Pupus

Dua meja arah pukul dua tempatku menjelajah dunia maya dengan hotspot di cafe favoritku ini terduduk seorang wanita dengan setelan pakaian serba hitam membalut tubuhnya yang kurus namun berisi dan stilletto yang membuatnya terlihat menjadi seksi , wajahnya cantik dengan garis yang tegas. Aku kira usianya 30 tahun…
Di arah pukul sebelas terhalang tiga meja dari tempatku duduk terdapat sepasang kekasih yang duduk saling berhadapan, aku dapat melihat jelas wajah gadis itu berseri-seri, sepertinya bahagia akan kencan dengan kekasihnya itu. Kulit si gadis putih perawakannya kecil namun tinggi dan berwajah imut, pakainya serba pink plus aksesoris bandananya tak ketinggalan berwana pink polkadot, aku tebak usianya 23 tahun. Sang pria tidak bisa aku jelaskan, karena dia membelakangiku, yang aku tahu kekasih ini memiliki bahu yang bidang dan sedikit lebih tinggi dari si gadis pink.

Buatku tempat ini adalah “hotspot” yang sempurna dari sekian banyak cafe yang pernah aku datangi. Jika aku datang ke tempat ini aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam bahkan bisa dibilang seharian, yang aku lakukan disini selain berlaptop ria adalah mengamati orang-orang yang datang dan pergi dan inilah yang menjadi alasan aku betah berlama-lama di cafe ini, karena aku pelanggan yang cukup sering datang kesini, para waiter/s sudah maklum jika aku datang kesini dengan hanya memesan secangkir Double Esspreso dan dua potong Croissant, mungkin juga karena aku sering meninggalkan tip seharga dua Croissant di cafe itu dan terkadang juga lebih.

Wanita dengan stiletto berbicara di handphonenya, aku tidak dapat mendengar apa yang dikatakan wanita itu, hanya saja raut wajah wanita itu terlihat marah sekaligus sedih, wajahnya menunjukkan keteguhan bagai batu karang, dua alisnya bertaut dan dahinya mengernyit.
“Persetan dengan jodoh tak akan kemana!” Ujar si wanita stilletto hampir berteriak sambil membantingkan handphone ke dalam tasnya. Dia pun menyulut sebatang rokok dengan frustasi membuat Zipponya susah menyala kemudian setelah 4 kali percobaan barulah menyala, tanganya gemetar karena bagitu emosi. Dia meneteskan air mata namun cepat-cepat ia menghisap rokonya lalu menyesap burbon dalam sekali tenggak. Wanita itu berpisah dengan kekasihnya dugaanku…

Sepasang kekasih di arah jam sebelas mereka saling menggenggam tangan, namun kemudian si pria beranjak dari kursinya tapi tidak diikuti oleh si gadis pink. Si gadis pink diputuskan oleh kekasihnya juga pikirku, berbeda dengan si wanita stilletto yang frustasi dengan rokoknya, si gadis pink hanya duduk dikursinya sambil menunduk dan menangis sesenggukan.

Sungguh ironi yang menyedihkan bagi kedua perempuan ini, hati mereka pasti teriris pilu mendapati kenyataan yang belum siapp mereka terima. Keduanya menangis dengan cara yang berbeda.

Disinilah aku, hanya duduk dan mengamati kedua perempuan itu menyerap inspirasi dari setiap kejadian lalu menuangkannya dalam cerita untuk proses novelku yang kelima di akhir tahun nanti.

Apakah aku picik? Seenaknya mencomot kisah seseorang untuk aku jadikan novel. Aku rasa tidak, aku tidak sepicik itu. Aku pernah berada di posisi kedua perempuan ini, aku tahu betul perasaan mereka.

Aku seorang lelaki, dan lelaki sejati memilih jalannya sendiri. Hal ini tidak ada hubungannya dengan trauma, aku hanya tidak tahu caranya mencintai atau mungkin aku sudah lupa.

Entahlah…

Harapanku pupus tiga tahun yang lalu…

Posted from WordPress for BlackBerry.

Advertisements

Silahkan komen tapi karetnya satu aja *jangan pedes-pedes*

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s