0

Surat Kaleng


Bolehkah aku bercerita tentang dirimu kepadanya? Kau bilang tidak, tapi tetap aku ceritakannya…

Bolehkah aku membandingkan dia dengan dirimu? Kau belum sempat menjawab karena aku lebih dulu melakukannya…

Bolehkah aku berbagi cerita dengannya? Kau hanya tersenyum dan aku pun berlari bercerita padanya…

Bolehkah aku menyapanya untuk sekedar silaturahmi? Kau hanya diam, karena aku pun melakukannya dengan diam-diam…

Bolehkah aku sedikit merindukannya? Kau pun acuh, karena cuma aku yang merasakannya…

Bolehkah aku mengucapkan selamat ulang tahun untuknya? Kau bilang boleh, aku pun merangkai kata-kata manis untuknya…

” Pergilah sayang, janganlah kau sia-siakan waktumu untuk terus bertanya kepadaku kejarlah cintamu, dia menunggumu… ”

Bunyi surat dalam secarik kertas tanpa amplop hanya digulung dimasukan kedalam botol dengan namaku yang tertera di leher botol:
‘ Teruntuk: Adit ~Sang belahan jiwa~ ‘

Advertisements
0

Ledek-ledekan Berkelas ala Orang Berpendidikan


Zaman sekarang, orang-orang gw lebih senang sindir sampir ketimbang mengutarakan langsung apa yang menjadi maksud dan tujuan kita berbicara.  Tapi jarang ya gw berbuat hal yang kurang meyenangkan ini. Bukannya gaberani, tp gw sendiri gamau kalo digituin. Ahahaha… (Iya gw curang). Menyindir itu terjadi kalo gw mulai emosi banget alias kejepit (maksudnya terjepit) baru gw nyindir. Ehehehe…

Nah, ada juga orang yang suka meledek/ mengolok atau ledek-ledekan (iya itu juga termasuk sifat gw lagi) yang menurut bahasa Indonesia tindakan ini bermakna resiprok alias berbalasan. Perbuatan mengolok orang ini hendaknya *halah bahasanya* baiknya dibahasakan dengan diplomatis, agar apa? Agar kita yang ngeledek atau kalo lagi apes menjadi korban ledekan terlihat sebagai orang yang berpendidikan istilah gaulnya Educated People.

Ada kisah olok-olok tentang jenggot yang dialamatkan kepada orang Islam (khususnya) nah,orang yang mengolok ini sudah jelas orang yang tidak suka jenggot dan pembenci sunnah Rasulullah.

Bagi yang tidak mengolok tapi muslim tapi tidak tumbuh jenggotnya harap jangan tersinggung ya karena belum tentu yang tidak berjenggot itu tidak suka, bisa jadi yang tidak berjenggot memang tidak tumbuh dan belum tentu pula tidak memaksa untuk tumbuh meskipun dengan cara mencukur berkali-kali atau memakai obat penumbuh rambut.

Perkara jenggot ini mengacu pada maksud gw dari ledek-ledekan yg tampak Educated People itu seperti kisah orang-orang besar akan senda-gurau mereka ini dalam buku rumor Suetoyo M.D (1990) dengan judul “Orang-orang Terkenal di Dunia”. Di antaranya diceritakan tentang satu pertemuan yang dihadiri tokoh pergerakan kharismatik HOS. Tjokroaminoto dan Haji Agus Salim.

Sebelum acara dimulai pada saat Tjokroaminoto memasuki ruangan, tiba-tiba salah seorang pemuda langsung berdiri sambil berteriak:
“Siapa yang punya kumis, tapi tak punya jenggot?”
Teriakan anak muda ini dijawab serentak oleh perserta: “Kucing”.
Jawaban ini dialamatkan pada Tjokroaminoto, karena beliau berkumis tapi tidak berjenggot.

Lalu, Haji Agus Salim, masuk ke ruang pertemuan. Spontan si pemuda tadi kembali berteriak:

“Siapa yang punya jenggot, tapi tidak punya kumis?”
Dan kembali dijawab serentak oleh peserta: “Kambing”.
Jawaban untuk mengejek Haji Agus Salim, karena beliau memiliki jenggot tapi tidak berkumis.

Giliran Haji Agus Salim yang diberi gelar “THE GRAND OLD MAN” langsung oleh presiden RI Ir. Soekarno, dipersilahkan naik ke podium untuk berpidato. Sebelum memulai pidatonya, Agus Salim lebih dulu bertanya :
“Siapa yang tidak punya kumis dan tidak punya jenggot?” Petanyaan ini tidak ada yang menjawab, semua hadirin terdiam. Karena pertanyaannya tak ada yang menjawab. Maka Haji Agus Salim langsung memberi tahu jawabannya :
“Yang tidak punya kumis dan tidak punya jenggot adalah anjing.” Hadirin yang mendengar serentak tertawa.

Begitulah cara “orang besar” berdiplomasi dan membalikkan kata-kata. Mungkin Haji Agus Salim tidak bermaksud mengalamatkan jawaban pertanyaannya kepada anak muda itu, tapi karena anak muda yang berteriak tadi kebetulan tidak berkumis dan tidak berjenggot, maka ia merasa telah dipojokkan oleh Haji Agus Salim

0

Tunggulah Aku


Pandanganku menguning, semua yg aku lihat terasa bias dan kuning badanku dingin sekali jemari tanganku mulai kesemutan … Ah sial! Mulai lagi,aku tak mau seperti ini, aku tak mau terlihat konyol, aku tak boleh terlihat lemah, kumohon kuatkan aku… Sepertinya doaku sia-sia, semakin ingin aku berdiri tegar kakiku malah terasa seperti jelly,ayolah kumohon aku hanya perlu 3 menit untuk menjernihkan pikiran. Oh tidak… aku tak kuasa pandanganku mulai gelap dan hanya gelap dan semakin pekat.

Kau cantik seperti biasanya kulitmu halus sempurna bagai pualam, aroma tubuhmu juga wangi, rambut hitam dan lebat itu kau biarkan mayang mengurai kau pasti merawat mereka dengan baik. Segala hal tentangmu selalu bisa mempesonakan aku, namun ada yang tak biasa di pertemuan ini. Kali ini kau ‘mendengarku’ kau memberi kesempatan aku untuk menjelaskan semuanya, kau juga tersenyum saat aku mengatakan rencana-rencana hidupku, lain sekali dari biasanya. Biasanya kau tidak memberiku kesempatan untuk bicara, di hubungan ini hanya ada kau, keinginanmu dan teman-temanmu yang senang bersolek saja.
Ketika aku hendak bicara saat itulah kau mulai mengangkat tangan dan mengahalau agar aku diam, karena kau terlalu pusing untuk mengerti jalan pikiranku dan biasanya aku pun manut aku hanya diam. Tapi kali ini kau, ah aku tak bisa menggambarkannya dengan kata-kata, semua ini terlalu indah kau duduk manis mendengarkan aku, sungguh baik dan hangat. Kau pun menggenggam tanganku dengan lembut, aku pun mengecup keningmu penuh kasih.
Aku pun berdoa agar waktu jangan berlalu terlalu cepat, buatku ini moment membahagiakan selama kita menjalin kasih, aku berjanji mulai saat ini tak ada lagi luka, tak ada lagi duka
yang tersisa ialah bahagia yang ada di depan sana.
Uh, darimana datangnya angin ini? Tiba-tiba meniup begitu kencang sehingga melepaskan genggaman kami, dia sibuk membenahi rambutnya yang dibuat kusut oleh angin dan aku membuat tameng dari tanganku untuk mengahalau debu yang ditiupkan angin menerpa wajahku. Aku menoleh kepadamu, tapi kenapa kau menjauh? saat tanganku hendak meraihmu kau seakan tak tergapai. Ayolah, angin jangan kau merusak saat yang membahagiakan ini.

Samar-samar tercium aroma kayu putih, aku benci kayu putih aku tak suka aroma kayu putih malah membuat perutku mual.
Kudengar seseorang memanggil namaku, tapi dimana? Mengapa tanah ini berguncang-guncang? Aku terlalu pusing untuk membedakan apakah tanah yang berguncang ataukah badanku yang terguncang-guncang.

“Bima.. Bima.. Sadar dong”
Aku mendengar seseorang memamnggil namaku.
Aku melihat ke suatu titik cahaya, aku mencoba untuk membuka mata tapi rasanya silau sekali.

“Bima.. Ayo bangun, sadarlah bim”
Aku merasa pipiku ditampar-tampar, aku pun menggumamkan sesuatu rasanya sulit sekali aku untuk membuka mulut.

Akhirnya aku berhasil membuka satu mata, lalu menutup kembali, lalu membuka satu mata lagi lalu menutup kembali. Aku hanya melihat bayangan beberapa kepala mengerubutiku tapi aku tak mengenal satupun terlalu blur.

“Dinda… Aku memanggil kekasihku”
“Woy bim, sadar… Lo lagi mimpi tau”
“Hah?…”
“Lo lagi bermimpi” temanku yang bernama Aryo mengulangi kata-kata tepat di telingaku, seolah aku tuli.
“Dimana aku? Dinda mana?”
“Ini diruang pantry, tak ada Dindamu, lo tadi pingsan di koridor. Karena ruang pantry yang paling dekat jadi gw menyeretmu kesini”
Aku pun terduduk, mulai mengamati sekelilingku, wastafel, sendok garpu, gelas-gelas, kancing kemejaku terbuka bagian atas, ikat pingganggku juga melonggar, sepatuku terlepas dan uh! Aroma kayu putih di dada dan pelipisku, bau sekali!.

“Lo baekan kan?, gw tinggal ya?”
“Iya,iya terimakasih Yo'”

Sial, jadi aku pingsan. Ternyata Dinda tak menggenggam tanganku, Dinda tidak disini, tapi kenapa tadi itu terasa nyata sekali, aku bahkan masih bisa mencium aroma tubuhnya. Aku terlalu merindukan Dinda sepertinya. Pikiranku terlalu kalut akhir-akhir ini, masalahku dengan Dinda cukup menyita energi, aku tak bisa tidur, sering melamun, aku pun tak cukup makan. Aku bahkan tak ingat kapan terakhir kali aku makan.

Seandainya kau tahu Dinda, aku sungguh menyayangimu, tapi aku tak tahu bagaimana menunjukkan perasaan ini. Ingin rasanya seharian memelukmu, agar kau tahu perasaan yang ada didalam lubuk hatiku, aku memang belum menunjukkan padamu pengorbananku. Tapi aku sudah berniat aku hanya tak punya waktu, sejujurnya aku tak ingin memberikan waktu luang untukmu, karena aku tidak ingin menyulut pertengkaran, aku tak ingin rinduku berubah menjadi luapan emosi. Jadi aku hanya diam. Namun, diamku pun menjadi salah. Kau pun memutuskan untuk meninggalkanku karena diamku. Sulit sekali menjadi diriku, sesungguhnya aku ingin membahagiakanmu Dinda.

Ya, aku memang laki-laki pengecut. Aku bilang ingin membahagiakanmu tapi tindakanku tidak mengatakan demikian, aku bilang aku berusaha memberikan yang terbaik lagi-lagi aku tak bisa memberikan bukti, aku tak pernah memulainya untuk memberikan yang terbaik itu. Mungkin kau selalu berharap-harap dapat kabar dariku, itu pun tak pernah aku berikan.
Ketahuilah aku sangat menyayangimu. Maukah kau memberiku kesempatan untuk memulai semua dari awal? Dan maukah kau terluka sekali lagi untukku? Dengan menungguku, menunggu hingga batas waktu yang tidak bisa ditentukan.

1

KehilanganMu


Ada hati yang terus menerus dilukai dan menggerus perasaan hingga menimbulkan kegelisahan dan kesedihan tiada terkira, membuat air mata menetes dan merasakannya hingga mengering.

Pelajaran apa yang dapat diambil dari semua ini?
Apakah manusia harus menjadi orang yang kuat?
Apakah manusia tidak boleh gampang sakit hati?
Apakah manusia harus menjadi orang sabar?
Lalu, untuk apakah sabar itu?
Dimana sabar itu disaat manusia mulai lelah dengan badai yang menerjang?

Bolehkah mati saja?
Bisakah Engkau mengampuni orang-orang yang menyerah di tengah lelahnya perjuangan hidup? Karena setidaknya mereka sempat berjuang.

Jika manusia yang menyerah lalu tak kau ampuni, maka saat manusia meneteskan air mata bisakah Kau berkata … Tersenyumlah.

0

Tiga Kota Satu Keabadian


“Selamat natal sayang” ujarku sambil membersihkan tangan yang berlumur noda merah pekat.

Aku melakukannya dengan cepat dan presisi! Hampir saja aku meleset, kalau saja aku tak meneguhkan niat ini rencanaku hampir saja gagal.

Kala sepersekian detik dia mengembangkan senyum paling indah yang pernah aku lihat seumur hidupku. Saat itulah aku lengah, dia tahu aku menyerah pada senyum tulus itu dan dia tahu aku jatuh cinta oleh senyum itu. Tapi kali ini aku tidak akan kalah, tekadku sudah bulat.

Kau menjatuhkan tubuhmu kepadaku, dan aku merasakan cukup sekilas kau mengalungkan lenganmu padaku seolah kau tak percaya namun tetap pasrah padaku.

Ada rasa hangat di tangaku, aku yakin itu darahmu yang merembes melalui bajumu kemudian pada belati yang aku gengggam, belati yang aku hunuskan tepat di jantungmu, kau memang membuka mulutmu tapi kau tidak bersuara sedikitpun, sesuai sekali dengan rencanaku.
Ah, kau memang gadisku yang manis.

Nira, aku teramat sangat mencintaimu. Bawalah hatimu yang hanya untukku dalam keabadian. Dengan begitu aku tidak akan melukai mu lagi, dan kau tak perlu menangis karena luka dihati bukan?

~Bandung, Desember 2088

Dikota inilah yang aku sebut sebagai ‘pelarian’, pelarian atas rutinitas kerja yang tiada habisnya, tekanan yang membuat jiwaku semakin terbelenggu, di kota ini beban hidupku serasa ringan aku merasa tentram.

Kenangan masa kecilku disini, teman-temanku yang selalu menyambut dengan hangat kapanpun aku pulang, mereka pasti hadir untuk menghiburku menemaniku bernostalgia.

Bagaimana mungkin aku tidak bisa menyebut kota ini sebagai ‘rumah’. Ya, rumah yang selalu menentramkan hatiku.

~Yogyakarta, Agustus 2088

Tidak perlu susah-susah makan kambing agar tensi darah menjadi tinggi, cukup tinggal dikota ini otomatis tensimu akan naik, bagaimana tidak? Kota ini panas sekali, aku kira matahari hanya berjarak sejengkal dari kota dimana aku berlomba-loma mengais rezeki ini.

Ritme kerja orang-orang disini sangat cepat, saking cepatnya kau tidak akan sempat mengobati luka akibat ‘disikut’ rekan-rekan kerjamu. Tidak ada waktu untuk bermalas-malasan disini. Hanya dua hal yang perlu dikerjakan disini; mengejar jabatan dan mengumpulkan Harta, disinilah tempatnya.

Tak perlu ibadah karena tidak mungkin ada waktu,andalkan saja istrimu atau keluargamu untuk mendoakanmu, maka garansinya tak perlu diragukan. Tak perlu pula berkasih-kasihan disini yang ada kau hanya memberikan harapan kosong. Tapi buatku, selalu ada rindu untuk dia.
Bodohnya dia selalu mencintai aku yang brengsek ini, dia selalu menungguku, dia selalu menyisakan cinta dengan tulus yang membuatku semakin merasa bersalah.

Nira, aku punya kejutan untukmu di hari natal nanti. Aku janji aku tidak akan membuatmu menungguku lagi.

~Semarang, Juli 2088

6

Masihkah Surgaku Di Telapak Kakimu?


Entah kata ‘maaf’ itu masih berfungsi atau tidak? Barangkali maafku sudah tidak ada artinya lagi, maaf yang tidak berguna, maafku hanyalah comotan abjad yang dirangkai sehingga terdapat huruf vokal dan konsonan yang tak lebih agar terdengar apik oleh indra pendengar. Maaf yang hanya berfungsi sebagai formalitas.

Aku yang belum bisa membangganku mu.
Saat kau ingin ongkang-ongkang kaki sambil menggendong cucu,aku pun belum bisa memenuhi keinginanmu.
Kau mulai kesal karena malu saat anak seusiaku bahkan jauh dibawah usiaku ini mulai membagikan undangan, dan kau bertanya-tanya kapan giliranmu menjadi seorang mertua.
Kini kau merasa tua padahal aku bilang belum, tapi kau tidak percaya. Yasudah… kau pun sering mengeluh nyeri ini itu, aku bilang aku akan membawamu ke dokter untuk mengobatimu, kau bilang tidak perlu. Kau lebih senang jika aku yang merawatmu, kau selalu senang jika aku memijatmu. Tapi kau bilang sudah seharusnya aku memijat orang lain, entah apa maksudmu.
Mengapa akhir-akhir ini kau sering memintaku dan mengomeliku bahkan mendesakku untuk merencakan “kapan” hal yg sakral itu tiba? pembicaraan pun menyulut pertengakaran dan berakhir imbang yaitu sama-sama menangis.

Percayalah, akupun ingin menghadirkan sosok lelaki yang kelak aku sebut sebagai ‘suami’
Bukan niatku memutuskan menjadi seorang Al Batul, sungguh bukan… Hanya saja aku seorang perempuan,yang menutup rapat hatinya oleh seseorang yang sedang bermain-main dengan perasaanku kini.

Ibu,
Maafkan aku…

~ Dari anak perempuanmu yang belum bisa membahagiakanmu.

0

Tips Menunggu Menjadi Menyenangkan


Dimana-dimana dan sudah disahkan oleh siapapun menunggu itu adalah hal yang paling membosankan!
Jangan bilang engga deh, pasti kalian pernah ngalamin. Dijamin! Ya kan? Pernah kan? Inget-inget deh, pasti pernah *maksa banget*.
Dan sudah dituangkan oleh band Zifilia yang di lagu dengan judul Aishiteru, bunyi penggalan liriknya gini :
” Menunggu sesuatu yang sangat menyebalkan bagiku… ”
Nah kan? Bener kan? Bener gada bunyinya kan? *wakakaaakk

Emberan cyin… Yang namanya nunggu itu ga ngenakin banget, mau tau tips biar nunggu jadi enak? Nah, silahkan ke tukang pijet plus terdekat langganan anda, pasti enakan setelahnya (buat yg masup angin).

Oke serius *pasang tampang Gogon*
nih sedikit tips buat orang yg nunggu :
1. Cari warung terdekat, terus jajan 😀 sapatau nemu kuliner yg maknyus (lumayan kan selain bikin perut kenyang, jd nambah referensi kuliner Indonesia) *lebay. Buat yg terbiasa ngudut mangga tinggal beli di warung tancap sebal-sebul (katanya ngerokok sambil nunggu itu rasanya boros *eh* nikmat) wekekek.
2. Bikin karya! Nah, biasanya nunggu itu apalagi lama bikin orang esmosi, nah disitulah biasanya karya-karya muncul. Supaya karya tersebut gak ngilang/ kelupaan maka tulislah karya itu sebelum menguap hilang dari pikiran.
3. Waktunya untuk tidur-tidur ayam, tidur-tidur kucing juga boleh klo penyayang kucing *halahh*, kalo istilah sundanya nundutan uda paling enak banget lah buat dipake tidur2 bentar.
4. Kalo gada tempat yg proporsional buat tidur-tidur ayam trus ga ada ide-ide yg muncul, silahkan wirid *jurus pamungkas* (ajiyeeehh alim).

Nah kan, Menunggu itu
menyenangkan bukan?
Bukaaaaaann…!!