Kekasih yang tak pernah datang di malam Minggu

“Yes!” Itulah kata pertama yang muncul begitu aku membaca surat hasil penantianku selama 6 bulan ini. Masih tanpa menggunakan alas kaki aku berdiri di ambang gerbang cukup lama memandangi surat yang baru saja aku terima dari tukang Pos karena aku perlu memastikan dengan seksama bahwa namaku benar-benar ada di isi surat itu dan membacanya berulang-ulang bahwa aku diterima ya DITERIMA sebagai karyawaan di perusahaan penerbangan bertaraf internasional di Jakarta, sambil memegang sepotong kue karamel terenak sedunia bikinan ibuku meskipun agak penyet akibat teremas saat aku kegirangan tadi dan sepucuk surat di tangan kiriku. Oh terimakasih Tuhan, batinku sambil berlalu masuk kedalam rumah.

Aku sudah menginjakkan kakiku di jakarta tadi siang, setelah mencari kost-kostan dekat tempatku bekerja dan sempat makan di daerah dekat kostan, akhirnya disinilah aku, berdiri di hadapan gedung yang cukup megah ‘Woww besar sekaliii…’ Aku berkata pada diriku sendiri yang memang takjub bercampur norak karena hanya bisa berkomentar ‘besar’ saja, entahlah dari dulu aku memang tidak berbakat dalam berkata-kata. Teman-temanku bilang sih aku ‘udik’, biarlah aku dibilang begitu toh aku tidak merugikan mereka, hanya saja mereka yang merasa kasihan entah merasa terganggu. Yang pasti mereka tidak terlalu suka bergaul denganku, aku pun memilih jalan ‘seperlunya’ dengan mereka.
“Cari apa mas disini?” Sebuah suara mengagetkan lamunanku, “Eh, anu pak saya cuma mau lihat-lihat”. Seorang security berseragam safari hitam-hitam (bajunya yaa,bukan orangnya) bertampang sangar dengan tinggi sepantar aku hanya saja si bapak security bertubuh tegap dan agak gempal, jauh berbeda dengan aku bertubuh kurus dan agak bungkuk. “Nah, sudah lihat kan? Kalau tidak ada kepentingan lain silahkan pergi ujar si bapak security dengan nada ketus. Ingin rasanya aku melemparkan surat ke muka si bapak kalau sebetulnya aku adalah calon karyawan disini awal bulan nanti. “Ayo, saya antar sampai gerbang” si bapak menambahi dan mempertegas, “tidak usah pak, saya bisa sendiri, tadi saya masuk sini juga sendiri kok tidak diantar”. Sambil berjalan menuju gerbang aku mengumpat kesal, kenapa si bapak begitu menilisik dan pandangan penuh merendahkan sih? Aku kan tidak membawa barang segede kulkas atau tampak membawa bom atau apalah tidak pula melakukan gerak-gerik yg mencurigakan. Huh! Menyebalkan!. Aku mencoba berfikir positif, sudah menjadi tugas seorang security untuk mencurigai orang asing demi mengamankan lingkungan perusahaan sesuai dengan nama jabatannya Security Mungkin juga jika aku berada diposisi si security itu akan melakukan hal yang sama, mencurigai seorang laki-laki ‘asing’, kurus, berpakaian ‘ngasal dan butut’ dan tampang jauh dari kata ganteng. Sudahlah yang penting aku diterima bekerja di perusahaan ini dan suatu saat nanti akan menunjukan siapa aku sebenarnya pikirku sambil membenahi kerah kausku yang sudah lepek.

Tibalah saat yang dinanti, aku berpakaian sangat rapih hari ini, mungkin ini pertama kalinya aku berpakaian rapih, bahkan ketika diwisuda pun aku mengenakan kemeja yang tidak disetrika, karena aku tahu diserika pun percuma karena akan tertutup oleh baju wisuda. Aku semakin bersemangat berjalan memasuki gerbang kantorku ini, dengan penuh semangat yang tak lain dan tak bukan karena di pos penjaga ada si bapak security yang tempo hari mengusir aku. Aku berjalan dengan penuh rasa pede tingkat dewa ditambah kalung nametag semakin menambah pride aku menatap lurus dengan sedikit (sungguh sedikit sekali) mengendikkan dagu ke arah si bapak security itu seolah memberi kode what’s up bro’ dalam hati aku berkata ‘inilah aku yang mulai kini hingga beberapa tahun kedepan akan menjadi bagian dari perusahaan yang aku idamkan ini’ lalu senyumku mengembang merasa puas.

Tak terasa sudah seminggu aku bekerja dengan para expatriat yang tentunya mereka selalu berbicara dengan bahasa inggris, dan aku sebagai si anak baru aku pun harus fasih berbahasa inggris, aku tak mau suatu hari nanti ada misskomunikasi dengan para expatriat itu. Aku pun memutuskan untuk mengambil kursus bahasa inggris.

Rutinitasku diJakarta ini cukup teroganisir yaitu : kostan – kantor – warung padang – tempat kursus – kostan. Entah karena lelah atau aktifitasku yang terlalu monoton, Kamis senja itu di tempat kursus aku memutuskan untuk tidak langsung pulang ke kostan, aku memilih nongkrong di lantai paling atas untuk sekedar menghisap sebatang rokok. Aku bersandar di balkon dan menebar pandangan ke luar gedung tempat kursus, tak lama aku melihat ada orang disampingku kami terhalang satu pilar, tidak terlalu jelas tapi aku lihat sekilas bahwa dia seorang gadis dengan rambut lurus sebahu dan cantik, bahkan cantiiiiiikkk sekali (seperti biasa aku tak pandai berkata-kata, padahal gadis ini lebih dari sekedar cantik).

Tiba-tiba si gadis menoleh ke arahku dan memberi senyuman tipis. Aku pun gelagapan rokok yang sedari tadi dijepit diantara telunjuk dan jari tengahku pun sampai terjatuh. Melihat aku yg begitu kikuk si gadis malah tertawa kecil, dan aku hanya bisa berkata yang tidak penting ‘jatuh rokoknya’ dan si gadis membalas ‘gara-gara aku ya? hihi’ si gadis tertawa renyah dan menunjukkan lesung pipinya yang semakin membuatnya terlihat manis dan manis sekali, cantik banget sekali lagi dalam hatiku berkata, semakin dia tersenyum semakin rikuh aku dibuatnya. Aku pasti sedang bertampang bodoh sekarang pikirku, sebentar lagi dia pasti akan pergi. ‘Kamu orang baru ya?’ Si gadis bertanya, dugaanku salah, dia tidak pergi meninggalkan segala salah tingkah yang membuatku terlihat konyol dihadapan umum’ aku pun menjawab terbata bata “Ii..iyah, kamu?”, “Iyah sama,tapi aku sudah lama disini” dia menambahi dan diakhiri dengan senyum lagi, aku pun membalas senyumnya dan aku berusaha supaya terlihat manis tapi sepertinya gagal, biasanya aku malah ‘menyeringai’. Semoga dia tidak kabur pikirku lagi.
Suasana hening sejenak, lalu si gadis memulai pembicaraan “Kamu kalo mau ngerokok lanjutin aja”, “Err, tadi yg jatuh itu terakhir” jawabku dengan malu. Nama kamu siapa? Aihh,girangnya hatiku tumben-tumbennya ada cewek cantik ingin mengatahui namaku. Aku pun memberanikan diri mendekatinya kini kami sudah berdiri bersebelahan. Ternyata si gadis betulan imut, tingginya sebahu aku, kulitnya putih mulus dan kini semakin jelas bahwa dia nyata berwajah cantik, cantik oriental. Aku menyodorkan tangan padanya ‘Agas Suro’ si gadis menjabat tanganku dengan cepat tapi lembut, aku ‘Mei-mei’. Darahku berdesir ketika bersalaman dengannya, aku pun ingin bertanya macam-macam mulai dari asli mana? rumahnya dimana? Tanggal lahir kapan? Apakah dia suka kue karamel seperti halnya aku? Dan apakah Mei-mei sudah memiliki pacar? Maukah dia menjadi pacarku? (Pikiranku mulai ngelantur dan berharap). Nama kamu garing sambil sedikit tertawa ujarnya. “Biarin” malah cuma itu jawaban yang keluar dari mulut yang tidak bisa diajak kompromi ini, rasanya malu sekali selalu Mei mei yang memulai bertanya, tapi masalahnya aku sangat grogi berada di dekat cewek se manis imut sebelahku ini padahal di benakku banyak pertanyaan-pertanyaan yang ingin aku tanyakan, dan lagi-lagi aku berkata-kata konyol ” nama kamu lebih garing, cuma diulang”. Duh! Bodohnya aku, mengapa aku malah berkata yang menyinggung? Rasanya aku ingin ditelan bumi saja. Tapi si gadis tidak tersinggung dia malah tertawa “iya yah, namaku lebih garing dan diulang”, aku pun memandang Mei mei kami berdua pun tertawa bareng, karena belum 10 menit berkenalan kami sudah saling ledek.

Waktu menunjukkan pukul 7 malam, Mei mei memutuskan untuk pamit, dia mengajakku untuk turun bareng hingga lantai satu, kami pun berpisah aku berbelok ke kanan, sedangkan Mei mei belok kiri setelah sebelumnya kami janjian akan bertemu lagi esoknya di tempat yang sama.

Mei-mei menepati janji, kami bertemu di lantai 3 gedung tempat kursus bahasa inggris. Kali ini Mei mei berpakaian serba cerah ceria baju warna kuning dengan rok warna hijau muda cocok sekali dengan kulit putihnya, namun sebaliknya dengan wajah cantiknya seperti sedang resah, seperti sedih dan menanggung beban. Aku pun bertanya kepadanya ‘kamu lagi sedih?’ Mei mei hanya mengangguk pelan. Cerita dong sama aku, siapa tau aku bisa bantu, Mei mei malah sesenggukan menangis dan aku merasa bersalah aku pasti telah menyinggungnya, aku mengutuk mulutku yang tidak bisa dijaga ini, gerakan Mei mei tiba-tiba membuyarkan lamunanku. Mei mei berlari dan melompati tembok ingin loncat begitu saja dari lantai 3 ini, namun refleks secepat kilat aku menyambar tangan Mei mei, aku sangat terkejut dengan situasi ini nyaris saja Mei mei terjun bebas seperti rokokku kemarin malam. Tanganku menjadi sangat dingin entah tangan Mei mei yang sangat dingin, yang pasti aku menahan tubuh Mei mei dengan tangan kananku, tangan kiriku menahan pada tembok sebagai tenaga untuk menarik Mei mei.

“Mei mei, kenapa kamu bertindak bodoh seperti ini?” Aku berkata sambil terengah-engah akibat dadaku yang sesah menahan tubuhku dan tubuhn Mei-mei.
“Lepasin tanganku Agas’ aku mau mati saja”
“Mei tenang, segala sesuatunya pasti akan baik-baik saja”
“Engga Gas’ lepasin aku mending mati saja aku telah dikhianati oleh kekasihku”
“Iya… (dengan sedikit nada kecewa karena Mei mei sudah memiliki kekasih) Mei, kita selesaikan ini bersama, aku janji akan membantumu, tapi tolong jangan seperti ini kamu bisa jatuh”.
Aku pun menarik kuat Mei mei dengan sisa tenaga yang ada dan entah tenaga darimana aku berhasil menarik tubuh Mei mei yang lunglai menggantung.
Lalu aku dudukan Mei mei di kursi panjang dan aku duduk sebelahnya, Mei mei mulai menangis menjadi “kenapa kamu menyelamatkan aku Gas?”
“Aku akan sangat menyesal kalau aku tidak menolongmu Mei”
“Tapi kenapa kamu menyelamatkan aku?”
Lalu entah aku spontan atau itu dari lubuk hati aku menjawab ‘karena aku sayang kamu Mei’. Seketika Mei mei memelukku dia lalu menyandarkaan kepalanya di bahuku Mei mei berkata lagi ‘kamu sungguh laki-laki yang baik Gas’ aku pun mengelus kepala Mei mei rambutnya halus sekali. Aku tidak tahu perasaan apa yang tiba-tiba seperti ini, rasanya aku sangat sayang sekali kepadamu Mei. Mei maukah kamu menjadi kekasihku? Biarkan bahuku menjadi sandaranmu, biarkan masalahmu menjadi problem untuk ku juga.
Mei mei tidak menjawab, tapi aku merasakan anggukan kepalanya. Dan aku merasa sangat bahagia dan sangat menyayangi Mei mei aku merasa harus melindungi dia.
Mei, besok setelah kursus kita ketemu disini lagi yaa, berjanjilah kamu akan menceritakan masalahmu dan aku berjanji akan membantumu. Mei mei kembali mengangguk sambil sesenggukan.

Aku memeluk Mei mei dan mengusap-usap kepalanya dan membisikan ‘Mei aku sayaang padamu sungguh’. Aku pun mengeratkan pelukanku pada Mei mei, namun entah bagaimana Mei mei menghilang. Mei mei yang baru saja aku tolong, Mei mei yang aku tarik tangannya dari aksi lompat dari lantai tiga ini, Mei mei yang baru saja aku bisikan kata ‘sayang’ tiba-tiba lenyap dari pelukanku. Aku pun memanggil-manggil namanya, dan semakin panik lalu aku berteriak sekencang-kencangnya.

Aku terbangun di kamar tidur kostku, melihat kalender bahwa benar ini hari sabtu, aku pun bergegas mandi dan menuju tempat kursus bahasa inggrisku, aku teringat ada janji dengan Mei mei hari ini, hari dimana ini adalah kencan pertama kami. Jam 7 malam aku sudah di lantai tiga gedung kursus bahasa inggris, menanti Mei mei gadis cantik yang menjadi kekasihku per kemarin. Hingga akhirnya waktu menunjukkan pukul 11 malam, Mei mei tak datang jua. Lalu minggu berikutnya.. Lalu minggu berikutnya.. Aku hampir putus asa, aku sangat rindu padanya, aku ingin sekali bertemu dengannya dan sering aku menunggunya tidak dihari sabtu saja, sepulang kerja jika tidak terlalu lelah aku mampir dan menunggu kedatangan Mei mei.

Suatu hari seorang penjaga gedung menghampiriku, dia bertanya kenapa aku rutin sekali datang dan nongkrong di lantai 3 hingga malam? Aku menjawab ‘saya menunggu pacar saya pak’. Lalu si penjaga tampak kebingungan, saya perhatikan dari awal mas disini selalu sendiri tidak pernah ada orang lain. Aku pun membantah ‘enggak pak, saya pernah 2 kali bertemu pacar saya disini namanya Mei mei kulitnya putih berambut sebahu, memanganya bapak tidak pernah melihat?.
Si bapak lalu tersenyum simpul sambil menepuk pundak aku dan berkata bapak kenal Mei mei itu pakai baju kuning kan? Ya bapak mengenalnya dulu, tapi dia sudah meninggal bunuh diri 12 tahun yang lalu, dengan loncat dari lantai 3 gedung ini. Kamu bukan yang pertama kali nak, dia cukup sering ‘menampakkan’ dirinya pada laki-laki yang dianggapnya baik.

Deg! Kepalaku mulai memberat dan semuanya terasa gelap. Aku sempat berucap lirih sebelum pingsan ‘Mei mei aku sayang padamu’.

Advertisements

Silahkan komen tapi karetnya satu aja *jangan pedes-pedes*

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s