91 Hari 72 Jam Dan Entahlah

Aku mengedarkan pandangan di sekelilingku ternyata tempat ini cukup luas, lalu aku berjalan ke sudut lapangan bulutangkis yang fungsinya sudah tidak sesuai dengan namanya dan ternyata aku salah menilai ternyata tempat ini sangat luaaaaaass, tempat ini seperti komplek perumahan dengan berisi 5 cluster, setiap cluster terdiri dari 2 rumah besar dan 1 lapangan. Bedanya rumah disini tidak mewah hanya besar, ya besar dan sederhana. Tidak ada mobil terparkir tidak ada taman dengan landscape yang menawan hanya ada beberapa Xansivierra yang dibuat seperti pagar dan beberapa tumbuhan lainnya yang berfungsi sebagai anti polusi serta pohon kecil dengan diameter 2 meter dan tinggi 5 meter, pohon ini kecil dibandingan dengan pohon Trembesi yang berada di gerbang depan dengan dimensi diameter 5 meter dan tinggi menjulang hingga 11 meter. Pohon ini pasti sudah tua pikirku, satu-satunya alasan mengapa pohon itu tidak ditebang mungkin karena tidak membahayakan apapun tidak ada kabel listrik yang saling melintang dan tidak ada rumah di sekitar pohon itu hanya ada bangunan pos kecil yang kalau kalau suatu saat pohon itu tumbang akan menimpa pos itu, tidak ada ruginya kukira.

“Priiiiiiiittt” suara peluit mengagetkanku yang sedari tadi asyik melihat pemandangan dan memisahkanku dari kelompokku, reflek aku memasukan telunjukku kelubang kupingku, si petugas memandangku seolah berkata ‘kembali kedalam barisan!’ Aku pun melangkah dan masuk kedalam barisanku ‘aku tidak tuli, bodoh!’ Aku mengumpat dalam hati. ‘Priiit priit’ kali ini bunyi pluitnya tidak senyaring tadi yang bisa membuat gendang telingamu rusak, bunyi pluit ini menandakan bubarnya barisan. Begitulah komunikasi disini kebanyakan menggunakan komunikasi nonverbal, mungkin komunikasi secara verbal akan percuma bagi orang-orang disini agak sulit untuk dipahami.

Aku sudah mulai muak berada disini, aku harus pergi dari sini di ruang makan berukuran 6×8 meter seperti biasa aku mengambil tempat paling pojok di meja makan favoritku yang sudah aku tempati selama 85 hari ini dan meja inilah satu-satunya yang memiliki 2 kursi saling berhadapan, yang lainya meja makan panjang dengan kursi berbanjar muat untuk 6 orang,hanya diruang makan ini aku bisa berkonsentrasi memikirkan strategi untuk bisa keluar dari sini.

Setiap hari Rabu kegiatan PKK (Program Karya Kelompok) tidak jadi sebagai penggantinya kami diizinkan untuk bersantai-santai dan kebanyakan teman-temanku mengobrol dengan keluarga mereka yang datang membesuk. Aku? Aku sendiri hanya duduk di ranjangku dan asyik mengisi buku Sudoku sambil terkadang pikirannku mengawang-ngawang. Bukannya aku tidak mau mengobrol dengan keluargaku seperti halnya teman-temanku, hanya saja tidak ada keluarga yang datang mereka semua sibuk.
Aku anak kedua dari 2 bersaudara, kakakku sudah berkeluarga dan memiliki anak kembar usia mereka sekarang 7 tahun terakhir aku bertemu dengan keponakan kesayanganku itu setahun yang lalu aku sangat rindu pada mereka, setiap bertemu mereka pasti berteriak ‘Oooomm Jaann cuu…akep’ kakakku sudah berkali-kali menasehati anaknya untuk tidak menyingkat dan memanggil namaku menjadi Om Jan Cakep.

Panggil Om Nizan aja kata kakakku kepada anak kembarnya,

Tapi kan benar yah’ Om Jan lebih cakep daripada ayah,

NI-ZAN ulang kakakku,

OM-JAN-CUU..AKEP! sambil mengacungkan jempol kearahku kata si kembar keukeuh sambil cekikikan.

Aku rasa hanya si kembar ini yang menyayangiku dengan tulus, entah karena mereka sangat suka jika aku belikan eskrim sehingga tidak peduli dengan segala keanomalian padaku, malah aku merasa nyambung jika ngobrol dengan mereka. Dan ketika ayah mereka mulai menegur kami ‘Kalian ini ngobrol apa? Gak nyambung begitu’ maka kami akan semakin berisik dan seru membicarakan apapun. Ibu si kembar melarang mereka untuk dekat denganku, aku tahu karena si kembar bertanya dengan polosnya “Om Jan kenapa sih kita gak boleh deket ama Om Jan? Kata bunda Om Jan gini” si kembar membuat isyarat dengan menempelkan telunjuknya depan dahi “artinya apa om?” Aku pun menjawab mereka “artinya bunda kalian gak suka kalau kalian kebanyakan makan es krim”, “Ooohh, bunda sirik” ujar si kembar berbarengan, aku tak mungkin mengatakan bahwa isyarat yang tadi adalah ‘gila’ si kembar pasti akan menjauhiku entah tetap sayang, entahlah hanya saja aku tak ingin si kembar mendengar makna konotasi yang tidak perlu di usia mereka.

Tiba-tiba beberapa temanku mulai menempelkan diri mereka pada tembok kaca di barak tidur kami, ruang tidur kami berupa barak dengan hanya 2 kamar mandi, ranjang pun seadanya busa yang kempis tanpa guling hanya ada 1 bantal dan satu selimut tipis, ranjang diruang ini ditata berbanjar 6 sebanyak 5 baris, masing masing ranjang hanya berjarak 2 langkah memang bukan ruang yang leluasa dan jauh dari kata privasi namun begitulah adanya, berharap apa di tempat seperti ini. Rupanya ada makhluk manis diluar ruangan sedang mengisi buku tamu di meja depan, seorang cewek berjilbab dengan wajah manis dan pakaian yang santun, aku tetap diranjangku memandangi cewek manis tersebut tidak seperti teman-temanku yang norak menempel dikaca sambil dadah-dadah. Aku merasa cewek itu memandang ke arahku aku pun mencoba bersikap sopan dengan menangkupkan kedua telapak tanganku ‘Assalamualaykum’ aku bersuara tanpa berbunyi dan betapa girangnya hatiku ketika cewek berjilbab itu pun menjawab ‘wa’alaykumsalam’jua tanpa bunyi, sambil memberikan sekilas senyuman yang sangat manis. Ingin rasanya mengenal dia, namun rasanya itu hanyalah mimpi bagiku. Mimpi yang harus aku wujudkan.

Hari Kamis ada Dokter yang mengecek kesehatan kami, tapi tidak semua hanya random beberapa dari kami, sungguh perbandingan yang tidak adil pikirku satu dokter untuk kami yang satu barak ini, jangan-jangan satu dokter itu untuk keseluruhan tempat ini aku mulai membayangkan betapa sibuknya dokter itu. Lalu tanpa diduga namaku dipanggil ‘Arkandaru Nizan’ seorang perawat memanggil namaku, aku pun bergegas turun dari ranjangku dan memasuki ruang kesehatan, didalam dokter sedang membaca rekam medisku, “saya dok?” Si dokter pun menyilahkan aku duduk sambil menyiapkan alat tensi dan memasangkan pada lenganku,
“saya sudah 92 hari lho disini”
“oh yaa?” Si dokter berkata singkat
“tensi kamu rendah banget”
“saya kapan bisa pulang dok?” ucapku tanpa peduli pertanyaan si dokter
“kamu obatnya diminum kan?” Jawab si dokter yang juga tidak peduli dengan pertanyaanku
“Saya tidak betah disini dok” ucapku semakin tidak peduli dengan pertanyaan si dokter
“Betah-betahin dong, kamu nanti juga pulang kok” yes! Akhirnya si dokter yang kalah dan dia menjawab pertanyaan-pertanyaanku. “Obatnya harus diminum ya” ucap si dokter yang sepertinya dia tahu aku beberapa kali tidak minum obat-obat tersebut.
Aku pun bersiap keluar ruangan si dokter menegaskan lagi “janji ya obatnya diminum”
“Iya” jawabku sambil beranjak dari kursi
“Untuk kehidupan yang lebih baik” kata si dokter tanpa aku mengerti apa maksudnya.

Malam ini aku bertekad untuk keluar dari tempat ini dan tekadku sudah bulat! Jam 7 malam para perwat sudah menyiapkan 3 obat untuk kami, setelah 83 hari mempelajari aku tahu obat kecil yang berwarna pink adalah Chloppromazine dan yang putih Haloperidol aku benci dua obat itu aku pun pura-pura meminumnya padahal selagi perawat itu lengah aku memuntahkan obat tersebut, aku hanya meminum 1 obat yang memang untuk vitamin saja. Jam 8 malam efek obat mulai bekerja, teman-teman satu barakku mulai mengantuk dan aku yakin jam 9 teman-temanku mulai tertidur pulas, memang itulah tujuan dari obat tersebut dan jam 10 malam para petugas tidak menjaga kami terlalu ketat, jarum jam sudah menunjukkan pukul 10 malam saatnya aku melancarkan aksiku yaitu kabur. Ya, aku sudah tidak tahan berada disini aku harus keluar dari tempat ini, HARUS! Kataku dalam hati.

Susah sekali untuk menembus keluar pintu barak ini, diluar ruangan ada seorang perawat sedang menulis laporan di masing-masing catatan rekam medis kami, seharusnya ada 2 perawat yang bertugas di masing-masing barak, tapi sepertinya setiap perawat disini sudah sepakat untuk bergantian jaga, jadi bisa dipastikan satu perawat sedang tidur di ruangan periksa kesehatan. Entah sudah berapa lama aku berjongkok di balik pintu barakku ini, rasanya kakiku mulai kesemutan, tapi inilah satu-satunya akses aku menuju luar bangunan ini. Hore! Aku bersorak dalam hati saat si perawat meninggalkan meja depannya, kesempatan itu langsung aku gunakan untuk membuka pintu dan menyelinap keluar dan berlari, namun aku tidak segera berlari aku tertahan oleh sesuatu, memang tindakan bodoh karena bisa saja dalam beberapa detik si perawat kembali ke meja ini dan menangkap basah aku yang hendak kabur ini dan pelarianku gagal, tapi aku merasa aku harus melihat buku itu, buku yang tempo hari diisi oleh cewek cantik berjilbab itu, aku membuka buku tamu itu dan mencari hari ketika dia datang. Dapat! Aku hampir memekik kegirangan buru-buru aku membaca namanya : Faradilla Jl. Kembang Picung No.28, nomor telepon : 423-57-2… Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki, aku pun segera menyelinap keluar ketika hendak berlari ternyata di depan ada 2 petugas sedang berbicara dan hendak menuju ke arahku.

Oh tidak! aku pasti tertangkap, gagal sudah rencanaku pupus sudah harapannku menemui Faradilla, entah ini hari keberuntunganku atau bagaimana yang jelas si dua petugas tadi berbelok untuk mematikan rokok mereka, aku pun segera bersembunyi dibalik pohon. Saat si dua petugas melewatiku jantungku rasanya berdebar terlalu kencang, sehingga aku khawatir mereka akan mendengarnya dan keringat dingin mulai menjalariku, ayolah! biarkan mereka hanya lewat saja dan mengerjakan keperluan mereka dan biarkan aku lancar mengerjakan keperluanku yaitu kabur. Aku teramat sangat berterimakasih pada pohon ini dan tak lupa menciumnya saat 2 petugas berlalu melewatiku sambil tetap mengobrol, pohon ini sungguh baik memberikan persembunyian untukku, mulai sekarang aku cinta pohon!.

Aku mengendap-ngendap menuju gerbang luar, dan aku sudah hampir mencapai gerbang itu, aku memasang telingaku baik-baik setiap bunyi yang terdengar membuatku langsung menunduk dan tiarap dan bersembunyi dibalik apapun. Pokonya aku tetap waspada akan setiap bunyi yang terdengar. Aku menyembunyikan tubuhku dibalik pohon Trembesi raksasa ini, jaraknya hanya 50 meter dari gerbang gedung ini, tapi di pos itu ada 3 orang penjaga yang sedang nonton pertandingan bola, jantungku kembali berdegup kencang kakiku seakan siap berlari sekencang-kencangnya. Entah pukul berapa ini? Udara terasa munusuk kulitku, kontur daerah ini memang berada di dataran atas jadi jam berapapun ini udara pasti dingin sekali.

Aku merapatkan tubuhku pada pohon tua itu dan untuk terakhir kalinya aku menengok kebelakang dan membaca tulisan besar dari dibentuk dari ubin dan disorot oleh 2 lampu yang cukup jelas terbaca dari jarak 100 meter sekalipun, aku membacanya dalam hati ‘RUMAH SAKIT JIWA WARAS SEHAT’ aku pun bergidik setelah membacanya bagiku ini adalah tempat horor, disini setiap hari kami wajib mandi jam 4 subuh dengan air yang dingin menusuk bagai kaca , orang gila apa! Batinku, Para petugas disinipun belum tentu semua mandi jam 4 subuh, belum lagi obat-obat yang membuatku mual dan membuat kepalaku seperti dipukul godam, menyebalkan. Kembali aku menatap lurus gerbang kebebasan itu, aku harus berhasil keluar dari sini.

Kembali aku menatap lurus gerbang kebebasan itu, tiba-tiba 2 orang dari para penjaga itu keluar dari pos tanpa pikir panjang dengan hati-hati aku mendekati pos penjagaan, hanya ada satu orang didalamnya, dan dia sedang memainkan telepon genggamnya. Aku pun merunduk melewati pos itu dan aku berhasil menginjakkan kakiku diluar gerbang, perasaan lega bercampur tegang menyelimutiku, aku berusaha berbaur dengan orang-orang dijalan dan aku berusaha untuk berjalan setenang mungkin.
WOYY! suara laki-laki membuatku kalang kabut aku berusaha lari namun kakiku tidak bisa diajak berkompromi mereka seperti terancap ke tanah, aku pun menengok ke arah suara itu, ternyata suara itu bukan ditujukan untukku, melainkan dari bapak-bapak warung kopi yang memanggil pelanggannya karena lupa membayar. Fyuuuhh!! Nyaris aku berlari seperti orang bodoh.

Saat aku berbaur bersama orang-orang, mereka memberikan tatapan aneh seperti menghujat seperti menghina dan seperti mencurigaiku, aku mulai tidak nyaman rasanya ingin menghajar orang-orang ini tidak bisakah mereka memandangku biasa saja? Ketika aku melintas sebuah kios yang berdinding kaca gelap memantulkan cerminan diriku barulah aku tersadar. Bajuku! Ya ampun bajuku berwarna terang sekali! baju training berwarna orange inilah yang membuat orang-orang memandangku dengan aneh tadi. Uh! Aku benci baju ini ditambah tulisan yang sangat jelas RSJ WARAS SEHAT tertera di bagian kanan kiri paha celana. Belum lagi di punggung kaus ku ini dengan tulisan yang sama namun melingkar. Aku pun mencari tempat yang agak sepi untuk membalikan bajuku ini. Setidaknya tulisan sial itu tidak terbaca oleh orang-orang.

Aku terbangun sekejap mata yang sukses membuat pening kepalaku, sambil memegangi kepalaku yang bedenyut-denyut aku memandang sekeliling ruangan dimanakah ini? Ada laptop, lemari dengan poster band Pink Floyd dan meja gambar yang berantakan dengan kertas-kertas rancangan dan aku mulai mengenali semuanya baju-baju yang menggantung di balik pintu, ini kan kamarku batinku dan aku mengedarkan pandanganku sekali lagi, benar! Aku sudah berada di kamarku sendiri. Aku terlalu lelah memikirkan bagaimana caranya aku bisa sampai di rumah kontrakan ku ini.

Sudah 3 hari aku dirumah rasanya menyenangkan sekali, tidak ada teman-temanku yang sering menjahiliku dan mencubiti kemudian jika aku mulai marah mereka malah tertawa-tawa, tidak ada bau pesing karena beberapa pasien yang tidak bisa ke kamar kecil. Aku pun tidak mendengar suara-suara yang menyuruhku untuk melakukan tindakan aneh. Didapur aku memasak omelette telur dengan potongan daun bawang sambil bersenandung riang.

Tok-tok terdengar pintu rumahku diketuk masih sambil memegangi pisau aku kedepan membuka pintu, ada 3 laki-laki berseragam serba putih berdiri siaga,”Anda Arkandaru Nizan?”
“Iya betul saya sendiri” kataku yang hanya mengeluarkan setengah badan dari pintu rumahku.
“Anda harus ikut kami sekarang”
“Maaf bapak siapa ya? Saya harus ikut kemana?”
“Ikut saja bersama kami naik mobil”
Melihat wajahku yang tegang ketiga pria tadi menghampiriku dan bermaksud menarik paksa agar aku mau ikut bersama mereka, aku berusaha menutup pintu namun kaki laki-laki tersebut menahan pintu dan tenagaku tak cukup kuat menahan pintu yang didorong oleh ketiga laki-laki itu aku pun terjerembap kebelakang dan jatuh terduduk, ketiga pria itu beringsut maju membuatku merasa terpojok. Lalu disaat seperti ini yang seharusnya aku reflek berlari pikiranku malah semakin kalut dan suara-suara dalam kepalaku muncul, suara itu menyuruhku untuk menusukkan pisau yang aku pegang. Namun aku berusaha manghalau suara-suara itu.

Aku sedang mempertahankan diri ketika 2 pria mencoba menindihku dan satu pria lainnya memegang jarum suntik, aku pun semakin panik lalu berteriak “tolooooong” lalu salah satu pria itu itu berkata “kami disini untuk menolong anda” “tolong kerjasamanya” dia menambahi
“Tidak, aku tidak mau kembali ketempat itu” kataku sambil berusaha balik menindihi pria pria itu namun usahaku sia-sia, tiba-tiba ada suara melolong ‘Aaaaaaarrgghh’ kami semua terksiap, yang jelas suara itu bukan berasal dari tenggorokanku, lalu salah seorang dari pria itu berlutut sambil memegangi perut bagian kirinya kemudian warna merah kehitaman mulai merembesi baju putihnya, aku ternganga melihat pria yang terluka itu kemudian roboh seketika
“Bukan aku!” Ketika kedua mata pria yang lainnya menghujamku penuh amarah.
“Sungguh bukan aku yang menusuk dia!”
“Suara suara itu yang menyuruhku melaku…” Belom sempat aku menyelesaikan kata-kataku pria yang memegang jarum suntik sudah menancapkan jarumnya di betisku dan semuanya menjadi gelap.

Aku melihat semuanya serba dua lampu di langit-langit menjadi dua kepalaku pusing bukan main, aku pun mengerjap-ngerjapkan mataku agar pandangan tidak menjadi dua, aku menoleh hanya ada tembok putih, kali ini tembok itu tidak menjadi dua namun tembok itu seperti tiga dimensi,tembok itu hidup! Tembok itu seolah-olah maju untuk menghimpitku, aku yakin tembok itu hendak memakanku! Ketika aku mencoba meringkuk menghindari tembok yang semakin maju itu kaki tanganku malah terasa berat, aku mengangkat kepala dan benar rupanya kedua kaki dan tanganku terikat di ujung-ujung ranjang besi ini. Aku mencoba melepaskan ikatan dengan meronta ronta namun semuanya percuma, kemudian datang dua pria menggunakan baju putih sambil memegang jarum suntik.

Salah satu pria itu mendekatiku aku memohon-mohon padanya untuk melepaskan ikatanku, saat pria itu memegang tangaku aku pun mengucapkan terimakasih berulang ulang, namun dugaanku ternyata salah. Pria itu bukannya melepaskan ikatanku malah menyuntikku. Aku pun berteriak padanya “BAJINGAAAAN KAU!!” Dua pria itu pun mulai meninggalkanku “HEII DASAR KAU BEDEBAAAAH!!!” Suaraku melemah, terakhir kalinya aku sempat mengingat aku pernah dirawat di RSJ ini 91 hari kemudian prestasi kebangganku adalah aku pernah berhasil kabur namun hanya bertahan 72jam dan kini aku berada di ruang isolasi yang entah sudah berapa lama dan entah sampai kapan?.
Aku merasa tersiksa sekali disini ‘Tuhan, ambil saja nyawaku aku sudah siap’air mataku mulai menetes namun tak bisa kuusap, aku hanya merasakan air mataku meleleh hangat ke pipiku dan aku merasa seperti tersedot ke alam lain, tubuhku terasa ringan! Aku melayang! Aku bisa melihat tubuhku sendiri, kulitku pucat dan kurus sekali, aku pas sekali di ranjang itu seolah ranjang itu seukuran tubuhku panjang 1,80 meter dengan lebar 1 meter. Lalu aku melayang menuju kaki ranjang ada papan menggantung disana, tulisan di papan itu :

Nama : Arkandaru Nizan
Usia : 34 tahun
Penyakit : Schizofrenia, Halusinasi akut, Depresi.
Tanggal masuk : Mei 2000

Bogor, Oktober 2011
RS.Jiwa Waras Sehat

Ya Tuhan! Sambil menutup mulutku. Aku sudah 11 tahun terbaring disini. Apa yang orang-orang lakukan terhadapku selama ini? Tidakkah orang-orang itu memiliki rasa iba terhadapku? setega itukah mereka mencancang tubuhku bertahun-tahun dan menyuntikan berbagai macam obat untukku setiap harinya?

Aku mulai menangis sambil berlutut di depan kaki ranjangku, aku merasa sangat letih sekali seolah aku telah melakukan perjalanan yang sangat panjang, aku ingin sekali memperbaiki hidupku dan melakukan sesuatunya dengan lebih baik, aku sadar penyesalanku sudah terlambat namun aku tetap berdoa, lalu aku merasakan punggungku mulai hangat saat aku menoleh aku melihat pendaran cahaya putih.

Aku tidak tahu cahaya apakah itu, apakah ada kehidupan di ujung cahaya itu? aku tak tahu, yang pasti aku ingin menuju ke arah cahaya itu terus mengikuti ujung cahaya tersebut,  aku terus berjalan menjauhi ranjang dan tubuhku sendiri yang tengah berbaring aku hanya ingin mengikuti cahaya itu aku merasa kepada cahaya itulah aku merasa diterima disanalah tempatku, perasaanku sangat ringan, tidak ada lagi bisikan-bisikan yang menyuruhku melakukan sesuatu diluar kendaliku. menuju cahaya itu aku merasa “pulang”.

Advertisements

4 thoughts on “91 Hari 72 Jam Dan Entahlah

Silahkan komen tapi karetnya satu aja *jangan pedes-pedes*

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s