Tunggulah Aku

Pandanganku menguning, semua yg aku lihat terasa bias dan kuning badanku dingin sekali jemari tanganku mulai kesemutan … Ah sial! Mulai lagi,aku tak mau seperti ini, aku tak mau terlihat konyol, aku tak boleh terlihat lemah, kumohon kuatkan aku… Sepertinya doaku sia-sia, semakin ingin aku berdiri tegar kakiku malah terasa seperti jelly,ayolah kumohon aku hanya perlu 3 menit untuk menjernihkan pikiran. Oh tidak… aku tak kuasa pandanganku mulai gelap dan hanya gelap dan semakin pekat.

Kau cantik seperti biasanya kulitmu halus sempurna bagai pualam, aroma tubuhmu juga wangi, rambut hitam dan lebat itu kau biarkan mayang mengurai kau pasti merawat mereka dengan baik. Segala hal tentangmu selalu bisa mempesonakan aku, namun ada yang tak biasa di pertemuan ini. Kali ini kau ‘mendengarku’ kau memberi kesempatan aku untuk menjelaskan semuanya, kau juga tersenyum saat aku mengatakan rencana-rencana hidupku, lain sekali dari biasanya. Biasanya kau tidak memberiku kesempatan untuk bicara, di hubungan ini hanya ada kau, keinginanmu dan teman-temanmu yang senang bersolek saja.
Ketika aku hendak bicara saat itulah kau mulai mengangkat tangan dan mengahalau agar aku diam, karena kau terlalu pusing untuk mengerti jalan pikiranku dan biasanya aku pun manut aku hanya diam. Tapi kali ini kau, ah aku tak bisa menggambarkannya dengan kata-kata, semua ini terlalu indah kau duduk manis mendengarkan aku, sungguh baik dan hangat. Kau pun menggenggam tanganku dengan lembut, aku pun mengecup keningmu penuh kasih.
Aku pun berdoa agar waktu jangan berlalu terlalu cepat, buatku ini moment membahagiakan selama kita menjalin kasih, aku berjanji mulai saat ini tak ada lagi luka, tak ada lagi duka
yang tersisa ialah bahagia yang ada di depan sana.
Uh, darimana datangnya angin ini? Tiba-tiba meniup begitu kencang sehingga melepaskan genggaman kami, dia sibuk membenahi rambutnya yang dibuat kusut oleh angin dan aku membuat tameng dari tanganku untuk mengahalau debu yang ditiupkan angin menerpa wajahku. Aku menoleh kepadamu, tapi kenapa kau menjauh? saat tanganku hendak meraihmu kau seakan tak tergapai. Ayolah, angin jangan kau merusak saat yang membahagiakan ini.

Samar-samar tercium aroma kayu putih, aku benci kayu putih aku tak suka aroma kayu putih malah membuat perutku mual.
Kudengar seseorang memanggil namaku, tapi dimana? Mengapa tanah ini berguncang-guncang? Aku terlalu pusing untuk membedakan apakah tanah yang berguncang ataukah badanku yang terguncang-guncang.

“Bima.. Bima.. Sadar dong”
Aku mendengar seseorang memamnggil namaku.
Aku melihat ke suatu titik cahaya, aku mencoba untuk membuka mata tapi rasanya silau sekali.

“Bima.. Ayo bangun, sadarlah bim”
Aku merasa pipiku ditampar-tampar, aku pun menggumamkan sesuatu rasanya sulit sekali aku untuk membuka mulut.

Akhirnya aku berhasil membuka satu mata, lalu menutup kembali, lalu membuka satu mata lagi lalu menutup kembali. Aku hanya melihat bayangan beberapa kepala mengerubutiku tapi aku tak mengenal satupun terlalu blur.

“Dinda… Aku memanggil kekasihku”
“Woy bim, sadar… Lo lagi mimpi tau”
“Hah?…”
“Lo lagi bermimpi” temanku yang bernama Aryo mengulangi kata-kata tepat di telingaku, seolah aku tuli.
“Dimana aku? Dinda mana?”
“Ini diruang pantry, tak ada Dindamu, lo tadi pingsan di koridor. Karena ruang pantry yang paling dekat jadi gw menyeretmu kesini”
Aku pun terduduk, mulai mengamati sekelilingku, wastafel, sendok garpu, gelas-gelas, kancing kemejaku terbuka bagian atas, ikat pingganggku juga melonggar, sepatuku terlepas dan uh! Aroma kayu putih di dada dan pelipisku, bau sekali!.

“Lo baekan kan?, gw tinggal ya?”
“Iya,iya terimakasih Yo'”

Sial, jadi aku pingsan. Ternyata Dinda tak menggenggam tanganku, Dinda tidak disini, tapi kenapa tadi itu terasa nyata sekali, aku bahkan masih bisa mencium aroma tubuhnya. Aku terlalu merindukan Dinda sepertinya. Pikiranku terlalu kalut akhir-akhir ini, masalahku dengan Dinda cukup menyita energi, aku tak bisa tidur, sering melamun, aku pun tak cukup makan. Aku bahkan tak ingat kapan terakhir kali aku makan.

Seandainya kau tahu Dinda, aku sungguh menyayangimu, tapi aku tak tahu bagaimana menunjukkan perasaan ini. Ingin rasanya seharian memelukmu, agar kau tahu perasaan yang ada didalam lubuk hatiku, aku memang belum menunjukkan padamu pengorbananku. Tapi aku sudah berniat aku hanya tak punya waktu, sejujurnya aku tak ingin memberikan waktu luang untukmu, karena aku tidak ingin menyulut pertengkaran, aku tak ingin rinduku berubah menjadi luapan emosi. Jadi aku hanya diam. Namun, diamku pun menjadi salah. Kau pun memutuskan untuk meninggalkanku karena diamku. Sulit sekali menjadi diriku, sesungguhnya aku ingin membahagiakanmu Dinda.

Ya, aku memang laki-laki pengecut. Aku bilang ingin membahagiakanmu tapi tindakanku tidak mengatakan demikian, aku bilang aku berusaha memberikan yang terbaik lagi-lagi aku tak bisa memberikan bukti, aku tak pernah memulainya untuk memberikan yang terbaik itu. Mungkin kau selalu berharap-harap dapat kabar dariku, itu pun tak pernah aku berikan.
Ketahuilah aku sangat menyayangimu. Maukah kau memberiku kesempatan untuk memulai semua dari awal? Dan maukah kau terluka sekali lagi untukku? Dengan menungguku, menunggu hingga batas waktu yang tidak bisa ditentukan.

Advertisements

Silahkan komen tapi karetnya satu aja *jangan pedes-pedes*

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s