Tiga Kota Satu Keabadian

“Selamat natal sayang” ujarku sambil membersihkan tangan yang berlumur noda merah pekat.

Aku melakukannya dengan cepat dan presisi! Hampir saja aku meleset, kalau saja aku tak meneguhkan niat ini rencanaku hampir saja gagal.

Kala sepersekian detik dia mengembangkan senyum paling indah yang pernah aku lihat seumur hidupku. Saat itulah aku lengah, dia tahu aku menyerah pada senyum tulus itu dan dia tahu aku jatuh cinta oleh senyum itu. Tapi kali ini aku tidak akan kalah, tekadku sudah bulat.

Kau menjatuhkan tubuhmu kepadaku, dan aku merasakan cukup sekilas kau mengalungkan lenganmu padaku seolah kau tak percaya namun tetap pasrah padaku.

Ada rasa hangat di tangaku, aku yakin itu darahmu yang merembes melalui bajumu kemudian pada belati yang aku gengggam, belati yang aku hunuskan tepat di jantungmu, kau memang membuka mulutmu tapi kau tidak bersuara sedikitpun, sesuai sekali dengan rencanaku.
Ah, kau memang gadisku yang manis.

Nira, aku teramat sangat mencintaimu. Bawalah hatimu yang hanya untukku dalam keabadian. Dengan begitu aku tidak akan melukai mu lagi, dan kau tak perlu menangis karena luka dihati bukan?

~Bandung, Desember 2088

Dikota inilah yang aku sebut sebagai ‘pelarian’, pelarian atas rutinitas kerja yang tiada habisnya, tekanan yang membuat jiwaku semakin terbelenggu, di kota ini beban hidupku serasa ringan aku merasa tentram.

Kenangan masa kecilku disini, teman-temanku yang selalu menyambut dengan hangat kapanpun aku pulang, mereka pasti hadir untuk menghiburku menemaniku bernostalgia.

Bagaimana mungkin aku tidak bisa menyebut kota ini sebagai ‘rumah’. Ya, rumah yang selalu menentramkan hatiku.

~Yogyakarta, Agustus 2088

Tidak perlu susah-susah makan kambing agar tensi darah menjadi tinggi, cukup tinggal dikota ini otomatis tensimu akan naik, bagaimana tidak? Kota ini panas sekali, aku kira matahari hanya berjarak sejengkal dari kota dimana aku berlomba-loma mengais rezeki ini.

Ritme kerja orang-orang disini sangat cepat, saking cepatnya kau tidak akan sempat mengobati luka akibat ‘disikut’ rekan-rekan kerjamu. Tidak ada waktu untuk bermalas-malasan disini. Hanya dua hal yang perlu dikerjakan disini; mengejar jabatan dan mengumpulkan Harta, disinilah tempatnya.

Tak perlu ibadah karena tidak mungkin ada waktu,andalkan saja istrimu atau keluargamu untuk mendoakanmu, maka garansinya tak perlu diragukan. Tak perlu pula berkasih-kasihan disini yang ada kau hanya memberikan harapan kosong. Tapi buatku, selalu ada rindu untuk dia.
Bodohnya dia selalu mencintai aku yang brengsek ini, dia selalu menungguku, dia selalu menyisakan cinta dengan tulus yang membuatku semakin merasa bersalah.

Nira, aku punya kejutan untukmu di hari natal nanti. Aku janji aku tidak akan membuatmu menungguku lagi.

~Semarang, Juli 2088

Advertisements

Silahkan komen tapi karetnya satu aja *jangan pedes-pedes*

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s