Renungan Rani

IMG02018-20141224-1322

Post gw ini terinspirasi gegara liat angkot ini. Angkot ini nyata ada tulisan gitunya, jurusan Gede Bage – Sadang Serang.

“Assalamu’alaykum warrahmatullahii wabarakatuh”.

“Wa’alaykumsalaam…” sebuah suara menjawab salam lalu dengan cepat kami langsung berpelukan, namanya Vindi dia adik ke dua dari sahabat gw. Selanjutnya gw memeluk erat satu persatu keluarga yang sedang berduka itu sambil berucap “yang tabah yaa, yang ikhlas yaa…” Dan ya, seluruh keluarga terlihat tabah dan mengikhlaskan dengan apa yang sudah menjadi ketentuan Allah swt, namun justru kata-kata itu tidak berhasil untuk diri gw karena air mata gw malah bercucuran kontradiksi dengan apa yang gw ucapkan.

“Maafkan segala kesalahan almarhum ya nak…” bisik sang ibu ke gw yang membuat gw makin tersedu sedan

“Kamu yang tabah ya nak, jangan menangis” bisik sang ayah yang justru membuat air mata gw menderas.

“Mengapa kalian begitu tabah?” Tanya gw ke ibu almarhum sahabat gw, ibu menjawab kami harus ikhlas, kami harus meneruskan apa yang menjadi cita-cita almarhum untuk merawat Salsa, anak semata wayang almarhum dan kami masih memliki tanggung jawab kepada keempat anak kami yang lain”. Sedangkan kamu nak, Kamu kehilangan sahabat terbaikmu kata sang ibu sambil memegang pundak seolah mencoba menguatkan gw yang terus menangis sedu sedan.

Maafin gw sahabat, seharusnya gw berada di samping lo ketika lo butuh, seharusnya gw ada buat menghibur ketika lo berjuang menahan sakit yang luar biasa setelah kemoterapi.

Maafin gw sahabat, gw terlambat mengetahui semuanya, gw bukan sahabat yang baik air mata hangat meleleh di kedua pipi gw dan gw merasakan penyesalan yang teramat dalam. Gw berada di ambang kesadaran antara percaya dan tidak, seolah baru kemarin gw menjadi pengiring pengantin di hari pernikahannya, gw inget saat kita dimarahi oleh sang ibu karena kita tertawa ‘berlebihan’ hingga membuat kita mengompol, betapa kita pernah mengabaikan rasa sakit di sekujur badan saat kita jatuh dari motor sepulang dari berkelana di hutan saking kita takut dimarahi oleh orang tua daripada merasakan baret-baret di kaki kita.

Ah sahabat, mengingat itu semua hanya menambah kerinduan yang hanya dapat gw kenang seorang diri.

“Demi Tuhan maafkan aku, tempatmu di Surga, kamu berjihad di jalan allah, berbahagialah disana sahabatku…”

Selamat jalan sahabat terbaikku,

~Yuliana Dewina Odega~
18 Juli 1982 – 3 Nopember 2015.


Gw menyadari bahwa urusan mati tak kenal usia, selama kita masih berada di dunia ini tugas kita untuk berbuat amal dan mengumpulkan pahala sebanyak mungkin.
Memori manusia dengan dahsyatnya menyimpan ber juta-juta peristiwa, setiap peristiwa baik itu manis maupun pahit terekam dengan baik di serebrum memori penyimpanan yang lebih hebat dari memori komputer.

Sedikit banyak memori membentuk kebiasaan setiap manusia. Kebiasaan yang kemudian menjadi sifat dan sifat yang selanjutnya membentuk karakter. Pribadi gw yang sekarang ini merupakan akumulasi dari memori kehidupan yang telah gw jalani dan memberikan banyak pembelajaran yang gak gw terima di bangku sekolah dimana pengalaman adalah guru yang terbaik.

Setiap proses kehidupan yang gw lalui tidak semuanya berjalan mulus gw mencoba memetik keping hikmah dari setiap kesalahan yang gw perbuat.

Teruntuk orang-orang di masa lalu gw, gw mau menyampaikan permohonan maaf kepada orang-orang yang pernah hadir dalam kehidupan cinta gw karena gw gak tahu kapan nafas ini terhenti dan gw gak tahu kapan gw berenti terbenam dalam kesibukan baik duniawi maupun akhirat. Sejujurnya gw sungkan untuk kembali berkomunikasi dengan kalian, jika berkenan izinkan gw menyambung tali silaturahmi melalui tulisan ini;

1. Christopher
Gw udah memaafkan semuanya terutama tentang daging babi itu, se engganya gw jadi tau ternyata gw alergi babi. Maafin gw yaa, semoga lo memiliki pendamping hidup sesuai dambaan lo dan segera menikah. amin

2. Badak
Maafin gw ya badak, gw seneng bisa kenal sama keluarga lo, koko-koko lo yang udah baik banget ngedukung hubungan kita yang beda dalam segala-galanya terutama etnis kita, terutama mamih dan papih yang justru berusaha supaya kita jadi bersama namun apa daya takdir berkata lain. Perbedaan itu memang indah, tapi tidak untuk keyakinan.

3. Abang
Bang maafin yaa atas sikap gw yang gak berkenan di hati abang. Ummm… Denger-denger kalian sudah menikah ya? Cieeeehh selamat yaa gw turut berbahagia. Pesen buat kalian: jaga sahabat gw baik-baik dan jaga mantan gw baik-baik 😀 gw seneng kalian berjodoh. Gw sayang kalian berdua.

4. Jujus
Gw minta maaf setulusnya, ternyata LDR itu tidak baik untuk kita.

5. Mas
Maafin ya mas kalo gw terlahir lebih dahulu dan maafin juga karena gw memiliki darah Sunda. Bagaikan klub favorit kita, Intermilan dan Barcelona itu tidak pernah bertemu, begitu pula hubungan kita. Gw pikir perang Bubat itu hanya tinggal sejarah tapi ternyata… anyway terimakasih telah mengajari gw banyak hal dan membuat gw ga cupu lagi 😀

6. Ayah
Seandainya kita satu visi, pasti kita… Aku… Kamu… Ah syudahlah. Maafkan aku yah’ yang tidak memahami semuanya dari sudut pandangmu.

Banyak hikmah yang yang gw dapetin selama berhubungan dengan sederetan orang di masa lalu gw semuanya memiliki kisah kasih tersendiri dan gw doakan kalian selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa, diberikan kesehatan yang berkah, rezeki yang melimpah dan bahagia selalu. Aamiin.

Terimakasih untuk kalian semua, kalian adalah orang-orang yang sangat baik,  dengan segala kerendahan hati dan dari lubuk hati yang paling dalam gw sampaikan permohonan maaf ini.

Sesungguhnya sempurna itu datangnya hanya dari 2 causa yaitu; dari Tuhan YME dan dari rokok #SAMPOERNA *dikeplak mamah dedeh*.
(Intermezzo gais, biar ga sedih-sedih)

Kesempurnaan itu datangnya hanya dari Allah subhanahuwata’ala dan segala salah dan khilaf datangnya dari diri gw pribadi. Akhirul kata Wassalamu’alaykum warrahmatullahii wabarakatuh.

~ sekian tulisan yang apalah apalah ini semoga berkenan  ~

Advertisements

10 thoughts on “Renungan Rani

  1. Mbak, jadi umurmu yang sebetulnya itu berapa Mbak? *loh*
    Turut berduka cita, semoga sahabatmu diterima di sisi-Nya, dan keluarga yang ditinggalkan, termasuk sahabat-sahabatnya yang baik seperti dirimu, diberi ketabahan. Eh, ngomong-ngomong, yang pernah kau ceritakan padaku itu adakah di dalam daftar? Kayaknya yang nomor terakhir, ya? :hehe :peace *kabur*

    Like

Silahkan komen tapi karetnya satu aja *jangan pedes-pedes*

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s