Menangis Dalam Hujan

Usiaku 16 tahun orang bilang aku masih bau kencur, aku sendiri baru mengetahui arti bau kencur ketika usiaku 10 tahun, saat itu aku sedang menemani nenekku di dapur, nenek memberiku 2 ruas serupa jahe untuk aku bersihkan, aku pun mengamatinya lekat-lekat.

“Cikur!” Suara nenek tiba-tiba
“Hah?” Kataku
“Kencur” kata nenek lagi
“Haahh??” Kataku semakin menganga
“Itu yang ditanganmu namanya kencur cu’, atau cikur kalau kata orang sunda”
“Kelas rhizoma ya nek?” Kataku lagi
“Hah?” Gantian nenek yang menganga
“Gunanya apa nek?” Kataku mengalihkan pertanyaan
“Yaa sebagai bumbu, membuat masakan harum dan citarasa”
“Iya nek, harumnya khas” kataku seraya memberikan kencur yang sudah dicuci kepada nenek, kemudian nenek langsung mengulek bersama bawang putih, garam dan ketumbar.

Itulah pengenalanku tentang ‘bau kencur’ yang betul-betul secara harafiah sekaligus kenangan terakhir bersama nenekku.
Sejak nenek meninggal saat aku berusia 12 tahun aku tinggal sebatang kara, ayahku lebih dulu meninggal ketika ibu sedang mengandungku dan ibuku sendiri meninggalkanku ketika aku berusia 12 bulan lalu menitipkan kepada nenekku.

Umumnya orang dewasa dikampungku bekerja sebagai TKI sedangkan anak perempuan mereka dibawa ke kota untuk ‘diajari’ cara mendapatkan uang yang banyak dan kembali ke kampung dengan wajah penuh pulasan make-up dan baju yang serba kecil seperti milik adik mereka, semua itu dilakukan untuk menghilangkan kepolosan dan keluguan para gadis ketika awal mereka berangkat ke kota.

Kami menyebutnya dengan ‘orang kota’ yang datang ke kampung kami untuk menjemput para gadis dan dibawa ke kota sebagai gantinya orang kota memberikan modal berupa uang jika anak gadis mereka sebagai tulang punggung keluarga, orang kota menjanjikan bahwa anak gadis mereka akan bekerja di kantoranΒ  atau paling tidak jika hanya tamatan SD akan dijadikan baby sitter pokonya jenis pekerjaan yang halal. Biasanya setahun kemudian para gadis pulang kampung mendadak bermobil dan membawa banyak tas belanjaan serta oleh-oleh, ada juga yang tidak pulang namun mereka mengirimi keluarganya uang, lalu Koh’ Budi satu-satunya pedagang bahan bangunan di kampung kami mendadak laris, uang hasil jerih payah anak gadis mereka dipakai untuk merenovasi rumah. Ketika aku masih kecil aku ingin sekali lekas besar agar bisa merenovasi rumahku yang sudah 3 turunan ini menjadi bagus seperti warga lain dan bisa membeli kendaraan.

Dan disinilah aku anak gadis kampung yang dijemput oleh orang kota tanpa memberikan uang pengganti karena aku sebatang kara. Aku berusaha mewujudkan mimpi di kota ini dimana uang berputar sangat cepat, berbisnis apapun disini pasti laku bahkan angin pun dijual! Bayangkan saja setiap 25meter terdapat tukang tambal ban dan isi angin! semua orang kota memiliki mobil paling tidak motor. Aku memang belum menghasilkan, aku belum berkarya apa-apa di kota ini, kota yang gadis-gadis dikampungku dapat menghasilkan uang banyak tanpa harus bekerja keras bagai kuda.
Nyonya adalah wanita separuh baya yang menampungku ketika aku tiba di kota ini, aku dirawat dengan baik oleh Nyonya diberi makan dan diajari cara memake-up agar terlihat memukau, Nyonya bilang aku spesial oleh karena itu aku akan dipekerjakan di sebuah kantor perusahaan besar dan hebat. Sudah hampir setahun aku tinggal gratis di rumah Nyonya, aku merasa tidak enak oleh karena itu aku membantu pekerjaan rumah tangga Nyonya, dan setiap kali aku selesai membantunya aku meminta nyonya hal lain apa yang bisa kukerjakan? Tapi Nyonya jarang sekali menyuruhku, aku terlalu disayang olehnya. Nyonya bilang 2 bulan lagi aku diperbolehkan bekerja, aku pun tidak sabar aku sangat ingin segera bekerja dan menghasilkan banyak uang, aku ingin membangun rumah dan membeli seekor anjing Golden Retriver untuk menemaniku. Bahkan aku punya cita-cita untuk membuat rumah penampungan bagi anjing-anjing yang terlantar atau cacat. Aku punya rekaman buruk mengenai anjing-anjing cacat, suatu hari sepulang dari sekolah aku melewati kebun dan mendapati banyak laki-laki sedang berkerumun, aku pikir mereka sedang berjudi sabung ayam tapi tenyata tidak, aku mendengar dengkingan anjing, salah satu dari kelompok laki-laki itu memegang balok kayu dan menghantam bagian apapun di dalam karung itu. Karung itu bergerak-gerak lalu mendengking lagi, aku bertanya ke salah satu laki-laki disitu,
– “Apa itu didalam karung?”

– “Anjing”

– “Salah apa anjing itu hingga dipukuli seperti itu?”

– “Anjing itu cacat, matanya buta dan tidak berguna”

-“Kenapa harus dipukuli?!” Kataku mulai emosional

-“Daging anjing akan semakin lezat, jika dibunuh tanpa mengeluarkan darah”

-“Kalian akan memakannya?!!” Aku mulai menangis

-“Oh, tentu saja”

Aku tak sanggup membayangkannya, aku merasa sangat marah, emosiku tercabik-cabik aku pun berlari pulang menuju rumah, aku menangis sejadi-jadinya aku melolong bagai kesakitan MANUSIA BIADAABB!! MEREKALAH YANG BINATANG!!!. Dan rekaman pemandangan itu terus terngiang hingga kini dan menjadi obsesiku untuk membuat rumah penampungan bagi anjing yang cacat, terlantar dan tidak diinginkan oleh majikannya, aku berjanji akan merawat sepenuh hati dan menyayangi mereka.

7 Pebruari ini usiaku genap 17tahun, dan di hari ini pula akan menjadi hari pertama aku bekerja, sore nanti aku akan diantar ke sebuah villa di daerah puncak oleh sebab itu aku bersiap diri semenjak tadi pagi dan aku sangat bersemangat akan hal ini. Aku mengetuk pintu rumah nomor 210 sebanyak 3x dengan jeda 3 ketukan, sengaja aku buat demikian agar terkesan terdengar elegan dan tidak terburu-buru. Mungkin yang didalam rumah tidak peduli dengan cara mengetukku dan mungkin tidak akan menilai apa-apa dari caraku mengetuk pintu. Tapi menurutku cara mengetuk sudah aku pikirkan karena bagaimanapun ini proyek pertamaku dan aku ingin berjalan lancar.

Seorang pria membukakan pintu untukku, dia berbadan tegap agak gempal, kulitnya kecoklatan dan tinggiku hanya sekuping dia, menurutku dia tidak terlalu tinggi untuk ukuran pria. Aku menyodorkan tanganku untuk bersalaman dan hendak memberitahu namaku namun tanganku menggantung cukup lama karena si pria tidak membalas jabatan tanganku, aku pun menarik tanganku lalu mulai berbicara macam-macam, perusahaan di bidang apakah yang akan menjadi tempatku bekerja? Tugasku apa saja? Apakah aku bekerja dengan komputer? Untuk microsoft office aku lumayan menguasai, aku bintang kelas semenjak aku SD hingga SMP, kataku sedikit pamer, Aku juga bilang jalan menuju rumah ini sepi sekali, tidak ada warung satupun dan mengapa setiap rumah begitu tertutup? Seperti tidak ada kehidupan, akupun menanyakan bagaimana jika laper tengah malam apakah ada tukang nasi goreng yang lewat? Tanpa menjawab satu pun pertanyaanku si pria meraih hape di rak buku dekat kami berdiri,

” Kenapa aku diberi yang seperti ini? ” Ujarnya kepada seseorang diujung telepon.
” Ya memang aku minta perawan cantik dan aku sudah membayar mahal untuk itu bukan?! ” Ujar si pria dengan nada meninggi
” Dia terlalu banyak bicara!!” Ujar si pria dengan nada lebih tinggi dari yang barusan lalu mematikan hapenya dan melemparkannya ke meja lalu mendarat jatuh mengenai kakiku.
” Aaww ” sakit tau! Kataku seraya membungkuk mengambil hape dan meletakannya ke meja.
Tanpa diduga si pria menubrukku ke arah dinding
“apa yang…” Belum selesai aku menyelesaikan kalimatku tangan si pria membungkam mulutku dan dia mulai mencumbuiku dan aku tidak dapat berontak, aku mengerahkan seluruh tenagaku untuk mendorong si pria, diapun sedikit mundur kebelakang, setelah itu dia malah meraih pinggangku dan menghempaskanku ke sofabed di ruangan itu, kini posisiku terkunci aku sama sekali tidak dapat bergerak aku bahkan kesulitan untuk bernafas, pria itu menindihku dan semakin bernafsu mencumbuiku seolah dia hendak memakan wajahku, ada sedikit sensasi merinding ketika ia mencium leherku lalu turun ke dadaku, disaat itulah aku berusaha untuk berbicara
“Kumohon jangan lakukan ini” kataku nanar dengan suara bergetar
“Selamatkan aku” kataku lagi
Entah karena apa tiba-tiba pria itu berhenti menciumiku, si pria menatapku sambil terengah-engah
“Aku yakin kau pria baik, tolong selamatkan aku” kataku mengiba
Si pria menundukkan wajahnya tidak berani menatapku, diapun lalu berguling kesebelahku tapi aku terlalu shock untuk bangun, jadi kami berbaring berdampingan.
“Siapa namamu?” akhirnya si pria bersuara untuk pertama kalinya,
“Ni-nid-nidar” jawabku sedikit gagap
“Orang-orang biasa memanggilku dengan itu, nama lengkapku Nidurinah” kataku sambil menyodorkan tangan ke arah kiriku, dan tanganku terlihat begetar hebat.
Dan kali ini si pria menjabat tanganku namun tanpa menyebutkan namanya. “Tadi adalah Nyonya” ucapnya tiba-tiba
“Maaf?” Kataku sambil menoleh kearahnya
“Yang tadi aku telepon, itu Nyonya mu” “Nyonya menjualmu kepadaku”
Aku tidak dapat berkata-kata, mengapa aku begitu bodoh? Mengapa aku begitu percaya terhadap omongan Nyonya? Yang bagaimanapun dia adalah seorang mucikari, tugas dia hanya menjual gadis-gadis kepada pria hidung belang, mana mungkin Nyonya punya perasaan. Air mataku seketika meleleh mengalir di pelipisku.
“Silahkan jika kau mau pergi, aku tidak akan menahanmu”
Aku pun bangkit dan membenahi pakaian dan rambutku yang kusut.
“Ini sisanya…” Si pria melemparkan amplop putih dengan tulisan “Rp.3.500.000″
” Ambillah ”
” Uang muka sudah aku bayar ke Nyonya, jadi uang ini akan menjadi urusanmu dengan Nyonya, aku tidak ikut-ikut”.
“Terserah kau mau menilaiku dengan pria mesum, bejat atau apapun”
“Yang pasti aku bukan penipu, aku sepakat membayarmu 7juta kepada Nyonya”

Aku berjalan dalam gulita, aku terus berjalan entah menuju kemana, aku hanya ingin kembali ke kampung halamanku. Aku tak peduli jika aku harus kembali dengan keadaan lusuh dan tidak membawa banyak tas belanjaan dan oleh-oleh, aku tak perduli jika tidak bermake-up biarlah aku kembali ke kampung tanpa kesuksessan, aku tak perlu itu! Aku tak mau itu semua!! Aku benci kota! Aku benci dengan perempuan yang bergaya dengan “topeng” mereka yang hanya dipakai untuk menyembunyikan kesedihan mereka, aku merasa jijik atas ini semua terlebih lagi aku merasa jijik atas diriku sendiri, aku merasa sangat kotor.
Aku merasa sangat letih, kakiku menjadi berat dan aku tak mampu memaksa kedua kakiku untuk berjalan lebih jauh, bahkan kakiku merasa tak mampu menahan tubuhku. Aku pun ambruk ditrotoar, aku menangis tersedu-sedu, tubuhku kedinginan oleh hujan yang sedari tadi menemaniku berjalan. Hanya pipiku yang terasa hangat, hangat oleh tangisku yang terus mengalir di pipiku. Aku teringat obsesiku, bagaimana aku bisa menolong anjing-anjing cacat jika aku tidak mampu menolong diriku sendiri?. Aku memaksakan diri untuk berdiri, namun aku hanya mampu mengangkat tubuhku hingga berlutut, aku memandang langit memandang bulir hujan yang terus turun membasahi bumi.

Dalam berlututku aku menangkupkan tangangku dan berdoa,
Tuhan, kumohon hentikan sedu sedanku, beri aku kekuatan, lindungilah aku, aku hanya ingin pulang…

Posted from WordPress for BlackBerry.

Advertisements

8 thoughts on “Menangis Dalam Hujan

    • Makasih mba Kay, iyah kayanya aku berbakat deh bikin novel… *sok pede *noyor diri sendiri πŸ˜€

      Oiyaa…masakan yg pake kencur salah satunya urap. Itu yg diulek ama si nenek kan bumbu rempeyek.
      Eeaaak… Kodrat ibu2 ujung2nya jadi kedapur juga πŸ˜€

      Liked by 1 person

      • keep up the good work ran πŸ™‚

        iya ya rempeyek juga pake kencur plus irisan daun jeruk ya kalo gak salah…

        btw saya lebih suka malan rempeyek teri.

        soal ke dapur skarang gak hanya emak-emak ran. disini co gak laku kalo gak mau bantuin ngurusin kerjaan domestik :p

        salam
        /kayka

        salam
        /kayka

        Like

      • Thank you mbak kay, all the best wishes for you too πŸ™‚

        Iya bener pake irisan daun jeruk jadinya harum, rempeyek teri atau rebon biasanya cocok buat temen makan nasi.

        Uwwaahh,,makin pengen satu cowo sono dilempar ke aku mba, lumayan buat ngulek/ cuci piring πŸ˜€ *ngarep banget

        Liked by 1 person

Silahkan komen tapi karetnya satu aja *jangan pedes-pedes*

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s