Arsene Wenger = Aku

Situ pelatih Arsenal? bukan… nah itu judulnya kok menyamakan diri dengan pelatih papan atas Liga Inggris sih?

Oke tenang-tenang, gw disini cuma mengambil analogi saja, kebetulan analogi si Arsene Wenger ini mirip-mirip dengan derita diri gw ini, kok bisa sih disamain ama bule? secara bule makannya aja beda ama kita (KITAAAA??) bule mah makan gandum kita mah makan nasi. Biarin ah biar edan sekalian! *mulai emosi

Disini gw ga akan ngebahas hasil pertandingan sengit liga Inggris saat Chelsea bertemu Arsenal, tapi yang mau gw ceritain perseteruan antar 2 club pelatihnya yaitu Jose Mourinho  dan Arsene Wenger. Ketika itu Mourinho menyebut Wenger “spesialis gagal” bagi seorang pelatih hal ini lebih dari sekedar malu tapi ini tentang harga diri ditambah kekalahan Arsenal yang dilibas Chelasea dengan hasil 2-0 dan cedera sang striker Sanches yang dijegal oleh Cahill (lho..lho.. katanya gak akan bahas pertandingan. Oiya maap maap gw khilaf )

Bayangkan jika anda di posisi si Wenger ini dengan label “spesialis gagal” bisa jadi anda mengundurkan diri sebagai pelatih, tapi sikap Wenger patut kita tiru Wenger tidak banyak berkoar seperti Jose, Wenger memilih bungkam daripada sibuk membela diri ataupun menyudutkan siapa yang salah dan siapa yang benar. Benar adanya pepatah yang berbunyi “Diam itu emas” (jangan dilanjutin emas itu kuning, dan kuning itu tai pisang yah) jangan.

Kalo gw sendiri orangnya banyak diem tapi gw bukan seorang pendiam (lieur kan?) jadi, gw bakal ngomong kalo ada yang ngajak ngomong (ya iyalaaaaahh) maksudnya gw bakal ngomong klo ada kesempatan dan waktu yang tepat. Gw maunya yang menjadi unek-unek gw itu all out  bukan walk out kaya partai Demokrat yaa *eh. Tapi apalah gw ini ini cuma sebagai “spesialis penyisaan”, gw si spesialis sisa-sisa keikhlasan yang tak diikhlaskan (kaya lagu yah?). Emang. Posisi gw bagai “terperangkap” dalam sandiwara cinta konyol, dimana posisi gw sebagai sisa-sisa perlakuan seseorang dimasa lalu dan dimasa sekarang gw sebagai korban penebusan akibat masa lalu itu. Padahal pernah diperlakukan secara spesial pun tidak, diperhatikan secara hebat pun tidak bahkan diberi waktu pun tidak.

Siapakah yang menempatkan diri gw pada posisi yang rumit ini? Gw menyalahkan Tuhan, Diakah sang pembuat skenario ini? untuk membuat gw lebih “mendekatkan” diri padaNya. Lalu, ketika gw tidak dapat menyesuaikan pada skenario ini, adakah Dia membiarkanku terpuruk?. Air mata yang telah terurai entah sudah berapa malam pun tidak bisa memberi jawaban atas situasi yang tidak diinginkan ini. Rasanya ingin seperti dulu ketika masih anak-anak ketika derai air mata tumpah karena luka di kaki bukan luka di hati.

Advertisements

Silahkan komen tapi karetnya satu aja *jangan pedes-pedes*

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s