminum”
“Iya” jawabku sambil beranjak dari kursi
“Untuk kehidupan yang lebih baik” kata si dokter tanpa aku mengerti apa maksudnya.

Malam ini aku bertekad untuk keluar dari tempat ini dan tekadku sudah bulat! Jam 7 malam para perwat sudah menyiapkan 3 obat untuk kami, setelah 83 hari mempelajari aku tahu obat kecil yang berwarna pink adalah Chloppromazine dan yang putih Haloperidol aku benci dua obat itu aku pun pura-pura meminumnya padahal selagi perawat itu lengah aku memuntahkan obat tersebut, aku hanya meminum 1 obat yang memang untuk vitamin saja. Jam 8 malam efek obat mulai bekerja, teman-teman satu barakku mulai mengantuk dan aku yakin jam 9 teman-temanku mulai tertidur pulas, memang itulah tujuan dari obat tersebut dan jam 10 malam para petugas tidak menjaga kami terlalu ketat, jarum jam sudah menunjukkan pukul 10 malam saatnya aku melancarkan aksiku yaitu kabur. Ya, aku sudah tidak tahan berada disini aku harus keluar dari tempat ini, HARUS! Kataku dalam hati.

Susah sekali untuk menembus keluar pintu barak ini, diluar ruangan ada seorang perawat sedang menulis laporan di masing-masing catatan rekam medis kami, seharusnya ada 2 perawat yang bertugas di masing-masing barak, tapi sepertinya setiap perawat disini sudah sepakat untuk bergantian jaga, jadi bisa dipastikan satu perawat sedang tidur di ruangan periksa kesehatan. Entah sudah berapa lama aku berjongkok di balik pintu barakku ini, rasanya kakiku mulai kesemutan, tapi inilah satu-satunya akses aku menuju luar bangunan ini. Hore! Aku bersorak dalam hati saat si perawat meninggalkan meja depannya, kesempatan itu langsung aku gunakan untuk membuka pintu dan menyelinap keluar dan berlari, namun aku tidak segera berlari aku tertahan oleh sesuatu, memang tindakan bodoh karena bisa saja dalam beberapa detik si perawat kembali ke meja ini dan menangkap basah aku yang hendak kabur ini dan pelarianku gagal, tapi aku merasa aku harus melihat buku itu, buku yang tempo hari diisi oleh cewek cantik berjilbab itu, aku membuka buku tamu itu dan mencari hari ketika dia datang. Dapat! Aku hampir memekik kegirangan buru-buru aku membaca namanya : Faradilla Jl. Kembang Picung No.28, nomor telepon : 423-57-2… Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki, aku pun segera menyelinap keluar ketika hendak berlari ternyata di depan ada 2 petugas sedang berbicara dan hendak menuju ke arahku.

Oh tidak! aku pasti tertangkap, gagal sudah rencanaku pupus sudah harapannku menemui Faradilla, entah ini hari keberuntunganku atau bagaimana yang jelas si dua petugas tadi berbelok untuk mematikan rokok mereka, aku pun segera bersembunyi dibalik pohon. Saat si dua petugas melewatiku jantungku rasanya berdebar terlalu kencang, sehingga aku khawatir mereka akan mendengarnya dan keringat dingin mulai menjalariku, ayolah! biarkan mereka hanya lewat saja dan mengerjakan keperluan mereka dan biarkan aku lancar mengerjakan keperluanku yaitu kabur. Aku teramat sangat berterimakasih pada pohon ini dan tak lupa menciumnya saat 2 petugas berlalu melewatiku sambil tetap mengobrol, pohon ini sungguh baik memberikan persembunyian untukku, mulai sekarang aku cinta pohon!.

Aku mengendap-ngendap menuju gerbang luar, dan aku sudah hampir mencapai gerbang itu, aku memasang telingaku baik-baik setiap bunyi yang terdengar membuatku langsung menunduk dan tiarap dan bersembunyi dibalik apapun. Pokonya aku tetap waspada akan setiap bunyi yang terdengar. Aku menyembunyikan tubuhku dibalik pohon Trembesi raksasa ini, jaraknya hanya 50 meter dari gerbang gedung ini, tapi di pos itu ada 3 orang penjaga yang sedang nonton pertandingan bola, jantungku kembali berdegup kencang kakiku seakan siap berlari sekencang-kencangnya. Entah pukul berapa ini? Udara terasa munusuk kulitku, kontur daerah ini memang berada di dataran atas jadi jam berapapun ini udara pasti dingin sekali.

Aku merapatkan tubuhku pada pohon tua itu dan untuk terakhir kalinya aku menengok kebelakang dan membaca tulisan besar dari dibentuk dari ubin dan disorot oleh 2 lampu yang cukup jelas terbaca dari jarak 100 meter sekalipun, aku membacanya dalam hati ‘RUMAH SAKIT JIWA WARAS SEHAT’ aku pun bergidik setelah membacanya bagiku ini adalah tempat horor, disini setiap hari kami wajib mandi jam 4 subuh dengan air yang dingin menusuk bagai kaca , orang gila apa! Batinku, Para petugas disinipun belum tentu semua mandi jam 4 subuh, belum lagi obat-obat yang membuatku mual dan membuat kepalaku seperti dipukul godam, menyebalkan. Kembali aku menatap lurus gerbang kebebasan itu, aku harus berhasil keluar dari sini.

Kembali aku menatap lurus gerbang kebebasan itu, tiba-tiba 2 orang dari para penjaga itu keluar dari pos tanpa pikir panjang dengan hati-hati aku mendekati pos penjagaan, hanya ada satu orang didalamnya, dan dia sedang memainkan telepon genggamnya. Aku pun merunduk melewati pos itu dan aku berhasil menginjakkan kakiku diluar gerbang, perasaan lega bercampur tegang menyelimutiku, aku berusaha berbaur dengan orang-orang dijalan dan aku berusaha untuk berjalan setenang mungkin.
WOYY! suara laki-laki membuatku kalang kabut aku berusaha lari namun kakiku tidak bisa diajak berkompromi mereka seperti terancap ke tanah, aku pun menengok ke arah suara itu, ternyata suara itu bukan ditujukan untukku, melainkan dari bapak-bapak warung kopi yang memanggil pelanggannya karena lupa membayar. Fyuuuhh!! Nyaris aku berlari seperti orang bodoh.

Saat aku berbaur bersama orang-orang, mereka memberikan tatapan aneh seperti menghujat seperti menghina dan seperti mencurigaiku, aku mulai tidak nyaman rasanya ingin menghajar orang-orang ini tidak bisakah mereka memandangku biasa saja? Ketika aku melintas sebuah kios yang berdinding kaca gelap memantulkan cerminan diriku barulah aku tersadar. Bajuku! Ya ampun bajuku berwarna terang sekali! baju training berwarna orange inilah yang membuat orang-orang memandangku dengan aneh tadi. Uh! Aku benci baju ini ditambah tulisan yang sangat jelas RSJ WARAS SEHAT tertera di bagian kanan kiri paha celana. Belum lagi di punggung kaus ku ini dengan tulisan yang sama namun melingkar. Aku pun mencari tempat yang agak sepi untuk membalikan bajuku ini. Setidaknya tulisan sial itu tidak terbaca oleh orang-orang.

Aku terbangun sekejap mata yang sukses membuat pening kepalaku, sambil memegangi kepalaku yang bedenyut-denyut aku memandang sekeliling ruangan dimanakah ini? Ada laptop, lemari dengan poster band Pink Floyd dan meja gambar yang berantakan dengan kertas-kertas rancangan dan aku mulai mengenali semuanya baju-baju yang menggantung di balik pintu, ini kan kamarku batinku dan aku mengedarkan pandanganku sekali lagi, benar! Aku sudah berada di kamarku sendiri. Aku terlalu lelah memikirkan bagaimana caranya aku bisa sampai di rumah kontrakan ku ini.

Sudah 3 hari aku dirumah rasanya menyenangkan sekali, tidak ada teman-temanku yang sering menjahiliku dan mencubiti kemudian jika aku mulai marah mereka malah tertawa-tawa, tidak ada bau pesing karena beberapa pasien yang tidak bisa ke kamar kecil. Aku pun tidak mendengar suara-suara yang menyuruhku untuk melakukan tindakan aneh. Didapur aku memasak omelette telur dengan potongan daun bawang sambil bersenandung riang.

Tok-tok terdengar pintu rumahku diketuk masih sambil memegangi pisau aku kedepan membuka pintu, ada 3 laki-laki berseragam serba putih berdiri siaga,”Anda Arkandaru Nizan?”
“Iya betul saya sendiri” kataku yang hanya mengeluarkan setengah badan dari pintu rumahku.
“Anda harus ikut kami sekarang”
“Maaf bapak siapa ya? Saya harus ikut kemana?”
“Ikut saja bersama kami naik mobil”
Melihat wajahku yang tegang ketiga pria tadi menghampiriku dan bermaksud menarik paksa agar aku mau ikut bersama mereka, aku berusaha menutup pintu namun kaki laki-laki tersebut menahan pintu dan tenagaku tak cukup kuat menahan pintu yang didorong oleh ketiga laki-laki itu aku pun terjerembap kebelakang dan jatuh terduduk, ketiga pria itu beringsut maju membuatku merasa terpojok. Lalu disaat seperti ini yang seharusnya aku reflek berlari pikiranku malah semakin kalut dan suara-suara dalam kepalaku muncul, suara itu menyuruhku untuk menusukkan pisau yang aku pegang. Namun aku berusaha manghalau suara-suara itu.

Aku sedang mempertahankan diri ketika 2 pria mencoba menindihku dan satu pria lainnya memegang jarum suntik, aku pun semakin panik lalu berteriak “tolooooong” lalu salah satu pria itu itu berkata “kami disini untuk menolong anda” “tolong kerjasamanya” dia menambahi
“Tidak, aku tidak mau kembali ketempat itu” kataku sambil berusaha balik menindihi pria pria itu namun usahaku sia-sia, tiba-tiba ada suara melolong ‘Aaaaaaarrgghh’ kami semua terksiap, yang jelas suara itu bukan berasal dari tenggorokanku, lalu salah seorang dari pria itu berlutut sambil memegangi perut bagian kirinya kemudian warna merah kehitaman mulai merembesi baju putihnya, aku ternganga melihat pria yang terluka itu kemudian roboh seketika
“Bukan aku!” Ketika kedua mata pria yang lainnya menghujamku penuh amarah.
“Sungguh bukan aku yang menusuk dia!”
“Suara suara itu yang menyuruhku melaku…” Belom sempat aku menyelesaikan kata-kataku pria yang memegang jarum suntik sudah menancapkan jarumnya di betisku dan semuanya menjadi gelap.

Aku melihat semuanya serba dua lampu di langit-langit menjadi dua kepalaku pusing bukan main, aku pun mengerjap-ngerjapkan mataku agar pandangan tidak menjadi dua, aku menoleh hanya ada tembok putih, kali ini tembok itu tidak menjadi dua namun tembok itu seperti tiga dimensi,tembok itu hidup! Tembok itu seolah-olah maju untuk menghimpitku, aku yakin tembok itu hendak memakanku! Ketika aku mencoba meringkuk menghindari tembok yang semakin maju itu kaki tanganku malah terasa berat, aku mengangkat kepala dan benar rupanya kedua kaki dan tanganku terikat di ujung-ujung ranjang besi ini. Aku mencoba melepaskan ikatan dengan meronta ronta namun semuanya percuma, kemudian datang dua pria menggunakan baju putih sambil memegang jarum suntik.

Salah satu pria itu mendekatiku aku memohon-mohon padanya untuk melepaskan ikatanku, saat pria itu memegang tangaku aku pun mengucapkan terimakasih berulang ulang, namun dugaanku ternyata salah. Pria itu bukannya melepaskan ikatanku malah menyuntikku. Aku pun berteriak padanya “BAJINGAAAAN KAU!!” Dua pria itu pun mulai meninggalkanku “HEII DASAR KAU BEDEBAAAAH!!!” Suaraku melemah, terakhir kalinya aku sempat mengingat aku pernah dirawat di RSJ ini 91 hari kemudian prestasi kebangganku adalah aku pernah berhasil kabur namun hanya bertahan 72jam dan kini aku berada di ruang isolasi yang entah sudah berapa lama dan entah sampai kapan?.
Aku merasa tersiksa sekali disini ‘Tuhan, ambil saja nyawaku aku sudah siap’air mataku mulai menetes namun tak bisa kuusap, aku hanya merasakan air mataku meleleh hangat ke pipiku dan aku merasa seperti tersedot ke alam lain, tubuhku terasa ringan! Aku melayang! Aku bisa melihat tubuhku sendiri, kulitku pucat dan kurus sekali, aku pas sekali di ranjang itu seolah ranjang itu seukuran tubuhku panjang 1,80 meter dengan lebar 1 meter. Lalu aku melayang menuju kaki ranjang ada papan menggantung disana, tulisan di papan itu :

Nama : Arkandaru Nizan
Usia : 34 tahun
Penyakit : Schizofrenia, Halusinasi akut, Depresi.
Tanggal masuk : Mei 2000

Bogor, Oktober 2011
RS.Jiwa Waras Sehat

Ya Tuhan! Sambil menutup mulutku. Aku sudah 11 tahun terbaring disini. Apa yang orang-orang lakukan terhadapku selama ini? Tidakkah orang-orang itu memiliki rasa iba terhadapku? setega itukah mereka mencancang tubuhku bertahun-tahun dan menyuntikan berbagai macam obat untukku setiap harinya?

Aku mulai menangis sambil berlutut di depan kaki ranjangku, aku merasa sangat letih sekali seolah aku telah melakukan perjalanan yang sangat panjang, aku ingin sekali memperbaiki hidupku dan melakukan sesuatunya dengan lebih baik, aku sadar penyesalanku sudah terlambat namun aku tetap berdoa, lalu aku merasakan punggungku mulai hangat saat aku menoleh aku melihat pendaran cahaya putih.

Aku tidak tahu cahaya apakah itu, apakah ada kehidupan di ujung cahaya itu? aku tak tahu, yang pasti aku ingin menuju ke arah cahaya itu terus mengikuti ujung cahaya tersebut,  aku terus berjalan menjauhi ranjang dan tubuhku sendiri yang tengah berbaring aku hanya ingin mengikuti cahaya itu aku merasa kepada cahaya itulah aku merasa diterima disanalah tempatku, perasaanku sangat ringan, tidak ada lagi bisikan-bisikan yang menyuruhku melakukan sesuatu diluar kendaliku. menuju cahaya itu aku merasa “pulang”.

0

Pupus


Dua meja arah pukul dua tempatku menjelajah dunia maya dengan hotspot di cafe favoritku ini terduduk seorang wanita dengan setelan pakaian serba hitam membalut tubuhnya yang kurus namun berisi dan stilletto yang membuatnya terlihat menjadi seksi , wajahnya cantik dengan garis yang tegas. Aku kira usianya 30 tahun…
Di arah pukul sebelas terhalang tiga meja dari tempatku duduk terdapat sepasang kekasih yang duduk saling berhadapan, aku dapat melihat jelas wajah gadis itu berseri-seri, sepertinya bahagia akan kencan dengan kekasihnya itu. Kulit si gadis putih perawakannya kecil namun tinggi dan berwajah imut, pakainya serba pink plus aksesoris bandananya tak ketinggalan berwana pink polkadot, aku tebak usianya 23 tahun. Sang pria tidak bisa aku jelaskan, karena dia membelakangiku, yang aku tahu kekasih ini memiliki bahu yang bidang dan sedikit lebih tinggi dari si gadis pink.

Buatku tempat ini adalah “hotspot” yang sempurna dari sekian banyak cafe yang pernah aku datangi. Jika aku datang ke tempat ini aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam bahkan bisa dibilang seharian, yang aku lakukan disini selain berlaptop ria adalah mengamati orang-orang yang datang dan pergi dan inilah yang menjadi alasan aku betah berlama-lama di cafe ini, karena aku pelanggan yang cukup sering datang kesini, para waiter/s sudah maklum jika aku datang kesini dengan hanya memesan secangkir Double Esspreso dan dua potong Croissant, mungkin juga karena aku sering meninggalkan tip seharga dua Croissant di cafe itu dan terkadang juga lebih.

Wanita dengan stiletto berbicara di handphonenya, aku tidak dapat mendengar apa yang dikatakan wanita itu, hanya saja raut wajah wanita itu terlihat marah sekaligus sedih, wajahnya menunjukkan keteguhan bagai batu karang, dua alisnya bertaut dan dahinya mengernyit.
“Persetan dengan jodoh tak akan kemana!” Ujar si wanita stilletto hampir berteriak sambil membantingkan handphone ke dalam tasnya. Dia pun menyulut sebatang rokok dengan frustasi membuat Zipponya susah menyala kemudian setelah 4 kali percobaan barulah menyala, tanganya gemetar karena bagitu emosi. Dia meneteskan air mata namun cepat-cepat ia menghisap rokonya lalu menyesap burbon dalam sekali tenggak. Wanita itu berpisah dengan kekasihnya dugaanku…

Sepasang kekasih di arah jam sebelas mereka saling menggenggam tangan, namun kemudian si pria beranjak dari kursinya tapi tidak diikuti oleh si gadis pink. Si gadis pink diputuskan oleh kekasihnya juga pikirku, berbeda dengan si wanita stilletto yang frustasi dengan rokoknya, si gadis pink hanya duduk dikursinya sambil menunduk dan menangis sesenggukan.

Sungguh ironi yang menyedihkan bagi kedua perempuan ini, hati mereka pasti teriris pilu mendapati kenyataan yang belum siapp mereka terima. Keduanya menangis dengan cara yang berbeda.

Disinilah aku, hanya duduk dan mengamati kedua perempuan itu menyerap inspirasi dari setiap kejadian lalu menuangkannya dalam cerita untuk proses novelku yang kelima di akhir tahun nanti.

Apakah aku picik? Seenaknya mencomot kisah seseorang untuk aku jadikan novel. Aku rasa tidak, aku tidak sepicik itu. Aku pernah berada di posisi kedua perempuan ini, aku tahu betul perasaan mereka.

Aku seorang lelaki, dan lelaki sejati memilih jalannya sendiri. Hal ini tidak ada hubungannya dengan trauma, aku hanya tidak tahu caranya mencintai atau mungkin aku sudah lupa.

Entahlah…

Harapanku pupus tiga tahun yang lalu…

Posted from WordPress for BlackBerry.

0

Dan Kamu Terlalu Wangi


Kalau aja dikantor ini ada polling siapakah karyawan yang paling rajin, aku sangat yakin pastilah aku masuk nominasi dan berada di urutan nomor satu . Mengapa aku bisa sangat pede akan hal ini? Mengapa tidak? Karena kategori “rajin” yang dimaksud disini adalah : Rajin datang tepat waktu (tepat waktu yaa… jadi, kalau kerja masuk jam 9, nah maka aku sebagai karyawan dengan label “Rajin” sudah tiba di kantor jam 08.59 wib  ) dan hal ini berlaku juga untuk jam pulang kantor, dengan kestabilan waktu datang dan menghilang secepat kilat di waktu pulang kantor, bukankah aku termasuk karyawan yang rajin?

Statusku sebagai si anak baru di kantor tempatku bekerja membuatku banyak mempelajari gaya bekerja, sistematika dalam bekerja dan menyesuaikan banyak hal termasuk perkenalan serta penyesuaian dengan para senior di kantor itu. Penyesuaian dengan para senior sangat perlu untuk membantu kerjaan aku sebagai tukang gambar dan sebagai tukang serabutan di kantor ini. Kebetulan tiga minggu lagi ada proyek untuk ke Vietnam, bukan aku sih yang berangkat melainkan para atasan.

Sebagai buruh serabutan dan tukang gambar meskipun bukan aku yang berangkat tapi aku juga berjibaku mempersiapkan segala keperluan dan materi agar para atasan yang berangkat tidak dipusingkan oleh remeh-temeh dan membereskan sisanya di Vietnam sana. Dalam rangka mempersiakan segala keperluan itulah yang membuatku di hari Kamis bulan April itu tidak biasa, aku tidak pulang kerja tango jam 5 sore seperti biasanya melainkan harus lembur untuk mengerjakan design gambar untuk dibawa ke Vietnam nanti.

Waktu menunjukkan pukul 18.00 wib saat teman-teman kerjaku mulai berpamitan satu persatu, tak lupa mereka menyemangatiku agar pekerjaanku cepat selesai, ada pula yang memberi selamat karena hari itu hari pertama aku lembur ” Ciyeeehh…lembur cieehh” aku sadar sekarang zamannya lebay sampe lembur pun perlu di’cieh-cieh’, apalah temanku ini aku lembur pun dibikin lebay tapi aku pun dibuat tertawa karena candaan temanku itu. Tersisa satu temanku yang aku lihat masih mengerjakan format evaluasi tapi sudah hampir selesai, mumpung masih ada temanku yang satu itu aku pun menuju mushala untuk mengerjakan sholat magrib, temanku tidak aku ajak sholat berjamaah karena dia bukan seorang muslim.

“Antonius, tungguin ya gw mau sholat magrib” temanku pun menganggukkan kepala memberi kode bahwa ia sepakat menungguku sholat magrib baru kemudian ia pulang. Selesai sholat, temanku Antonius sudah bersiap hendak pulang, sambil mengenakan helm temanku Antonius pamitan pulang aku pun mengiyakan ia pulang lebih dulu setelah sebelumya ia berkata sesuatu yang aku kurang paham namun baru aku mengerti keesokannya.

Aku pun masuk ruang kerjaku dan mulai mengerjakan tugasku, aku menyetel MP3 di komputerku sambil menemaniku bekerja dan agar tidak terlalu sepi pikirku. Sebetulnya ada Office Boy yang tinggal di kantor ini Pak Karjan namanya, tapi tadi magrib aku lihat Pak Karjan pergi menggunakan sepeda pancal. Tinggalah aku sendirian dikantor ini sehingga aku bisa lebih konsentrasi mengerjakan tugasku dan cepat pulang.

Kantorku ini sebetulnya menempati sebuah rumah yang cukup luas dengan pekarangan yg tak kalah luas juga dan rumah ini berada di lokasi yang strategis, sepertinya itulah alasan rumah ini lebih cocok dijadikan sebuah kantor. Satu hal yang pasti aku mengetahui bahwa rumah atau bangunan ini sudah berusia 90 tahun! karena secara tak sengaja aku pernah membaca sepucuk surat yang aku temukan di lokerku sekarang. Isi surat itu menceritakan riwayat si rumah dan siapa saja penghuni dirumah itu, di surat itu pun diceritakan bahwa dirumah itu ada seseorang dengan gangguan kejiwaan yang dirawat di rumah ini selama 8 tahun dan akhirnya di tahun ke 9 dirawat di Rumah Sakit Jiwa di Grogol – Jakarta. Aku tak pernah tau mengapa ada surat itu di lokerku,surat itu tak pernah terkirimkan aku pun tidak tahu ditujukan untuk siapa surat itu tidak ada amplopnya.

Rumah ini bergaya Belanda dengan design yang  substansial namun tetap kokoh dan artistik dan yang paling aku rasakan adalah angker atau mungkin juga ‘dingin’ entahlah kesan setiap rumah peninggalan kolonial belanda buatku selalu misterius, mungkin juga aku hanya perlu membiasakan diri berada di kantor ini.
Waktu menunjukkan pukul 8 malam saat itu dan aku merasa perlu untuk ke toilet. Toilet di kantorku terletak di dua lokasi berbeda namun sama-sama berada diluar area ruang kerja dan masing-masing memiliki 3 sekat ruang. Aku memilih toilet terdekat yang artinya aku harus lewat ruang pantry  kemudian berbelok melewati koridor disebelah kanan ada dua pintu disitulah letak toilet terdekat, aku beranjak dari kursi kerjaku dan berjalan masuk ke ruang pantry, saat memasuki ruang pantry mataku tertuju pada sudut langit-langit ruangan aku menangkap bayangan hitam diatas sana yang kemudian aku sadari bayangan itu seekor burung Gagak. Hah?! Burung Gagak?? aku pun mendongakkan kepala untuk memastikan lagi, namun sedetik itu pula burung itu sudah tidak ada entah terbang entah raib! aku pun pipis dengan hati tak menentu dan itulah pipis pertamaku yang paling mendebarkan.

Aku bergegas kembali ke meja kerjaku tanpa memeriksa sudut-sudut maupun langit-langit ruangan bukannya aku meragukan penglihatanku tapi masalahnya aku tidak berani , aku tidak siap melihat sesuatu yang tidak bisa dinalar oleh otakku. Sudahlah, aku tak mau membayangkan hantu-hantu seperti yang ada di teve. Nah kan, pikiranku malah ngelantur. Aaargghh aku hanya mau membereskan pekerjaanku saja titik! batinku. Tak lama aku berkutat dengan Corel ku, tiba-tiba aku dikejutkan oleh bebauan yang wangi, aku mencoba mengacuhkan bebauan itu dan mencoba fokus menggambar di komputerku, aku malah mendengar suara langkah kaki dibelakangku mungkin itu Pak Karjan batinku. Aku tidak mencoba untuk menoleh, kali ini bukannya tidak berani, tapi karena aku ingin pekerjaanku cepat selesai. Saat aku mencurahkan konsentrasi tingkat dewa pada gambarku ditemani musik streaming Grooveshark entah karena perasaanku saja atau karena backsound dari lagu Lenka – Like a Song yang membuat bulu kudukku berdiri karena bersamaan dengan itu ada wangi yang menyeruak dan kali ini semakin menyengat hidung, aku melirik jam digital pada komputerku  dan menunjukkan waktu: 9.21 pm, Thursday . Deg! aku teringat bahwa ini malam jumat, dimana malam jumat adalah waktunya para dedemit beredar, Oh my God oh my waawww… baiklah aku mengalah, sepertinya aku harus pulang aku tak mau kehadiranku mengganggu ‘jam‘ mereka. Aku segera mematikan komputerku dan menuju loker untuk mengambil tas dan buru-buru pergi dari tempat yang kini berubah menjadi taman kembang melati secara absurd itu.

Aku bersiap membuka gerbang dan mengeluarkan motorku tiba-tiba terdengar suara yang sederhana namun cukup nyaring di telingaku yang saat itu sedang tertutup helm ” TING TOONG… ” itu kan suara bel kantor ini kataku dalam hati, dan bagaimana bel itu bisa berbunyi sedangkan aku berada persis di depan tombol itu? HUUAAAAAA… aku menjerit sekencang-kencangnya dan secepat kilat tancap gas.

Keesokan harinya aku datang seperti biasa ke kantor pukul 8.59 wib dengan wajah kurang tidur dan mata sembap. Orang yang pertama menyapaku pagi itu adalah Antonius, yang kebetulan aku pun ingin bertanya tentang apa maksud ucapannya kemarin malam. Antonius berkata ” Sudah ada yang kenalan kan? “. Kini aku memahami ucapan temanku itu dan aku menjawab “iya udah, masalahnya dia terlalu wangi ” kami berdua pun tersenyum simpul dan mengerti dengan kejadian yang pernah kami alami. Sejak kejadian itu pula aku tidak pernah lembur sendirian, aku belum siap bertemu siapapun dia yang terlalu wangi di Kamis kemarin itu.