Dan Kamu Terlalu Wangi

Kalau aja dikantor ini ada polling siapakah karyawan yang paling rajin, aku sangat yakin pastilah aku masuk nominasi dan berada di urutan nomor satu . Mengapa aku bisa sangat pede akan hal ini? Mengapa tidak? Karena kategori “rajin” yang dimaksud disini adalah : Rajin datang tepat waktu (tepat waktu yaa… jadi, kalau kerja masuk jam 9, nah maka aku sebagai karyawan dengan label “Rajin” sudah tiba di kantor jam 08.59 wib  ) dan hal ini berlaku juga untuk jam pulang kantor, dengan kestabilan waktu datang dan menghilang secepat kilat di waktu pulang kantor, bukankah aku termasuk karyawan yang rajin?

Statusku sebagai si anak baru di kantor tempatku bekerja membuatku banyak mempelajari gaya bekerja, sistematika dalam bekerja dan menyesuaikan banyak hal termasuk perkenalan serta penyesuaian dengan para senior di kantor itu. Penyesuaian dengan para senior sangat perlu untuk membantu kerjaan aku sebagai tukang gambar dan sebagai tukang serabutan di kantor ini. Kebetulan tiga minggu lagi ada proyek untuk ke Vietnam, bukan aku sih yang berangkat melainkan para atasan.

Sebagai buruh serabutan dan tukang gambar meskipun bukan aku yang berangkat tapi aku juga berjibaku mempersiapkan segala keperluan dan materi agar para atasan yang berangkat tidak dipusingkan oleh remeh-temeh dan membereskan sisanya di Vietnam sana. Dalam rangka mempersiakan segala keperluan itulah yang membuatku di hari Kamis bulan April itu tidak biasa, aku tidak pulang kerja tango jam 5 sore seperti biasanya melainkan harus lembur untuk mengerjakan design gambar untuk dibawa ke Vietnam nanti.

Waktu menunjukkan pukul 18.00 wib saat teman-teman kerjaku mulai berpamitan satu persatu, tak lupa mereka menyemangatiku agar pekerjaanku cepat selesai, ada pula yang memberi selamat karena hari itu hari pertama aku lembur ” Ciyeeehh…lembur cieehh” aku sadar sekarang zamannya lebay sampe lembur pun perlu di’cieh-cieh’, apalah temanku ini aku lembur pun dibikin lebay tapi aku pun dibuat tertawa karena candaan temanku itu. Tersisa satu temanku yang aku lihat masih mengerjakan format evaluasi tapi sudah hampir selesai, mumpung masih ada temanku yang satu itu aku pun menuju mushala untuk mengerjakan sholat magrib, temanku tidak aku ajak sholat berjamaah karena dia bukan seorang muslim.

“Antonius, tungguin ya gw mau sholat magrib” temanku pun menganggukkan kepala memberi kode bahwa ia sepakat menungguku sholat magrib baru kemudian ia pulang. Selesai sholat, temanku Antonius sudah bersiap hendak pulang, sambil mengenakan helm temanku Antonius pamitan pulang aku pun mengiyakan ia pulang lebih dulu setelah sebelumya ia berkata sesuatu yang aku kurang paham namun baru aku mengerti keesokannya.

Aku pun masuk ruang kerjaku dan mulai mengerjakan tugasku, aku menyetel MP3 di komputerku sambil menemaniku bekerja dan agar tidak terlalu sepi pikirku. Sebetulnya ada Office Boy yang tinggal di kantor ini Pak Karjan namanya, tapi tadi magrib aku lihat Pak Karjan pergi menggunakan sepeda pancal. Tinggalah aku sendirian dikantor ini sehingga aku bisa lebih konsentrasi mengerjakan tugasku dan cepat pulang.

Kantorku ini sebetulnya menempati sebuah rumah yang cukup luas dengan pekarangan yg tak kalah luas juga dan rumah ini berada di lokasi yang strategis, sepertinya itulah alasan rumah ini lebih cocok dijadikan sebuah kantor. Satu hal yang pasti aku mengetahui bahwa rumah atau bangunan ini sudah berusia 90 tahun! karena secara tak sengaja aku pernah membaca sepucuk surat yang aku temukan di lokerku sekarang. Isi surat itu menceritakan riwayat si rumah dan siapa saja penghuni dirumah itu, di surat itu pun diceritakan bahwa dirumah itu ada seseorang dengan gangguan kejiwaan yang dirawat di rumah ini selama 8 tahun dan akhirnya di tahun ke 9 dirawat di Rumah Sakit Jiwa di Grogol – Jakarta. Aku tak pernah tau mengapa ada surat itu di lokerku,surat itu tak pernah terkirimkan aku pun tidak tahu ditujukan untuk siapa surat itu tidak ada amplopnya.

Rumah ini bergaya Belanda dengan design yang  substansial namun tetap kokoh dan artistik dan yang paling aku rasakan adalah angker atau mungkin juga ‘dingin’ entahlah kesan setiap rumah peninggalan kolonial belanda buatku selalu misterius, mungkin juga aku hanya perlu membiasakan diri berada di kantor ini.
Waktu menunjukkan pukul 8 malam saat itu dan aku merasa perlu untuk ke toilet. Toilet di kantorku terletak di dua lokasi berbeda namun sama-sama berada diluar area ruang kerja dan masing-masing memiliki 3 sekat ruang. Aku memilih toilet terdekat yang artinya aku harus lewat ruang pantry  kemudian berbelok melewati koridor disebelah kanan ada dua pintu disitulah letak toilet terdekat, aku beranjak dari kursi kerjaku dan berjalan masuk ke ruang pantry, saat memasuki ruang pantry mataku tertuju pada sudut langit-langit ruangan aku menangkap bayangan hitam diatas sana yang kemudian aku sadari bayangan itu seekor burung Gagak. Hah?! Burung Gagak?? aku pun mendongakkan kepala untuk memastikan lagi, namun sedetik itu pula burung itu sudah tidak ada entah terbang entah raib! aku pun pipis dengan hati tak menentu dan itulah pipis pertamaku yang paling mendebarkan.

Aku bergegas kembali ke meja kerjaku tanpa memeriksa sudut-sudut maupun langit-langit ruangan bukannya aku meragukan penglihatanku tapi masalahnya aku tidak berani , aku tidak siap melihat sesuatu yang tidak bisa dinalar oleh otakku. Sudahlah, aku tak mau membayangkan hantu-hantu seperti yang ada di teve. Nah kan, pikiranku malah ngelantur. Aaargghh aku hanya mau membereskan pekerjaanku saja titik! batinku. Tak lama aku berkutat dengan Corel ku, tiba-tiba aku dikejutkan oleh bebauan yang wangi, aku mencoba mengacuhkan bebauan itu dan mencoba fokus menggambar di komputerku, aku malah mendengar suara langkah kaki dibelakangku mungkin itu Pak Karjan batinku. Aku tidak mencoba untuk menoleh, kali ini bukannya tidak berani, tapi karena aku ingin pekerjaanku cepat selesai. Saat aku mencurahkan konsentrasi tingkat dewa pada gambarku ditemani musik streaming Grooveshark entah karena perasaanku saja atau karena backsound dari lagu Lenka – Like a Song yang membuat bulu kudukku berdiri karena bersamaan dengan itu ada wangi yang menyeruak dan kali ini semakin menyengat hidung, aku melirik jam digital pada komputerku  dan menunjukkan waktu: 9.21 pm, Thursday . Deg! aku teringat bahwa ini malam jumat, dimana malam jumat adalah waktunya para dedemit beredar, Oh my God oh my waawww… baiklah aku mengalah, sepertinya aku harus pulang aku tak mau kehadiranku mengganggu ‘jam‘ mereka. Aku segera mematikan komputerku dan menuju loker untuk mengambil tas dan buru-buru pergi dari tempat yang kini berubah menjadi taman kembang melati secara absurd itu.

Aku bersiap membuka gerbang dan mengeluarkan motorku tiba-tiba terdengar suara yang sederhana namun cukup nyaring di telingaku yang saat itu sedang tertutup helm ” TING TOONG… ” itu kan suara bel kantor ini kataku dalam hati, dan bagaimana bel itu bisa berbunyi sedangkan aku berada persis di depan tombol itu? HUUAAAAAA… aku menjerit sekencang-kencangnya dan secepat kilat tancap gas.

Keesokan harinya aku datang seperti biasa ke kantor pukul 8.59 wib dengan wajah kurang tidur dan mata sembap. Orang yang pertama menyapaku pagi itu adalah Antonius, yang kebetulan aku pun ingin bertanya tentang apa maksud ucapannya kemarin malam. Antonius berkata ” Sudah ada yang kenalan kan? “. Kini aku memahami ucapan temanku itu dan aku menjawab “iya udah, masalahnya dia terlalu wangi ” kami berdua pun tersenyum simpul dan mengerti dengan kejadian yang pernah kami alami. Sejak kejadian itu pula aku tidak pernah lembur sendirian, aku belum siap bertemu siapapun dia yang terlalu wangi di Kamis kemarin itu.

 

 

 

 

 

Advertisements

Silahkan komen tapi karetnya satu aja *jangan pedes-pedes*

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s