Ledek-ledekan Berkelas ala Orang Berpendidikan

Zaman sekarang, orang-orang gw lebih senang sindir sampir ketimbang mengutarakan langsung apa yang menjadi maksud dan tujuan kita berbicara.  Tapi jarang ya gw berbuat hal yang kurang meyenangkan ini. Bukannya gaberani, tp gw sendiri gamau kalo digituin. Ahahaha… (Iya gw curang). Menyindir itu terjadi kalo gw mulai emosi banget alias kejepit (maksudnya terjepit) baru gw nyindir. Ehehehe…

Nah, ada juga orang yang suka meledek/ mengolok atau ledek-ledekan (iya itu juga termasuk sifat gw lagi) yang menurut bahasa Indonesia tindakan ini bermakna resiprok alias berbalasan. Perbuatan mengolok orang ini hendaknya *halah bahasanya* baiknya dibahasakan dengan diplomatis, agar apa? Agar kita yang ngeledek atau kalo lagi apes menjadi korban ledekan terlihat sebagai orang yang berpendidikan istilah gaulnya Educated People.

Ada kisah olok-olok tentang jenggot yang dialamatkan kepada orang Islam (khususnya) nah,orang yang mengolok ini sudah jelas orang yang tidak suka jenggot dan pembenci sunnah Rasulullah.

Bagi yang tidak mengolok tapi muslim tapi tidak tumbuh jenggotnya harap jangan tersinggung ya karena belum tentu yang tidak berjenggot itu tidak suka, bisa jadi yang tidak berjenggot memang tidak tumbuh dan belum tentu pula tidak memaksa untuk tumbuh meskipun dengan cara mencukur berkali-kali atau memakai obat penumbuh rambut.

Perkara jenggot ini mengacu pada maksud gw dari ledek-ledekan yg tampak Educated People itu seperti kisah orang-orang besar akan senda-gurau mereka ini dalam buku rumor Suetoyo M.D (1990) dengan judul “Orang-orang Terkenal di Dunia”. Di antaranya diceritakan tentang satu pertemuan yang dihadiri tokoh pergerakan kharismatik HOS. Tjokroaminoto dan Haji Agus Salim.

Sebelum acara dimulai pada saat Tjokroaminoto memasuki ruangan, tiba-tiba salah seorang pemuda langsung berdiri sambil berteriak:
“Siapa yang punya kumis, tapi tak punya jenggot?”
Teriakan anak muda ini dijawab serentak oleh perserta: “Kucing”.
Jawaban ini dialamatkan pada Tjokroaminoto, karena beliau berkumis tapi tidak berjenggot.

Lalu, Haji Agus Salim, masuk ke ruang pertemuan. Spontan si pemuda tadi kembali berteriak:

“Siapa yang punya jenggot, tapi tidak punya kumis?”
Dan kembali dijawab serentak oleh peserta: “Kambing”.
Jawaban untuk mengejek Haji Agus Salim, karena beliau memiliki jenggot tapi tidak berkumis.

Giliran Haji Agus Salim yang diberi gelar “THE GRAND OLD MAN” langsung oleh presiden RI Ir. Soekarno, dipersilahkan naik ke podium untuk berpidato. Sebelum memulai pidatonya, Agus Salim lebih dulu bertanya :
“Siapa yang tidak punya kumis dan tidak punya jenggot?” Petanyaan ini tidak ada yang menjawab, semua hadirin terdiam. Karena pertanyaannya tak ada yang menjawab. Maka Haji Agus Salim langsung memberi tahu jawabannya :
“Yang tidak punya kumis dan tidak punya jenggot adalah anjing.” Hadirin yang mendengar serentak tertawa.

Begitulah cara “orang besar” berdiplomasi dan membalikkan kata-kata. Mungkin Haji Agus Salim tidak bermaksud mengalamatkan jawaban pertanyaannya kepada anak muda itu, tapi karena anak muda yang berteriak tadi kebetulan tidak berkumis dan tidak berjenggot, maka ia merasa telah dipojokkan oleh Haji Agus Salim

Advertisements

Silahkan komen tapi karetnya satu aja *jangan pedes-pedes*

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s