Euforia

Tidak ada yang menghalangi aku menikmati hidup, semuanya terasa ringan, aku tidak memiliki ambisi-ambisi yang terlalu besar baik dalam material maupun spiritualku.

Tapi aku kehilangan makna hidup, untuk apa semua ini? Dengan tujuan apa aku menjalani kehidupan ini?

Terutama cinta…
Aku memandangnya dengan skeptis, sesuatu yang tiada lagi bermakna buatku. Pernikahan bagiku bukan sesuatu yang sakral, aku tidak memahami pernikahan sebagai suatu keagungan cinta. Aku memilih menjauhinya.

Aku hidup dalam suatu memoar; mungkin juga terjebak di dalam memoar.
Aku mengingat setiap rincian hal saat bersama seseorang. Kami melakukan banyak hal; dia mengajariku banyak hal, hal yang belum pernah aku lakukan sebelumnya. Bersamanya aku menjadi tau, bahwa ada hal-hal seperti itu dan itu menyenangkan. Bagaimana aku bisa melupakan hal semanis itu?

Setiap kali berjumpa, kami sangat menghargai waktu, betapa kami berusaha memaknai sebuah waktu yang sedikit agar dapat dilalui bersama dengan indah. Dan menjadi kenangan…

Aku tau, apa yang telah terjadi memang menjadi masa lalu.
Hanya saja aku tidak ingat apa yang terjadi setelahnya. Yang aku ingat hanya masa dimana aku merasa bahagia, setiap orang akan mencari rasa nyamannya bukan?

Tidak ada yang abadi,
Kita hanya ditinggalkan oleh waktu dalam kehidupan ini,
Sudah menjadi kodratnya manusia itu seorang diri,
Manusia lahir dan mati pun sendiri.

Itu aku dalam petualangan kacamataku…

Posted from WordPress for BlackBerry.

Advertisements

Silahkan komen tapi karetnya satu aja *jangan pedes-pedes*

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s