Gadis Penjual Strawberry

“7 Mei 2015” dengan hati-hati aku menempelkan label tanggal tersebut pada sebuah toples bening di rak yang tersimpan pada sebuah gudang tua dekat perkebunan strawberry yang aku sulap menjadi ruangan serupa laboratorium.

Ruang laboratorium ku berisi alat-alat yang cukup lengkap seperti peralatan laboratorium Biologi selayaknya di kampus-kampus serta beberapa gelas kimia yang semuanya bersih mengkilap dan tertata sangat rapih. Aku menyimpan toples itu di rak bersama 5 toples lainnya sambil menempelkan 3 jari  untuk memberi jarak dengan toples sebelumnya agar semuanya berjarak dengan presisi, aku pun merapihkan toples ke-enam itu agar labelnya menghadap depan persis seperti toples-toples lainnya, setelah selesai menata aku memandang kesemua toples lalu tersenyum puas.

Waktu menunjukkan pukul 6.20 wib seperti biasa aku harus segera berangkat menuju pasar Rebo tempat aku menjual hasil panen strawberry selama setahun kebelakang ini, aku menjual strawberry yang aku tanam dengan cekatan dan penuh ketekunan.

Memang terlalu siang bagi pedagang yang berjualan di pasar jika baru keluar rumah pukul 6.20 pagi ketika pedagang lainnya berbondong-bondong membuka lapaknya pada pukul 4 subuh, bukannya aku tak perduli jika rezeki dipatok ayam, hanya saja situasi yang membuatku  untuk tetap berjualan pukul 7 pagi sedari awal aku berjualan di pasar.

Almarhum ibu mendidik ku sedari kecil untuk bangun lebih awal dari ayam yang berkokok,

“permalukan ayam-ayam itu dengan bangun lebih dulu, nak…”

selalu begitu nasehat ibu, aku memang menuruti nasehat ibuku dengan baik dan sudah menjadi kebiasaanku hingga kini di usiaku yang menginjak 24 tahun.

Aku berfikir orang tidak akan sepagi itu untuk membeli daganganku, lagipula strawberry yang ku jual dipasar ini adalah sisa dari panen yang telah aku titipkan ke beberapa supermarket dan toko khusus buah yang sudah menjadi pelanggan tetap selama 4 tahun ini, biasanya supermarket dan toko buah itu cermat sekali dalam memilih strawberry yang aku pasok setiap 3 hari sekali, bentuk yang tidak ideal dan warna merah yang agak pucat atau terlalu merah tidak akan diambil begitu pula dengan kelopak daun yang menempel di buahnya harus bagus dan berwarna hijau segar tidak boleh kehitaman, itulah sebab mengapa aku berjualan dipasar sesiang itu dan hanya membawa satu keranjang saja yang beratnya tak lebih dari 10 kilo.

Di setiap pasar pasti ada premannya, terlebih di pasar Rebo tempatku berjualan ini premannya terkenal garang dan sering main celurit jika berselisih paham, konon katanya bukan hanya preman saja tapi banyak pesakitan entah itu bandar narkoba, maling hingga tukang judi togel yang sering nongkrong di pasar itu tak heran jika polisi sering menyatroni pasar Rebo untuk menciduk pelaku kriminal yang meresahkan warga maupun para pedagang disitu.
Namun demikian aku tak gentar berjualan strawberry di pasar Rebo itu, aku fikir toh aku berjualan sebentar saja hanya dari pukul 7 pagi hingga pukul 12 siang, aku hanya merasa cemas jika digoda oleh lelaki yang sedang mabuk,

“Kusuma!”

Baru saja memikirkannya kecemasan itu terbukti, seorang pemuda dengan tubuh kurus kering kerontang yang tampaknya habis oleh berbagai jenis narkoba dan matanya yang merah tanda habis mabuk memanggilku yang sedang berjualan.

Ke arah laki-laki yang memanggilku itu aku hanya melemparkan senyum ramah ku,

“nanti pulangnya abang antar ya…”

“jangan mau Kusuma, dia tidak punya motor untuk mengantarmu, sama aku saja aku bisa mengantarmu tanpa kepanasan atau kehujanan, keranjangmu simpan saja di bak belakang mobilku bersama keranjang dan tong-tong ikanku kau tinggal duduk manis disebelahku” ujar penjual ikan yang berjarak 4 lapak dari tempat ku berjualan.

“Hahaha…” keduanya malah tertawa berbarengan

Aku pun kembali tersenyum dan menunduk malu. Tiba-tiba si lelaki yang mabuk itu memalingkan mukanya dan bergegas pergi, tak lama seorang ibu-ibu menghampiri daganganku,

“nona manis, strawberry ini sekilo nya berapa?”

“tiga puluh ribu bu…” jawabku sambil menyodorkan sebuah strawberry untuk dicicipi

“manis sekali strawberry ini, seperti yang jualnya…” ujar si ibu sambil memandangku

“terimakasih bu, saya sendiri yang menanam strawberry ini” aku berkata sambil agak menunduk malu

“Kalo ibu mau, silahkan berkunjung ke kebun strawberry saya, disana cukup membayar 25 ribu ibu bisa memetik sepuasnya” tambahku lagi

“25 ribu sepuasnya? boleh…boleh… saya mau, siang ini bisa?” ujar si ibu penuh semangat

Aku pun segera membereskan daganganku kebetulan jam menunjukkan waktu pukul 11.45 kami pun mulai berjalan bersama menuju lokasi kebun strawberryku.

*

Susah payah aku membaringkan tubuh si ibu di ruang laboratoriumku, ‘koleksi’ ku kali ini membuatku bekerja keras dari biasanya aku kwalahan dibuatnya tak diduga dia memliki tenaga yang cukup besar untuk ukuran tubuh sekurus itu dan dia juga membuat sodium thiopental cairan super mahalku berserakan di lantai, namun demikian berati pilihan ‘koleksi’ ku kali ini akan sempurna, aku tak sabar untuk melihat harta karunku.

Sebelum membedah harta karunku, aku menyiapkan serangkaian perlengkapan dimulai dari mengenakan kacamata lalu menjajarkan alat-alat operasi seperti bermacam-macam jenis pisau dan gunting selayaknya seorang dokter bedah ketika hendak membedah pasiennya dan tak lupa memakai sarung tangan lateks agar tetap steril saat menyentuh semuanya, ketika pisauku hendak menyentuh kulit yang berada tepat diantara tulang belikat aku merasakan gugup luar biasa yang memacu adrenalinku sehingga membuat tanganku gemetar tak terkendali, namun situasi seperti ini sudah dapat kuatasi dengan baik aku pun menuju radio kesayangan ibuku yang kini menjadi miliku setelah ibu meninggal, aku memainkan lagu kesukaanku yang juga menjadi lagu ritualku.

Sesaat aku menekan tombol ‘play’  sebuah suara milik penyanyi Hozier mengalun dan mengiringku “bekerja” aku pun kembali pada tubuh ‘koleksi’ ku lalu dengan satu sayatan tegas aku membuat garis vertikal sambil mulutku turut bernyanyi :

I was born sick

But I love it

Command me to be well

Amen, amen, amen, amen

Take me to church

I’ll worship like a dog at the shrine of your lies

I’ll tell you my sins and you can sharpen your knife

Offer me that deathless death

Good God, let me give you my life

Keesokannya aku membuat lagi label namun kali ini bertuliskan “6 Juni 2015 a masterpiece” sebuah jantung yang sehat dengan bentuk se ideal strawberryku dan warna merah indah seperti strawberry ku. Koleksi toples berisikan jantung-jantung ku kini berjumlah 7, tidak semuanya jantung manusia, 5 koleksi pertamaku berisi jantung-jantung dari hewan.

Tiga minggu setelah aku menemukan masterpiece-ku barulah aku berjualan kembali di pasar, tidak seperti biasanya kali ini aku sedikit berdandan aku berani menguncir rambutku, aku menata rambut dengan membuat kuncir ekor kuda dan poniku aku biarkan tergerai di dahiku seperti biasanya, entah bagaimana namun hari ini aku merasa sangat pede jalanku pun hampir melompat-lomat seolah sedang menari, pokoknya hari ini aku senang sekali.

Tiba di pasar aku menata strawberry-strawberry-ku dan sengaja aku membuat bentuk hati dari strawberry ku dan memajang di keranjang agar menarik minat pembeli. Suasana pasar saat itu aku sadari cukup tenang, aku celingak celinguk mencari pemuda kurus kering yang biasa menggodaku, tumben dia tidak terlihat batang hidungnya kataku dalam hati.

Aku pun kembali pada strawberry ku dan mengambil pisau untuk memotong tangkai lalu aku mengelap bagian-bagian yang kotor, tiba-tiba dari berbagai arah segerombolan orang menyergapku lalu salah satu dari mereka mendorongku hingga aku tersungkur ke tanah dan membuat bibirku berdarah, rasa asin kurasakan saat aku menjilat bibirku yang terasa perih, dari pandangankuu aku hanya mampu melihat sepatu-sepatu dari orang yang menyergapku rupanya mereka polisi.

Salah satu polisi menindihku dengan menduduki punggungku aku merasakan bagian belakang kepalaku ditekan oleh benda keras yang aku yakin itu pistol milik si polisi aku semakin tidak berkutik, lalu dengan sigap polisi-polisi lain menginjak kaki ku dan polisi lainnya lagi menendang tanganku yang masih menggenggam pisau sehingga membuat pisau ku terpental jauh, polisi-polisi itu meneriaki ku, membuatku sulit untuk menjawabnya satu persatu

“TIARAAAP!!”

“JANGAN BERGERAK!”

“JANGAN MELAWAN!!”

“DIMANA KAU MENYEMBUNYIKAN IBU ITU?!!”

Posisiku kini berlutut dengan tangan terborgol di belakang kepala lalu aku dipaksa untuk berdiri, bajuku kotor rambut ku beberapa terlepas dari kuncirannya, seorang polisi bergegas maju mendekatiku menggeledah tubuhku kali-kali ada senjata lain yang kusembunyikan namun nihil, polisi itu tidak menemukan apa-apa kecuali beberapa lembar uang dan receh logam pada saku celana jeans-ku.

Saat aku digiring dan berjalan diseret-seret kasar oleh polisi menuju mobil tahanan aku mendengar orang-orang di pasar saling meneriaki ku;

“MANUSIA KEJI!!!”

“PEMBUNUH!!!!”

“TAMPANG LUGU MU HANYA KEDOK!! BIADAB!!”

Dalam kawalan dan genggaman kuat polisi, ternyata ada celah yang membuat seseorang melayangkan celurit ke arahku, aku refleks melindungi kepalaku dan tangan yang menjadi tamengku terkena sabetan celurit itu seketika darah segar langsung mengucur dari lenganku dan menetes mengenai pipiku, polisi semakin menyeretku untuk berjalan lebih cepat kemudian polisi lain bergegas menahan orang yang melayangkan sabetan celurit kepadaku namun si pria celurit itu berusaha melepaskan diri dari cengkraman polisi sambil berteriak;

“Itu ibuku yang kau ajak kemarin!! kau apakan ibuku?!!”

aku menatapnya dari balik rambut-rambutku yang tergerai

“maaf, aku tak sengaja membunuh ibumu” jawabku sambil tersenyum tipis

“DASAR IBLISSSS!!!”

“MENGAPA TAK KAU BUNUH SAJA AKU!! DASAR KAU WANITA BINATANG!!!!”

“Jantungmu buruk” aku menjawab dengan santai dan tetap tersenyum

Si lelaki itu menangis meraung-raung melolong pilu dan aku makin tertawa mendengarnya.

Polisi berhasil memasukanku kedalam mobil tahanan sebelum masyarakat geram dan merebutku untuk main hakim sendiri.

Didalam mobil aku hanya tertunduk dengan tangan masih dibrogol kebelakang, dalam hati aku hanya berbisik yang hanya dapat aku dengar sendiri

“Bu, aku menemukan jantung yang sehat, ajak aku bersamamu sekarang “

Aku hanya bisa menitikan air mata dengan sambil tersenyum penuh makna yang tersirat yang bahkan aku pun tak dapat menyimpulkan apa-apa dari semua itu, dengan lirih aku berucap;

“Tuhan, maafkan aku…”

Pikiranku melayang aku merasa sangat letih lalu semuanya menggelap.

**

Advertisements

14 thoughts on “Gadis Penjual Strawberry

    • Waaa… terimakasih mba sandrine, jadi serasa ‘terbang’ dipuji gitu. hihi makasih banyak jempol2 nya.
      eniwey panggilnya rani aja, sungkan saya kalo dipanggil ‘mba’ sama yang sudah berkeluarga hehe 🙂

      Liked by 1 person

  1. Ending yg ga biasa.
    Gadis yang semula dalam imajinasiku imut dan manis, bisa sedingin itu.
    “Maaf, aku tak sengaja membunuh ibumu” di strike through saja.

    Like

Silahkan komen tapi karetnya satu aja *jangan pedes-pedes*

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s